Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Natalia Dan Madika


__ADS_3

Saat ini Madika yang melihat Natalia yang hanya berdiri dan menatap dirinya kini langsung berjalan mendekati Natalia dan menyapanya.


"Ehm... Lama tidak berjumpa...." Ucap Madika menyapa Natalia. "Bagaimana kabarmu sekarang?" Tanya Madika lagi.


Natalia yang mendengar pertanyaan itu kini tampak hanya diam saja dan tidak menjawab sama sekali.


"Ehm... Apa kau marah padaku karena aku pergi tanpa pamit padamu?" Tanya Madika.


Natalia masih tidak menjawab, namun kini ia memalingkan wajahnya dari Madika seolah menunjukkan pada Madika bahwa hal itu memang benar.


Madika pun mengerti dengan hal itu, dan ia tahu pasti Natalia memang marah karena dirinya pergi tanpa pamit.


Madika pun kini langsung maju selangkah dan kemudian ia meraih tangan Natalia dan menggenggamnya.


"Maaf Natalia, aku terpaksa melakukan hal itu karena aku berpikir bahwa kau pasti akan ikut denganku jika aku memberitahumu hal itu, selain itu, aku juga tak mau kau terluka karena perjalanan yang ku lakukan bisa terbilang sebagai perjalanan yang berbahaya dan jika kau ikut campur di dalamnya, bisa saja hal itu akan mengancam nyawamu." Ucap Madika meminta maaf.


Sementara itu, Natalia yang mendengar permintaan maaf Madika kini masih diam saja.


Ia tampak seperti tidak puas dengan kata-kata Madika barusan dan hal itu membuat dirinya tampak masih mengacuhkan Madika dan tidak mau memandang wajah Madika.


"Sepertinya kau sudah melewati sangat banyak masa-masa sulit selama aku tak bersamamu... Padahal dulunya aku pernah berjanji akan bertumbuh dan menjadi kuat bersamamu... Maaf karena aku sudah mengingkari janji itu." Ucap Madika lagi berusaha mencoba membujuk Natalia agar tak mengacuhkan dirinya lagi.


"Dasar bodoh." Ucap Natalia dengan suara lirih dan kemudian langsung memutar tubuhnya serta membelakangi Madika seolah-olah ia sedang tak ingin menatap Madika.


Padahal dalam hati Natalia ia ingin Madika memeluknya dari belakang sama seperti dulu saat mereka masih bersama-sama di dunia bawah tanah.


Namun Madika yang melihat hal itu sama sekali tak peka terhadap keinginan Natalia.


Lagi pula Madika mana mungkin terpikirkan hal seperti itu apa lagi saat ini mereka ada di tengah-tengah orang banyak.


Madika pun kini hanya diam dan memandangi punggung Natalia yang jauh lebih kecil darinya.


Sementara itu, Diana yang melihat tingkah Natalia itu kini merasa sedikit paham dengan apa yang sedang Natalia lakukan saat ini.


"Oh... Jadi dari tadi dia bersikap seperti itu hanya untuk ini ya?" Pikir Diana.


Namun hasil dari tindakan Natalia itu malah membuat Madika berpikir bahwa Natalia saat ini sedang butuh waktu untuk sendiri serta butuh ketenangan.


"Maaf..." Ucap Madika yang kemudian langsung berbalik badan dan membelakangi Natalia sehingga kini keduanya saling membelakangi.


"Sepertinya aku hanya akan mengganggu mu saat ini... Mungkin sebaiknya aku pergi dulu sejenak sampai kau bisa menenangkan pikiran-mu." Ucap Madika yang kemudian memunculkan kembali sayap angin di punggungnya.


Mendengar ucapan Madika itu, Natalia pun langsung menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Madika benar-benar akan pergi atau tidak, dan saat ia melihat Madika, kini ia langsung memutar tubuhnya dan segera mencoba meraih tangan Madika.


Namun Madika sama sekali tidak mengetahui hal itu, dan tanpa menoleh sedikitpun, Madika langsung terbang.


"Sampai bertemu lagi... Ku harap saat kita bertemu lagi aku bisa sedikit meredakan kekesalan-mu." Ucap madika yang langsung terbang tanpa menunggu respon dari Natalia.

__ADS_1


Kini Natalia yang bahkan tak sempat menyentuh tangan Madika kini langsung menghentikan tindakannya, ia kembali menurunkan tangannya yang sebelumnya ia ulurkan untuk meraih tangan Madika.


Diana yang melihat hal itu kini jadi tidak tahan lagi dengan sikap Madika yang terkesan dingin itu.


"Oi Madika!!" Teriak Diana memanggil Madika.


Madika pun langsung berhenti dan kemudian menoleh ke arah Diana saat mendengar namanya di panggil oleh Diana.


"Ada apa?" tanya Madika.


"Apa kau tidak mengerti? Natalia seda...."


DUAAARRRR!!


Ucapan Diana terhenti seketika saat sebuah ledakan api terjadi tepat di depannya.


Ledakan api itu membuat Diana terkejut karena ledakan itu benar-benar terjadi di dekatnya.


"Apa yang kau lakukan?!" Ucap Diana bertanya sambil melirik Natalia.


