
Serangan badai angin kini membuat tetua Akina mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya. Namun berkat kegigihannya kini jurus yang ia siapkan itu sudah berada di tahap 95% dan tidak akan lama lagi akan segera di gunakan.
"Tidak akan ku biarkan kau terus mempermainkanku bocah!" Bentak tetua Akina.
Namun, baru saja berkata seperti itu, kini kedua tangan tetua Akina langsung terpotong dan jatuh ke lantai.
Seketika itu juga tetua Akina pun langsung melotot dengan ekspresi tidak percaya.
Jurus yang susah payah ia siapkan kini lenyap begitu saja saat kedua tangannya terputus akibat serangan dari badai angin yang sangat tajam dan tidak biasa.
Dalam keterkejutannya itu, kini Madika pun muncul di belakang tetua Akina.
Ia kemudian memegang kepala tetua Akina dari belakang sambil berkata;
"Selamat tinggal." Ucap Madika dengan nada suara yang datar.
~DUAAARRRR!!~
Seketika kepala si tetua Akina pun langsung meledak begitu saja dan membuat seluruh isi kepalanya berserakan di atas pasir.
"Hah... Akhirnya selesai juga!" Ucap Madika dalam hati setelah menghela nafas panjang.
Setelah mengalahkan tiga tetua klan itu, kini Madika pun langsung keluar dari wilayah domain miliknya.
Begitu Madika melenyapkan wilayah domainnya, kini seluruh anggota klan yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam dan terkejut karena kini mereka melihat bahwa tetua mereka sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
"Ap... Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kenapa tiga tetua muncul dalam keadaan tidak bernyawa?"
"Apa yang sudah terjadi di dalam sana sebelumnya?"
"Jangan-jangan bocah ini jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan?!"
"Mana mungkin seperti itu!"
"Kalau tidak mungkin lalu bagaimana kau mau menjelaskan situasi ini?!"
Berbagai ocehan para anggota klan kini terdengar.
Kegaduhan memenuhi seluruh tempat itu.
__ADS_1
Ada yang mulai ketakutan dan menimbulkan kecemasan di antara mereka, ada yang berusaha untuk tetap optimis dan tidak menyerah dan ada pula orang yang sama sekali tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.
"Biar ku tanya sekali lagi!" Ucap Madika dengan suara tegas dan di dengarkan oleh semua orang.
Semua orang pun langsung terdiam dan mengarahkan perhatian mereka kepada Madika.
"Apakah sekarang kalian masih ingin bertarung denganku atau tidak?... Jujur saja aku sudah tidak ingin membunuh lebih dari ini!" Ucap Madika memberi mereka pilihan.
Namun sayangnya pilihan yang di berikan oleh Madika sama sekali tidak di indahkan oleh mereka.
Mereka kini lebih memilih untuk bertarung sampai mati daripada memilih untuk menyerah pada Madika.
"Tentu saja kami akan bertarung!!... Semangat klan petir tidak akan padam!!" Teriak salah petinggi klan sambil mengangkat pedang halilintar miliknya.
Lalu mereka semua pun langsung melepaskan penghalang yang mereka buat sebelumnya, dan segera setelah itu mereka pun langsung maju menyerang Madika.
Madika yang melihat hal itu pun kini langsung memunculkan pusaka raja monster semut miliknya, yakni sebuah pedang.
Ia kemudian mengangkat pedang itu ke udara, dan tak butuh waktu yang terlalu lama, kini ribuan monster semut pun langsung bermunculan di udara.
Lalau Madika pun segera menargetkan semua orang yang ada di tempat itu agar para monster semut miliknya itu menyerang mereka semua dengan bebas tanpa harus di kendalikan secara manual oleh Madika.
Kini pun langsung menebaskan pedangnya ke arah para anggota klan petir itu dan seketika itu juga seluruh pasukan semut monster Madika langsung berhamburan dan menyerang seluruh pasukan klan petir.
Tidak cukup sampai di situ saja, Madika kini juga langsung mengangkat tangan kanannya ke samping dan mulai memunculkan sebuah lingkaran energi yang cukup besar.
"AAUUUUUUHHH"
Seketika terdengar suara lolongan yang sangat kuat dari dalam lingkaran energi itu, dan tak butuh waktu lama kini sosok Askila si serigala petir pun keluar dari lingkaran energi itu dan ia langsung menunduk di depan tuannya.
"Sudah lama anda tidak memanggilku tuan." Ucap Askila yang setelah itu kembali berdiri tegak layaknya serigala pada umumnya.
"Uhm... Itu benar... Sekarang aku tak perlu menjelaskan tugasmu, jadi kau bisa langsung saja melakukannya." Ucap Madika dengan tenang.
"Siap tuan!" Balas Askila yang langsung merespon.
Setelah itu Askila kembali melolong dengan sangat kuat.
Setelah itu ia pun segera bergabung dengan para monster semut itu untuk melawan para pasukan dari klan petir.
Pertarungan besar antara Madika dan klan petir pun pecah.
__ADS_1
Berbagai jenis serangan di lancarkan oleh para pasukan klan petir untuk mengalahkan pasukan semut milik Madika.
Namun sayangnya beberapa serangan mereka ada yang bisa di hindari oleh para monster semut itu.
Monster semut yang Madika munculkan itu benar-benar memiliki kemampuan unik karena mereka tidak hanya menyerang saja, tapi juga bisa menghindari serangan layaknya di kendalikan secara manual.
Para anggota klan petir banyak yang menjadi korban.
Meskipun begitu, para monster semut milik Madika pun juga banyak yang terbunuh oleh para pasukan klan petir itu.
"Seperti yang ku duga, klan petir memang luar biasa!" Ucap Madika dalam hati.
Saat ini Madika bisa memastikan bahwa kemenangan ada di tangannya.
Meskipun banyak dari pasukan semutnya yang tumbang, namun ia bisa melihat bahwa jumlah pasukan dari klan petir juga sudah banyak berkurang karena banyak yang terbunuh.
Hal itu membuat Madika yakin bahwa kemenangan pasti akan menjadi miliknya.
Akan tetapi ia merasa bahwa itu akan sedikit memakan waktu lama.
Jadi Madika pun berinisiatif untuk segera mengakhiri semua ini dengan cepat.
Lalu Madika pun kini kembali terbang ke udara menggunakan sayap anginnya.
Begitu berada di ketinggian yang cukup bagus, kini Madika pun langsung memunculkan sebuah singgasana yang sangat mewah yang saat ini melayang di udara.
Singgasana itu tidak lain adalah sebuah benda pusaka yang di sebut sebagai Singgasana Harimau Api.
Singgasana itu di jaga oleh dua harimau api di sisi kiri dan kanannya.
Madika yang melihat singgasana itu kini berjalan santai menuju singgasana itu.
Lalu ia pun segera duduk bersantai sambil menopang dagu di singgasana harimau api itu.
Setelah duduk bersantai, kini Madika pun langsung memerintahkan salah satu harimau api itu untuk menyerang seluruh pasukan klan petir itu.
"Alfa, serang mereka semua!" Ucap Madika yang sebelumnya sudah menargetkan seluruh pasukan klan petir agar Alfa hanya akan menyerang seluruh pasukan klan petir saja.
Alfa pun langsung menundukkan kepalanya dengan patuh, dan kemudian ia segera turun dari singgasana itu serta segera maju dan menyerang para pasukan klan petir itu tanpa ampun.
Sementara itu, Madika tetap membiarkan omega di sampingnya agar supaya omega bisa melindunginya jika tiba-tiba ada yang menyerang dirinya.
__ADS_1