Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Naga Es


__ADS_3

Axel kini jadi semakin marah saat Madika berbicara dengan nada mengejek.


Hal itu pun membuat emosinya memuncak dan ia pun segera memerintahkan hewan monster miliknya itu untuk menyerang Madika.


"Hehaaaaaa!!!" Teriak Axel sambil menunjuk ke arah Madika.


Namun alhasil si naga es itu hanya melihat Axel sambil memiringkan kepalanya karena bingung dengan apa yang sedang di ucapkan oleh tuannya itu.


Axel pun jadi semakin kesal dan sekali lagi dia berteriak.


"Hehaaaaa!!"


Namun si naga es tetap terlihat menunjukkan respon yang sama.


"Naga bodoh! Sudah ku bilang serangggggg!!" Bentak Axel menggunakan telepati pada naga es miliknya itu.


Mendengar bentakkan tuannya itu, kini si naga itu pun langsung mengangguk.


"Baik tuan?" Ucap naga es itu dan kemudian langsung melesat ke arah Madika.


Madika yang melihat hal itu kini langsung menjentikkan jarinya dan seketika ia langsung berpindah di tempat yang sangat jauh dari tempat sebelumnya dan hal itu membuat si naga es jadi kebingungan apa lagi perpindahan Madika saat ini berada jauh di belakang mereka.


Madika pun kini melihat Axel dan naga es-nya itu sedang kebingungan.


Di saat itu juga, kini Madika pun memanfaatkan momen itu untuk memanggil Askila.


Madika langsung membuat sebuah lingkaran energi di sampingnya dan seketika itu juga dari dalam lingkaran energi itu sosok Askila dengan tampang sangarnya langsung keluar dengan cara melompat di udara.


Askila pun langsung muncul dengan gaya yang sangat heroik sebagai seekor monster serigala petir.


Namun, baru saja Askila mendaratkan kakinya, kini Madika langsung berpindah ke depan Askila dengan cepat.


"Askila! ayo lawan musuh kita sekarang!" Ucap Madika memberi perintah.


"Di mana musuhnya tuan?! Biar ku hajar sampai jadi abu!!" Ucap Askila dengan suara yang terdengar gahar dan wajah yang tampak sangat.


Lalu Madika pun segera menyentuh tangan Askila dan membawa Askila berpindah beberapa puluh meter di depan si naga es itu.

__ADS_1


Begitu keduanya muncul di depan naga es, Madika pun langsung melempar Askila ke arah naga es itu.


"Itu lawanmu Askila! Hajar dia sekaranggg!!" Teriak Madika dengan ekspresi yang tampak menahan tawa karena saat ini Madika berniat mengerjai Askila.


Sementara itu, Askila yang terkejut karena Madika dan dirinya tiba-tiba berpindah kini tak sempat menangkap dengan baik siapa yang Madika maksud.


Namun begitu dirinya di lempar mengarah ke naga es itu, seketika bulu-bulu Askila pun langsung berdiri meruncing karena rasa takut yang tiba-tiba memuncak dan memenuhi pikirannya serta membuat instingnya menyuruh ia agar segera mundur.


"Setaaaannnn!!" Teriak Askila sambil menggunakan salah satu jurusnya yang membuat ia bisa berteleportasi jarak pendek.


Seketika Askila menghilang dan langsung muncul di belakang Madika.


"Tuan! Aku tak bisa berhadapan dengan yang satu ini! Suruh Bunggu saja!" Ucap Askila dengan ekspresi ketakutan.


"Hahaha... Ternyata kau bisa takut juga ya." Ucap Madika sambil tertawa dan mengelus kepala Askila.


Sementara itu, Axel yang melihat hal itu kini langsung tertawa, namun tertawanya itu terdengar aneh.


Di sisi lain, Askila yang saat ini ketakutan melihat naga es milik Axel itu ternyata dulunya mereka sudah pernah saling berhadapan dan kala itu Askila hampir mati di buatnya.


Bagi Askila, kekalahan hari itu benar-benar membekas dalam dirinya dan itu membuat ia menjadi takut pada naga es milik Axel dan kini mereka di pertemukan lagi meskipun saat ini Axel telah lupa dengan sosok Askila yang pernah bertarung dengannya di masa lalu.


"ohh... begitu ya..." ucap Madika sambil mengangguk paham.