"Diam!" Ucap Natalia singkat namun sambil memancarkan aura yang menakutkan.


"Ehh?... Ho'oh... Aku akan diam." Ucap Diana yang langsung merasa takut melihat sosok Natalia.


Sementara itu, Madika yang melihat Natalia yang tampaknya sedang marah itu kini langsung melarikan diri.


Melihat Madika yang langsung pergi begitu saja, kini sesepuh Wilasopu pun langsung mengikuti Madika dari belakang.


Sementara itu, Natalia yang melihat Madika yang langsung pergi itu kini hanya bisa menatap kepergian Madika dengan ekspresi wajah yang tampak sedikit menyimpan penyesalan.


Diana yang melihat ekspresi Natalia itu kini hanya bisa menghela nafas seperti orang yang sedang lelah.


"Hah... Saat dia pergi kau malah jadi seperti ini... Padahal sebelumnya kau sangat ingi bertemu dengannya, tapi begitu bertemu kalian malah tidak saling memahami." Ujar Diana.


"Biarlah... Sepertinya dia saat ini juga sedang sibuk, mungkin ini belum saatnya bagi kami untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama." Jawab Natalia yang tampak berusaha mengembalikan kembali rasa semangatnya.


"Hah... sepertinya memang begitu sih... Tapi ku harap ke depannya kalian bisa lebih baik lagi dari ini." Ucap Diana.


Saat ini sudah jelas bagi Diana, bahwa Natalia sekarang benar-benar sudah jatuh cinta pada Madika.


Namun Natalia tampaknya masih belum terlalu paham betul dengan perasaannya sendiri.


"Apa ucapan perpisahannya sudah selesai?" tanya guru pemandu.


"Uhm." gumam Natalia sambil mengangguk sekali.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kita langsung kembali saja ke akademi Walawatu, lagi pula kegiatan ini seharusnya berakhir hari ini dan karena sekte Balumba juga masih dalam kondisi yang tidak memungkinkan, jadi sebaiknya kita langsung kembali saja." Ucap si guru pemandu.

__ADS_1


"Apa tidak masalah jika kita tak berpamitan dulu sebelum pergi?" Tanya Diana.


"Tenang saja, aku sudah izin pamit pada ketua sekte barusan... Dia sedang terluka jadi dia harus segera di obati saat ini." jawab si guru pemandu.


"Begitu ya."


"Ya... kalau begitu tanpa banyak bicara lagi ayo kita kembali ke akademi Walawatu." Ujar si guru pemandu.


Setelah guru pemandu berkata seperti itu, kini mereka semua pun langsung memunculkan sebuah pedang besar di bawah kaki mereka dan dengan pedang besar itu kini mereka pun langsung melesat cepat menjauh dari sekte Balumba.


"Ku harap kita bisa segera bertemu kembali... Madika." Ucap Natalia sambil menoleh ke belakang.


*******


Saat ini Madika telah kembali ke tempat di mana para anggota sekte Balumba mengumpulkan para korban serta mengobati para korban.


Madika kini mendarat di tengah-tengah kumpulan korban dari pertarungan sebelumnya.


Ia melihat di sebelah kanannya sudah terdapat cukup banyak murid sekte yang terbunuh, sementara yang di sebelah kirinya terlihat banyak yang sedang terluka bahkan sudah sekarat.


Madika yang melihat hal itu kini hanya bisa menghela nafas dengan ekspresi bersimpati.


"Jika saja kesalahpahaman itu tidak terjadi, mungkin hal seperti ini bisa segera di hindari." Ucap Madika saat melihat orang-orang di sekitarnya yang tampak sedang menderita.


"Anda benar... Maaf karena kami terlambat menyadari bahwa anda adalah orang yang seharusnya kami nantikan selama ini!" Ucap tetua Barugo yang datang menghampiri Madika dan Wilasopu.


Tak lama setelah itu, tiga tetua lainnya kini juga ikut datang menghampiri Madika.


Setelah itu keempat tetua itu langsung saling menatap satu sama lain dan kemudian menganggukkan kepalanya seolah mereka sudah membuat sebuah persetujuan.


Setelah itu kini keempat tetua itu langsung berlutut di hadapan Madika sambil menundukkan kepalanya.


"Maaf karena sebelumnya kami sudah berbuat yang lancang terhadap anda, kami siap menerima hukuman." Ucap keempat tetua itu dengan sikap tegas.


Mendengar ucapan keempat tetua itu, kini Madika pun hanya bisa menghela nafas, dan setelah itu Madika pun menyuruh mereka untuk berdiri.


"Sudahlah, tidak usah di pikirkan, lagi pula hal ini memang sulit untuk di hindari mengingat sebelumnya tak satu pun dari kita yang saling mengenal satu sama lain." Ucap Madika.


Setelah itu kini keempat tetua itu pun kembali berdiri.


Sesudah itu, Madika pun langsung di ajak oleh tetua Wilasopu ke salah satu bangunan yang masih tersisa di sekte Balumba itu.


*******


Saat ini Madika telah berada di sebuah ruangan luas dan tampak cukup mewah.


Madika saat ini duduk bersama dengan para tetua, ketua sekte serta sesepuh sekte Balumba di satu ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2