Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Empat Tetua Turun Tangan?


__ADS_3

Saat ini Madika berhasil menusukkan tangannya hingga menembus tubuh Gupo, dan tangan Madika itu kini berhasil mengeluarkan jantung Gupo dari dalam tubuhnya.


"Matilah!" Ucap Madika yang kemudian menggenggam kuat jantung yang ada di tangannya hingga jantung itu hancur dan jatuh ke lantai.


Seketika itu pula, para tetua serta ketua sekte balumba langsung terkejut melihat kejadian barusan.


Mereka tak menyangka hal itu akan terjadi.


Mereka juga sama sekali tak mengenali jurus yang di gunakan oleh Madika itu.


"Bocah ini!... Bagaimana dia melakukan hal itu?!" Ucap tetua Barugo dengan ekspresi tidak percaya.


"Jurus apa yang di pakainya itu?!" Timpal tetua Lagonu yang tampak sangat terkejut.


"Apa itu jurus teleportasi?!" Sanggah tetua Kabosu bertanya-tanya.


"Bocah ini sepertinya tidak boleh kita remeh-kan!" Balas tetua Supiri yang kini terlihat mulai waspada.


Empat tetua mulai berkomentar meskipun mereka masih belum mengenal dengan baik kekuatan Madika yang sebenarnya.


Sementara itu, para siswa dan beberapa murid sekte yang masih bertahan di sekitar arena pertandingan itu kini hanya bisa menatap Madika dengan rasa terkejut.


Di sisi lain Natalia yang saat ini melihat kemenangan Madika kini langsung mengulas senyum di wajahnya. Ia kini hanya bisa menatap Madika dengan tatapan kagum.


"Huaah... Madika sekarang jadi semakin kuat!" Ucap Diana sambil menatap kagum ke arah Madika.


Lanjutnya. "Hei Natalia, apa menurutmu jika Madika bertarung dengan Axel, kira-kira yang menang siapa ya?" Tanya Diana.


"Aku tidak terlalu tahu, akan tetapi aku yakin Madika tidak akan kalah!" Jawab Natalia dengan penuh percaya diri.


Sementara itu, si Axel yang melihat wajah Natalia yang tampak sangat kagum pada madika kini langsung semakin kesal. Ia kemudian mendecakkan lidahnya dan langsung melesat ke arah para tetua dan ketua sekte itu.


Tak lama setelah Natalia berkata seperti itu, kini terlihat ketua sekte serta empat tetua sekte langsung memutuskan untuk segera turun tangan.

__ADS_1


Kini terlihat empat tetua sekte melesat dan berpencar ke empat arah mata angin.


Keempat tetua sekte itu pun langsung mengepung Madika di tengah-tengah.


Tampak ke empat tetua sekte sedang berdiri melayang di udara dengan menjadikan sebuah pedang sebagai alat untuk melayang di udara.


Madika yang melihat hal itu kini hanya bisa diam dan tetap tenang.


Setibanya di hadapan ketua sekte, kini Axel pun langsung meminta pada ketua sekte agar memberinya izin untuk melawan Madika seorang diri.


"Ketua sekte! Aku ingin menguji kekuatan ku dengan cara melawan orang ini!" Ucap Axel meminta izin.


Si ketua sekte pun kini langsung menatap Axel dengan tatapan serius.


"Apa kau yakin bisa melawan bocah itu sendirian?" Tanya ketua sekte yang bernama Nakarapu itu.


"Aku sangat yakin! Anda tak perlu khawatir!" Jawab Axel dengan penuh percaya diri.


"Sepertinya kau terlalu meremehkan bocah itu! Apa kau tak tahu kalau dia itu adalah orang yang sudah menghancurkan klan petir beberapa hari yang lalu?!" Tanya ketua sekte dengan sedikit tegas.


Namun rasa terkejut itu berusaha ia pendam karena saat ini ia benar-benar ingin melawan Madika kerena dirinya merasa di rendahkan oleh Natalia yang lebih memilih Madika yang bahkan bukan berasal dari keluarga yang terkenal.


