Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Pusaka Raja Semut


__ADS_3

Saat ini Madika telah mengeluar-kan sebuah bola bercahaya dari dalam tubuh raja monster semut itu, setelah itu bola bercahaya itu pun mendekat ke arah Madika.


Madika yang melihat bola itu mendekati-nya kini langsung mengangkat tangan kanan-nya ke arah bola itu karena saat ini Madika berpikir bahwa kemungkinan bola itu adalah senjata pusaka yang menyerupai pedang, tombak, atau semacam-nya.


Tak butuh waktu lama, kini bola bercahaya itu pun langsung mendekat ke tangan Madika, dan ketika bola itu berada di tangan Madika, kini bola itu pun langsung berubah menjadi sebuah pedang bermata satu yang tampak berwarna hitam padu merah.


Pedang itu merupa-kan senjata pusaka yang berasal dari raja monster semut itu.


Ketika Madika menyentuh pedang itu, kini segala macam jurus yang ada di dalam pedang itu langsung masuk ke dalam ingatan Madika, seolah-olah pedang itu sedang memberi-kan sebuah ingatan pada Madika.


Proses itu berlangsung dalam waktu satu menit, dan saat proses itu berakhir, kini Madika pun langsung tersenyum puas karena saat ini ia telah mengetahui semua jurus yang bisa ia keluar-kan dari pedang pusaka raja monster semut itu.


"ini benar-benar luar biasa!" ucap Madika sambil tersenyum tipis.


lalu Madika pun kini menoleh ke tempat pertarungan kedua harimau api milik-nya saat ini.


"hmm.... mereka sudah selesai juga ya." ucap Madika dalam hati dan kemudian langsung mengeluar-kan sayap angin-nya dan terbang mendekati Aurel dan Askila.


Setelah Madika tiba di depan Askila dan Aurel, kini Aurel pun langsung menghilang-kan perisai angin milik-nya itu.


"apa kalian baik-baik saja?" tanya Madika.


"ya.... kami baik-baik saja." jawab Askila yang kini berjalan mendekati tuan-nya itu.


Sementara itu Aurel kini tampak ragu-ragu berjalan mendekati Madika.


"ehmm...." Aurel bergumam sambil memaling-kan pandangan-nya dari Madika saat ia sudah berada dekat dengan Madika.


"a.... aku minta maaf karena sudah membawa masalah pada kalian!" ucap Aurel dengan cepat dan segera menunduk meminta maaf pada Madika dan Askila.


Saat ini Aurel berusaha agar Madika tidak marah pada diri-nya, hal itu di karena-kan diri-nya saat ini takut dengan Madika yang kekuatan-nya jauh di atas diri-nya.


"jika dia sampai marah dan berniat membunuh-ku, maka tamat-lah riwayat-ku." ucap Aurel dalam hati.


Sementara itu, Madika yang melihat hal itu kini merasa-kan sesuatu yang aneh dari gadis itu.

__ADS_1


tatapan Madika seketika langsung menatap tajam ke arah Aurel yang masih menunduk dan meminta maaf pada-nya saat ini.


Madika saat ini terdiam cukup lama sambil menatap Aurel dengan tatapan tajam-nya itu.


hingga akhir-nya Madika pun tersadar setelah Askila menegur-nya.


"apa ada masalah tuan?" tanya Askila sambil menoleh ke arah tuan-nya yang saat ini berada di samping-nya.


"hmm...." Madika hanya bergumam dan langsung berhenti menatap Aurel dengan tatapan tajam.


"tidak ada masalah.... aku hanya sedang kepikiran sesuatu." jawab Madika.


"jika ada yang salah silang-kan anda beritahu pada-ku, biar aku yang mengatasi-nya." ucap Askila menanggapi jawaban tuan-nya.


"hmm...." Madika hanya bergumam sambil mengangguk mendengar ucapan Askila barusan


"hei Aurel, apa kau tak bisa mengontrol aura Saga-mu?" tanya Madika dengan serius.


Seketika Aurel pun langsung terkejut saat Madika menanya-kan hal itu.


"a.... aura Saga?" ucap Aurel yang terdengar seperti tidak mengetahui tentang aura Saga.


