
Madika kini tampak mulai menetral-kan racun yang masuk ke tubuh gadis itu, ia menggerak-kan kedua tangan-nya yang saat ini di penuhi oleh gumpalan energi Saga.
Tak lama setelah itu, kini tubuh gadis itu langsung memancar-kan cahaya biru yang berasal dari energi Saga milik Madika.
Setelah cahaya biru itu terpancar-kan, kini Madika pun menghenti-kan pengobatan-nya karena sudah selesai.
Kemudian Madika pun langsung mengambil ramuan yang ia simpan di atas meja dekat ranjang itu.
"minum-lah ini." ucap Madika sambil menyodor-kan sebotol ramuan pada gadis itu.
"apa ini?" tanya gadis itu sambil meraih sebotol kecil ramuan itu.
"itu ramuan yang ku racik sendiri..... ramuan itu akan mempercepat pemulihan luka dan membantu memperbaiki kembali jaringan-jaringan tubuh yang rusak akibat racun yang menggerogoti tubuh-mu." jawab Madika dengan ekspresi datar sambil mengeluar-kan gunting dan perban dari ruang penyimpanan-nya.
Gadis itu tampak sedikit ragu dengan jawaban Madika, dan itu membuat-nya tidak mau langsung meminum ramuan itu.
ia berpikir bahwa dalam keadaan seperti ini ia tidak boleh lengah. apa lagi di tempat ini hanya ada diri-nya dan Madika saja.
Madika bisa melihat dan menangkap ekspresi penuh keraguan dari gadis itu.
"kenapa tidak segera di minum?" tanya Madika dengan ekspresi datar.
"ehm itu...." gadis itu tampak sedang memikir-kan alasan. tak lama setelah itu ia melanjut-kan perkataan-nya. "aku mau pergi dulu, lagi pula sekarang racun-nya sudah pulih.... hehehe" ucap gadis itu sambil memaksa-kan senyum-nya serta sedikit tertawa hambar.
Madika tentu-nya tidak bodoh.
ia mengerti dengan kegelisahan gadis itu saat ini.
Di sisi lain, gadis itu kini langsung bangun dan duduk di atas ranjang itu. kemudian ia pun hendak berdiri dan ingin segera keluar dari tempat itu.
Namun Madika yang menyadari hal itu kini langsung memancar-kan energi Saga milik-nya dan ia pun langsung mengguna-kan aura Saga-nya untuk menekan gadis tersebut.
Tiba-tiba tubuh gadis itu terasa sangat berat. namun ia masih bisa menggerak-kan tubuh-nya karena pada dasar-nya tingkatan mereka berdua hanya berbeda satu dua tingkatan saja.
Madika berada di tingkat elit, sementara gadis itu berada di tingkat tinggi level puncak.
Gadis itu pun langsung terkejut saat menyadari tingkatan Madika.
__ADS_1
sementara itu, Madika yang melihat gadis itu bisa di tekan oleh aura Saga-nya tentu kini yakin kalau gadis itu berada di bawah tingkatan-nya.
"jika aku memang ingin melakukan hal buruk pada-mu mana mungkin aku akan mengguna-kan trik seperti itu." ucap Madika dengan suara yang terdengar berat dan seolah mengancam. "lagi pula jika aku memang ingin, maka aku bisa memaksa-mu melakukan apa yang ku ingin-kan!" ucap Madika dengan penuh penekanan.
"Ahhwww!"
gadis itu tiba-tiba memekik kesakitan sambil berusaha memegang luka di perut-nya.
Madika yang menyadari hal itu kini langsung menghenti-kan aura Saga-nya.
Gadis itu tiba-tiba langsung goyah dan hendak terjatuh.
Madika pun dengan cepat langsung menangkap tubuh gadis itu sebelum ia terjatuh.
"maaf..... seperti-nya aku terlalu berlebihan." ucap Madika sambil membantu gadis itu agar tetap duduk.
