
Saat ini Madika yang berada di dalam dimensi bayangan melihat Axel kini sudah tak bedaya lagi dan tampak sudah tak bisa berdiri karena luka yang ia alami saat ini.
Setelah melihat keadaan Axel, kini Madika pun langsung menoleh ke arah naga es milik Axel itu.
Naga es itu saat ini terlihat sedang di rantai menggunakan rantai api milik Bunggu.
Rantai api itu terlihat melilit kedua kaki naga es itu serta melilit seluruh tubuh bahkan mulut si naga agar tidak menyemburkan es atau semacamnya dari dalam mulutnya itu.
"Apa dia benar-benar sudah tak bisa bergerak sekarang?" Tanya Madika tampak menoleh ke arah Bunggu.
"Tenang saja tuan, naga es ini sudah terikat dengan sangat kuat dan dia juga tidak bisa lepas dari lilitan rantai api milikku saat ini." Jawab Bunggu meyakinkan.
"Memang sih, lagi pula kekuatan kalian memang berbeda dan kau jauh lebih kuat dari naga es ini." Ucap Madika sambil berjalan mendekati naga es itu.
"Sialan kau! Apa yang kau mau lakukan terhadap peliharaan-ku?!" Bentak Axel yang tampak kesal menatap Madika.
"Kau tak perlu banyak tanya! Lebih baik kau terus saja tiduran di sana!" Ucap Madika sambil memunculkan aura membunuhnya yang sangat menakutkan dan memiliki tekanan yang kuat.
Seketika aura membunuh Madika itu pun langsung menimpa Axel dan membuat Axel merasakan tubuhnya seolah di timpa oleh sesuatu yang sangat berat, dan di saat yang bersamaan Axel pun langsung terbatuk-batuk dan dari mulutnya keluar cukup banyak darah.
Melihat hal itu si naga es itu pun langsung terlihat sangat kesal pada tindakan Madika.
Naga itu langsung meraung keras tanpa membuka mulutnya.
Suaranya terdengar cukup kuat meskipun mulutnya sedang di ikat.
Naga itu kini terus mencoba memberontak, ia mulai menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya dan mencoba mengendorkan lilitan rantai api itu.
Namun sayangnya lilitan itu sama sekali tidak kendor dan malahan si bunggu yang melihat tindakan naga itu kini langsung mengeratkan lagi lilitan-nya itu dan membuat lilitan rantai api semakin kuat dan membuat tubuh naga itu langsung kesakitan.
ARRGGGHH!!!
Naga itu berteriak kesakitan. Suaranya keras namun mulutnya tetap tidak terbuka.
Ia terus berteriak sambil memberontak.
Naga itu tampak terus meronta-ronta mencoba membuat rantai itu kendor namun usahanya benar-benar sangat sia-sia.
Madika yang melihat tingkah naga itu pun kini hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudah ku duga, ini tidak akan semudah yang ku pikirkan!" Ucap Madika dalam hati sambil menghela nafas panjang.
"Sepertinya kau harus di kasih paham dulu baru bisa diam!" Ucap Madika saat dirinya kini berdiri di depan naga itu.
Sementara itu, si naga es yang saat ini masih dalam keadaan terikat tampak mulai mencoba menerkam Madika meskipun ia tahu itu tidak akan bisa karena mulutnya sedang di lilit oleh rantai yang sangat kuat.
Naga itu pun kini hanya bisa meraung dengan suara keras tepat di depan wajah Madika.
Madika yang melihat hal itu kini langsung menggunakan tinju anginnya dan menghantamkan tinjunya ke wajah naga es itu dengan sangat kuat.
DUAAARRRR!!
Ledakan angin di sertai hentakan energi yang terjadi saat pukulan tinju angin Madika menghantam wajah naga es itu kini langsung bergerak meluas dari titik pusatnya.
Hentakan energi yang di sertai gelombang angin itu membawa tekanan yang cukup kuat di udara.
Setelah melepaskan satu tinju ke wajah naga es itu, kini Madika pun langsung membuka segel tingkat legendaris milik-nya dan dengan segera Madika pun langsung menyebarkan aura Saga tingkat legendaris milik-nya.
Seketika aura membunuh dari aura Saga itu langsung terasa di sekujur tubuh si naga es itu.
Tidak hanya itu saja, aura membunuh yang sangat mengerikan itu juga memberikan tekanan yang sangat kuat pada lawan yang ia tujukan saat ini.
Hal itu pun membuat si naga es itu kini langsung tertunduk dan terduduk.
Sementara itu, Axel yang saat ini merasakan aura Saga tingkat Legendaris milik Madika kini hanya bisa terkejut dengan ekspresi wajah yang terlihat terkejut dan matanya langsung terbelalak dan mulut-nya menganga.
"Ti... Tingkat legendaris?!" Ucap Axel dengan wajah yang tampak terkejut dan seolah tidak percaya akan apa yang di lihatnya saat ini. "Bagaimana mungkin?!... Siapa sebenarnya orang ini?!" Ucap Axel.