"ahh.... benar juga, sedari tadi aku bisa merasa-kan aura Saga dari tubuh-mu, namun karena aura itu sangat lemah jadi itu tidak mempengaruhi-ku sama sekali." timpal Askila yang baru menyadari hal itu.


"aku tidak tahu tentang aura Saga yang kau maksud itu.... tapi jika kau terganggu dengan hal itu sekali lagi aku minta maaf." ucap Aurel yang masih menunduk dan kembali meminta maaf.


"hah?.... maaf?.... apa itu maaf?" ucap Madika dengan suara yang terdengar seperti orang yang sedang kesal serta tiba-tiba langsung pasang ekspresi datar dan terkesan seperti orang yang kejam.


"ya, ampun, apa dia benar-benar marah sekarang?" ucap Aurel yang masih menunduk dan tak berani menatap Madika.


"a... aku minta maaf.... tolong ampuni aku!" ucap Aurel lagi sambil mengangkat kedua tangan-nya dan memohon pada Madika.


"kau sudah membawa masalah besar di sini, dan gara-gara kau juga hewan peliharaan-ku jadi lemah seperti ini!" ucap Madika dengan tegas sambil menunjuk ke arah Askila.


"oi oi..... aku sama sekali tidak lemah woi.... hanya kebetulan kehabisan energi saja.... jadi jangan sebut aku lemah." ucap Askila dalam hati sambil menatap Madika dengan tatapan malas.

__ADS_1


Mendengar ucapan Madika itu, kini Aurel pun jadi semakin ketakutan.


ia pun langsung berlutut di depan Madika.


"to.... tolong maaf-kan aku.... a.... aku akan melakukan apa saja yang kau ingin-kan jika kau memaaf-kan ku!" ucap Aurel dengan nada yang terdengar sedikit ragu-ragu saat mengata-kan tentang melakukan apa pun untuk Madika.


"ohh.... begitu ya.... apa pun itu kau akan melakukan-nya ya kan?" ucap Madika memasti-kan sambil tersenyum licik menatap Aurel.


"y..... ya.... aku akan melakukan-nya." jawab Aurel yang sedikit ragu bahkan sempat menelan ludah kasar saat mengucap-kan hal itu.


"kalau begitu sekarang buka seluruh pakaian-mu, aku ingin memuas-kan diri dengan tubuh-mu!" ucap Madika dengan ekspresi mengancam serta tatapan tajam yang mengintimidasi.


Aurel yang melihat tatapan yang sangat menakut-kan itu pun kini tak bisa berbuat apa-apa.


sekali pun ia lari ia yakin itu tidak akan bisa.


"hari ini aku benar-benar sangat sial!' ucap Aurel dalam hati.


Aurel kini merasa sangat kesal karena harus bertemu dengan orang seperti Madika yang ternyata sangat kejam dan tidak ada ampun sama sekali.


Hal itu pun memaksa Aurel untuk pasrah dengan keadaan saat ini.


dengan raut wajah yang kini tampak sedih serta ingin menangis Aurel pun mematuhi perkataan Madika.


"baiklah." jawab Aurel dengan suara lirih sambil mulai membuka baju lapisan pertama milik-nya.


Saat Madika melihat hal itu, Madika pun langsung berpaling ke arah yang lain dan tak mau melihat Aurel yang saat ini mulai membuka baju-nya tepat di depan-nya.


"ini parah sih ini...." ucap Madika dengan ekspresi malas.


Sementara itu, Askila yang melihat Aurel mematuhi ucapan Madika kini langsung berbalik badan karena diri-nya juga tak ingin melihat gadis itu.


bahkan Askila pun berpikir bahwa tuan-nya itu benar-benar akan melakukan hal itu pada Aurel sehingga dengan alasan itu lah Askila langsung membelakangi Aurel dan Madika.


Kini Aurel hendak melepas-kan baju lapisan kedua-nya, dan kalau lapisan kedua itu terbuka, maka sudah jelas tubuh Aurel tidak akan tertutupi kain lagi.

__ADS_1


Namun belum sempat Aurel membuka baju lapisan kedua-nya itu, kini Madika pun berjalan melewati Aurel.


"tidak perlu melanjutkan-nya.... aku hanya bercanda." ucap Madika yang kini berdiri membelakangi Aurel.


__ADS_2