"minum-lah ramuan itu." ucap Madika saat melihat ramuan-nya masih berada di tangan gadis itu.
Mendengar ucapan Madika, kini gadis itu merasa tak punya pilihan lain.
Gadis itu pun akhir-nya pasrah dan langsung meneguk ramuan buatan Madika itu.
Di sisi lain, Madika yang saat ini melihat luka di pinggiran perut gadis itu mengeluar-kan banyak darah kini langsung mengarah-kan tangan-nya dengan posisi telapak tangan terbuka ke arah luka itu dan berusaha membantu untuk menghenti-kan pendarahan di luka itu.
"seperti-nya kau hampir kehabisan Saga sampai-sampai tak bisa menghenti-kan pendarahan-mu sendiri." ucap Madika menebak.
Gadis itu tak menjawab dan hanya mengangguk sekali menanda-kan bahwa tebakan Madika itu benar.
"pantas saja pendarahan-mu sangat lambat terhenti." ucap Madika menanggapi.
Setelah itu, Madika pun membawa perban dan gunting di tangan-nya.
ia pun naik ke atas ranjang itu.
Gadis yang sedang duduk di ranjang itu pun langsung terkejut dan dengan segera menoleh ke arah Madika yang merangkak ke belakang-nya.
"ap..... apa yang kau mau lakukan?" tanya gadis itu tergagap-gagap.
__ADS_1
"jangan menghadap ke sini!" ucap Madika sedikit tegas saat gadis itu memutar tubuh-nya ke arah Madika.
"aku ingin memperban luka-mu itu.... jika kau menghadap ke sini bisa-bisa itu-mu kelihatan oleh-ku." ucap Madika mengingat-kan.
"ah... maaf."
gadis itu sontak kembali memutar tubuh-nya dan langsung membelakangi Madika.
"tenang saja.... aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh." ucap Madika sambil mengatur perban yang akan ia pakai serta mengeluar-kan beberapa obat yang akan di pakai di luka itu.
Gadis itu kini tak punya pilihan lain selain mempercayai Madika.
"sekarang angkat baju-mu, aku akan segera menyelesaikan-nya dengan cepat." ucap Madika menyuruh gadis itu mengangkat pakaian-nya.
Mendengar ucapan Madika, kini gadis itu langsung menoleh ke arah Madika tanpa memutar tubuh-nya.
tampak di wajah gadis itu terukir sedikit perasaan malu dan pipi-nya sedikit memerah.
"berjanji-lah untuk tidak melakukan hal yang macam-macam!" ucap gadis itu dengan nada tegas.
"ya aku janji." ucap Madika dengan ekspresi bosan karena dari tadi gadis itu terus menunda-nunda pengobatan-nya.
Setelah Madika telah berjanji, kini gadis itu pun langsung melepas-kan baju-nya dan hanya menyisah-kan Bra-nya saja.
Melihat hal itu, Madika pun tampak membelalak-kan mata-nya dengan perasaan yang sedikit terkejut.
hanya dengan memandangi tubuh gadis itu dari belakang saja sudah membuat Madika menyadari bahwa lekukan tubuh gadis itu terbilang sangat sempurna dan itu benar-benar menarik perhatian Madika untuk terus memperhatikan-nya.
"dengan begini kau bisa lebih cepat membersih-kan luka-ku bukan?" ucap gadis itu sambil mengangkat tangan-nya dan menyilangkan-nya di belakang kepala.
Madika yang mendengar ucapan gadis itu kini langsung menggeleng-kan kepala-nya dan menjauh-kan perhatian-nya dari pesona tubuh gadis itu.
"ehmm.... aku akan segera menyelesaikan-nya dengan cepat." jawab Madika.
Lalu Madika pun langsung mengobati luka gadis itu dengan cepat.
tak butuh waktu lama kini luka gadis itu pun selesai di obati dan sudah di perban oleh Madika.
__ADS_1