Setelah Madika membuat si naga es tak berkutik dengan kekuatan tingkat Legendaris miliknya, kini Madika pun langsung menunduk dan kemudian meletakkan tangannya di atas kepala si naga es itu.
"Maaf, sepertinya aku tertarik dengan nagamu ini, jadi aku akan mengambilnya sekarang juga." Ucap Madika tanpa menoleh ke arah Axel.
Mendengar perkataan Madika, seketika Axel pun langsung terlihat kesal. Namun dirinya sama sekali tak berdaya dan tak bisa menahan Madika, apa lagi saat ini ia bisa merasakan bahwa Madika benar-benar sudah berada di tingkat legendaris, yakni tingkatan yang tidak akan mungkin bisa ia hadapi saat ini.
Akhirnya Axel pun tak punya jalan lain lagi selain memohon pada Madika.
"To... Tolong jangan ambil naga-ku." Ucap Axel dengan suara yang terdengar memohon meskipun masih sedikit berat baginya untuk mengucapkan kata-kata itu.
"Aku akan berikan apa pun yang kau mau, asalkan kau tidak mengambil naga-ku!" Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Tenang saja, setelah ini aku akan mengambil apa pun yang ku mau dari-mu, jadi persiapkanlah dirimu sekarang juga." Ucap Madika yang masih belum menoleh ke arah Axel.
Setelah berkata seperti itu, kini Axel yang mendengar ucapan Madika barusan langsung meneteskan air mata dan menangis.
"Sialan kau! Naga itu satu-satunya peliharaan terkuat-ku! Jika kau mengambilnya maka aku tak akan punya kekuatan lagi untuk melawan orang-orang rendahan di kerajaan ini!!" Bentak Axel dengan putus asa.
"Itu urusan mu, jadi jangan bawa-bawa aku... Aku di sini hanya untuk mengambil barangmu, sama seperti kau yang sudah banyak merampas hak milik orang lain!" Ucap Madika.
Lalu Madika menoleh ke arah Axel.
"Jadi sekarang kau jangan heran lagi, karena ini semua adalah karma bagimu." Ucap Madika.
Madika tentunya bukan orang yang kekurangan informasi.
Sebelum datang ke kota ini, ia sudah mengumpulkan banyak informasi tentang kerajaan ini serta rumor-rumor yang beredar di sekitaran kerajaan ini.
Melalui perantara anak gadis Karu Nemosu di pertemuan sebelumnya Madika bisa mendapatkan banyak informasi, bahkan Madika juga telah mengetahui informasi rahasia tentang hubungan keluarga Nemosu dengan kerajaan Doroko ini.
Berdasarkan cerita yang di beritahukan oleh Delisa Nemosu, yakni anak perempuan dari Karu Nemosu, katanya salah satu pemimpin kota kerajaan Doroko ini adalah pamannya Delisa dan Delisa juga merupakan orang yang sering berkunjung di kota kerajaan Doroko ini sehingga ia tahu banyak tentang kerajaan ini bahkan ia juga tahu banyak tentang orang-orang yang berpengaruh di kota ini.
"Aku sudah dengar banyak hal tentangmu, dan semua itu adalah hal-hal yang buruk!" Ucap Madika dengan ekspresi datar.
"Kau adalah tipe orang yang suka merebut sesuatu dari orang lain, dan dengan memanfaatkan kekuasaan ayahmu kau bebas bertindak semena-mena terhadap orang-orang kecil yang selalu kau sebut sebagai orang-orang rendahan itu... Tapi kali ini kau tidak akan bisa berbuat seperti itu lagi, karena hari ini, dan di tempat ini, akan menjadi sebuah kuburan bagimu." Ucap Madika.
Axel yang mendengar semua yang di katakan oleh Madika itu pun kini hanya bisa terdiam dan menganga.
Hingga akhirnya ia pun kini langsung memohon ampunan dari Madika serta berusaha untuk membujuk Madika untuk tidak membunuhnya.
Berbagai macam kata-kata manis terucap di bibir Axel, namun itu semua tak ada artinya di hadapan Madika.
Kini Madika pun langsung memulai perbuatan hewan monster untuk di jadikan sebagai hewan peliharaan itu.
Madika pun mulai merusak segel tuan dan peliharaan milik Axel yang saat ini tertanam di dalam tubuh naga es itu.
Jurus penghancur segel pun langsung bekerja dan mulai menghancurkan segel hewan peliharaan itu.
Tampak energi Saga yang meluap-luap dari tubuh Madika mengalir ke kepala naga es itu.
Si naga es itu pun langsung meraung kesakitan akibat proses penghancuran segel secara paksa itu.
__ADS_1
Namun Madika tidak mempedulikan hal itu. Madika terus mengalirkan energi Saganya untuk menghancurkan segel itu.
Ia mengabaikan raungan naga es itu dan terus fokus agar jurus yang ia gunakan saat ini bisa bekerja dengan baik.