"Kalau begitu kau ikut aku keluar dari sini dan biarkan Bunggu mengatasi sisanya." Ucap Madika lagi.


Setelah berkata seperti itu Madika langsung memegang Askila dan berpindah dengan cepat ke tempat yang jauh karena ternyata naga milik Axel mencoba menyerang mereka secara tiba-tiba. Beruntung Madika menyadari hal itu dan langsung mengantisipasinya.


Sesudah itu Madika pun langsung mengangkat tangannya dan memunculkan sebuah lingkaran energi yang besar di atasnya.


Dari lingkaran energi itu perlahan sosok seorang pria tampak dengan jubah yang cukup panjang berjalan keluar dari dalam lingkaran energi itu.


Pria itu adalah wujud manusia dari Bunggu, sang naga kuno legendaris pengendali api.


"Apa yang harus ku lakukan pada mereka?" Tanya Bunggu tanpa basa-basi.


"Kau hanya perlu menjinakkan naga es itu, sisanya terserah mau kau apakan." Jawab Madika singkat.

__ADS_1


Setelah itu Madika pun langsung memegang kepala Askila dan segera keluar dari dimensi bayangan tanpa menunggu respon maupun jawaban dari Bunggu.


Bunggu yang melihat hal itu pun kini hanya bisa menghela nafas panjang.


"Sepertinya dia sangat buru-buru." Pikir Bunggu saat ini.


Sementara itu, di luar dimensi bayangan kini Madika dan Askila langsung muncul di salah satu bayangan yang ada di bawah puing pilar yang rusak.


Kemunculan Madika dan Askila kini membuat mereka cukup terkejut karena sebelumnya Madika hanya membawa Axel saja dan tiba-tiba muncul membawa Askila yang merupakan sosok seekor monster serigala petir.


"Axel berubah jadi hewan monster!!" Teriak salah satu murid sekte Balumba yang kini sudah berkumpul kembali di arena itu untuk menyaksikan pertarungan Madika melawan empat tetua serta ketua sekte.


Mereka menganggap bahwa ini akan menjadi pertarungan yang seru dan layak untuk di lihat.


Sementara itu, Madika yang kini muncul bersamaan dengan Askila kini langsung terbang dan meninggalkan Askila di lantai.


"Sekali lagi ku peringatkan! Jika kalian tetap keras kepala! Maka aku benar-benar akan menghancurkan sekte kalian sampai ke akar-akarnya!" Bentak Madika sambil menatap tajam ke arah ketua sekte balumba yang kini berdiri di tengah-tengah empat tetua sekte.


"kau terlalu percaya diri bocah! Jika memang kau berpikir begitu! Maka coba tunjukkan apa yang kau bisa selain kabur melalui bayangan?!" Balas si ketua sekte dengan nada meremehkan Madika.


Mendengar ucapan ketua sekte itu, kini Madika pun langsung terlihat semakin serius.


Wajah Madika seketika terlihat seperti orang yang murung namun sebenarnya ia sedang mempersiapkan diri untuk melakukan pembantaian.


"Baiklah, kau sendiri yang minta." Ucap Madika dengan suara yang lirih.


Natalia yang melihat ekspresi Madika itu pun kini langsung merasakan sedikit ketakutan. Tiba-tiba bulu kuduk Natalia langsung berdiri dan ia kini langsung menatap Madika dengan tatapan serius.


"Sepertinya Madika baru akan serius sekarang!" Ucap Natalia yang saat ini pandangannya tidak mau lepas dari sosok Madika yang menjadi kekaguman dirinya.


Sementara itu, guru pemandu, Diana, dan para siswa akademi Walawatu lainnya kini hanya bisa menatap Madika dengan perasaan yang semakin tegang.


Mereka masih sedikit meragukan kemampuan Madika, selain itu siapa pun pasti akan berpikiran sama dengan mereka apa lagi jika lawan mereka saat ini adalah satu sekte yang sangat besar dan di isi oleh orang-orang berbakat dan sangat kuat.


Sementara itu, Madika yang kini sudah membulatkan keputusannya langsung mengeluarkan sebuah pedang miliknya, yakni pedang pusaka raja monster semut.


"Baiklah, mari kita mulai dengan ribuan pasukan monster semut!" Ucap Madika sambil mengangkat pedang pusakanya itu ke atas kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2