Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Pertarungan Freon (2)


__ADS_3

Kini pria itu terus menyerang Freon. sementara itu, freon yang saat ini tengah terdesak hanya bisa berusaha memikirkan cara untuk menjaga jarak dari pria itu.


Tak lama setelah itu, kini Freon mendapatkan celah untuk menjauh dari pria itu.


ia pun kini langsung memanfaatkan celah itu untuk melompat jauh ke belakang dan menjaga jarak.


Namun pria itu tampak tidak membiarkan Freon lolos dari-nya.


pria itu melihat Freon yang melompat dan masih berada di udara kini langsung menyerang Freon menggunakan teknik lengkungan elemen.


pria itu menebaskan pedang-nya di udara dan seketika tercipta lengkungan petir yang melesat ke arah Freon.


Saat Freon melihat ada dua lengkungan petir yang bergerak ke arah-nya, ia pun segera menebas lengkungan petir itu agar tak mengenai diri-nya.


hingga akhir-nya kini ia mendarat-kan kaki-nya di atas lantai.


Baru saja Freon mendarat, tiba-tiba diri-nya langsung di sambut oleh pria itu yang saat ini tampak baru saja tiba di sana sambil mengambil ancang-ancang untuk menebas Freon.


Kini pria itu pun langsung mengayunkan kedua pedang petir-nya ke arah Freon dan membuat Freon langsung terkejut melihat-nya.


Saat tebasan dua pedang itu hendak menghantam habis tubuh Freon, kini Freon masih berusaha menciptakan sebuah perisai angin dengan cepat dan buru-buru.


alhasil perisai angin yang di buat oleh Freon tampak tidak sempurna dan hanya bisa menahan satu serangan pedang saja hingga akhir-nya Freon terdorong sangat kuat dan perisai-nya langsung hancur seketika.


"sial!... dia cepat sekali!" batin Freon sambil menyeka sudut bibir-nya yang tampak mengeluarkan darah dari dalam mulut-nya.

__ADS_1


Di sisi lain, saat ini pria itu tampak tengah menghentikan serangan-nya. ia kemudian mengarahkan pedang yang di tangan kanan-nya itu ke arah Freon.


"di mana keangkuhan-mu yang tadi?.... apa kau masih bisa menunjukan-nya sekarang hah?" ucap pria itu dengan ekspresi serius dan sama sekali tidak bermain-main.


"sial.... kau pikir dengan ini kau sudah mendesak-ku hah?!" ucap Freon yang tampak masih memaksakan diri untuk tetap terlihat lebih kuat dari pria itu.


"kalau bukan terdesak? lantas kata apa yang bisa menjelaskan situasi-mu saat ini?" ucap pria itu yang kini mulai memanas-manasi Freon karena Freon saat ini mulai melemah di mata pria itu.


Di sisi lain, Si ketua OSIS yang saat ini sedang memantau perkembangan pertarungan itu kini terlihat sedang memperbaiki posisi kacamata-nya menggunakan dua jari.


"pertarungan terakhir-ku dengan Freon sudah berlangsung cukup lama.... kira-kira sudah lebih dari delapan bulan.... saat itu dia memang lebih kuat dari beberapa siswa lain-nya.... akan tetapi, dalam rentang waktu yang sepanjang itu, maka tidak menutup kemungkinan akan muncul para siswa lain-nya yang berusaha untuk bangkit dan bekerja keras untuk mencapai posisi puncak." ucap si ketua OSIS. lanjut-nya, "seperti kata pepatah mengatakan, 'dalam dunia para ksatria, yang terdepan bisa menjadi yang terbelakang, dan yang terbelakang bisa menjadi yang terdepan.'..... saat seseorang sedang berada di posisi puncak, seringkali orang itu akan bertindak sombong dan menjadi sedikit malas meningkatkan kemampuan karena di mata-nya tidak akan ada lagi yang bisa mengejar posisi-nya..... hal itu pun membuat diri-nya lengah dan kalah." ucap-nya panjang lebar.


"kalau begitu, bagaimana dengan-mu?" tanya wakil ketua OSIS yang merupakan seorang gadis cantik yang berbeda kelas dengan-nya.


"aku yakin kau sudah tahu seperti apa hidup-ku sejak aku menjadi seseorang yang di akui di akademi ini." jawab si ketua OSIS.


Tak lama setelah itu, kini Freon langsung mengangkat tangan kanan-nya ke atas kepala dengan posisi telapak tangan yang terbuka lebar.


sedetik setelah itu, kini tampak angin mulai berhembus di seluruh arena pertarungan.


angin yang berhembus itu perlahan-lahan mulai berhembus dengan sangat kencang.


namun bisa di lihat bahwa angin-nya itu hanya terbatas di area pertarungan saja.


"kali ini kau tidak akan lolos dari-ku!" ucap Freon dengan tatapan intimidasi yang di arahkan kepada pria itu.

__ADS_1


"seperti-nya dia sedang berusaha membuat wilayah domain di tempat ini.... jika teknik ini sudah sempurna, maka aku akan kesulitan untuk menghadapi-nya sekarang!" batin pria itu sambil melihat ke sekeliling-nya. lanjut-nya, "sebaik-nya aku mencoba untuk segera membatalkan teknik-nya ini sebelum jadi!" batin-nya.


Lalu pria itu langsung mengangkat kedua tangan-nya yang memegang pedang ke atas kepala.


lalu di satukan-nya dua pedang itu menggunakan tangan-nya.


Setelah itu kini pedang itu tampak memancarkan cahaya biru keunguan.


cahaya itu sangat terang, dan kini seluruh tubuh pria itu mulai di aliri oleh petir-petir kecil yang merembes keluar.


Petir-petir itu kini memenuhi pedang pria itu.


dan dalam waktu yang sangat singkat, tiba-tiba sebuah laser petir turun dari langit dan langsung di tangkap oleh pedang milik pria itu.


"tidak akan ku biarkan kau mengalahkan-ku!!" teriak pria itu.


Madika yang melihat teknik petir yang di gunakan oleh pria itu kini terlihat sedang pasang ekspresi tertarik.


pasal-nya saat ini Madika tahu tentang teknik itu, dan dia juga tahu seperti apa kekuatan yang di hasilkan dari teknik yang di gunakan pria itu.


"teknik pria itu adalah teknik yang cukup bagus.... jika pengguna teknik itu bisa menguasai teknik-nya hingga tingkat tertentu, maka teknik itu akan menjadi teknik yang sangat menakutkan karena satu tebasan-nya saja bisa membelah satu atau bahkan dua gunung." ujar Madika menilai teknik pedang petir milik pria itu.


Mendengar ucapan Madika, kini Ariel terlihat sedikit serius memperhatikan teknik itu.... diri-nya masih belum bisa terlalu memahami hal itu karena diri-nya melihat teknik itu sama seperti teknik pedang petir yang biasa-nya ia lihat.


"ehm.... aku sama sekali tidak mengerti, bagaimana kau bisa membedakan teknik yang di gunakan-nya sekarang dengan teknik pedang petir yang biasa-nya.?" tanya Ariel.

__ADS_1


"itu semua bisa di bedakan melalui pola petir yang turun dari langit itu.... saat pengguna-nya menggunakan teknik pedang petir biasa, pola-nya akan berbeda dengan pola petir yang di gunakan-nya saat ini." jelas Madika.


Mendengar penjelasan itu, kini Ariel hanya bisa mengangguk dengan ekspresi yang tampak mengerti dengan penjelasan Madika.


__ADS_2