"Aku tidak takut akan hal itu! Aku yakin aku pasti bisa mengalahkannya!" Jawab Axel yang masih ngotot untuk melawan Madika.


"Kalau begitu, biar ku tanya satu hal padamu!... Apa kau bisa menghancurkan satu klan besar hanya dengan mengandalkan dirimu sendiri?" Tanya ketua klan lagi dengan ekspresi serius.


Namun Axel yang mempunyai sifat keras kepala itu pun kini langsung menjawab dengan lantang.


"Aku bisa melakukannya! Aku bisa menghancurkan satu klan besar sekali pun hanya dengan mengandalkan diriku sendiri!" Ucap Axel dengan lantang meskipun dirinya sama sekali belum pernah melakukan hal seperti itu.


Sementara itu, ketua sekte yang melihat Axel yang benar-benar sangat ngotot itu kini hanya bisa menghela nafas panjang dan ia pun akhirnya memutuskan untuk memberikan izin pada Axel.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memberimu izin untuk melawan bocah itu sendirian." Ucap Nakarapu dengan ekspresi tenang.

__ADS_1


Di sisi lain, empat tetua klan yang saat ini sedang mengepung Madika kini langsung mengeluarkan aura membunuh mereka pada Madika.


Aura bertekanan tinggi dari empat tetua itu kini menyatu dan menekan tubuh Madika hingga tubuh Madika pun merasa seolah dirinya sedang di timpa oleh sesuatu yang sangat berat sampai-sampai tubuhnya sulit untuk di gerakkan bahkan ia kini terlihat mulai berlutut karena saking kuatnya tekanan aura itu.


"Hei bocah! Sebaiknya kau menyerah saja dan matilah tanpa banyak melawan! dengan begitu kami akan membiarkan mayat-mu tetap utuh!" Ucap tetua Barugo dengan ekspresi serius.


Sementara itu, Madika yang terkena tekanan aura itu kini hanya tersenyum tipis sambil menoleh ke arah tetua Barugo.


"Mati? Apa kau pikir semudah bisa semudah itu membunuhku?" Ucap Madika dengan penuh percaya diri.


Mendengar ucapan Madika itu, kini empat tetua jadi makin kesal pada Madika. Terutama tetua Barugo karena kata-katanya malah di bantah dengan keras oleh Madika.


"Sepertinya kau benar-benar cari mati bocah!" Bentak tetua Barugo sambil mengangkat tangannya setinggi bahu dan memunculkan beberapa tombak petir di udara.


"Barugo! Tunggu sebentar!" Ucap ketua sekte melalui telepati dan menyuruh Barugo untuk tidak segera membunuh Madika.


"Ada apa?!" Tanya tetua Barugo sambil menoleh ke arah ketua sekte yang berada cukup jauh dari tempat mereka saat ini.


"Biarkan Axel melawan bocah itu! Siapkan diri kalian untuk menyelamatkan Axel jika dia dalam keadaan terdesak!" Balas ketua sekte.


"Hah? Yang benar saja? Apa Axel itu sudah gila? Apa dia masih meremehkan bocah ini?!" ucap tetua Barugo yang tampak kesal.


"Tidak masalah! Kita lihat seperti apa kapasitas bocah ini!... Dengan membiarkan bocah itu melawan Axel, maka kita bisa tahu seberapa kuat Axel saat ini!" Ujar ketua sekte memberi penjelasan.


Mendengar penjelasan itu, kini para tetua pun mulai berdiskusi sendiri dan sesaat setelah itu mereka pun memutuskan untuk membiarkan Axel melawan Madika saat ini.


"Baiklah, kalau begitu kami akan mempersiapkan arena yang tepat untuk kalian!" Ucap tetua Barugo.


Sesudah itu kini ke empat tetua langsung menciptakan sebuah penghalang setengah bola sebanyak empat lapis.


Lapisan pertama adalah penghalang elemen petir, lapisan kedua penghalang elemen api, lapisan ketiga penghalang elemen angin, dan lapisan ke empat penghalang elemen es yang tampak sangat transparan.


Melihat empat penghalang yang di ciptakan oleh keempat tetua itu, kini Madika mulai waspada dan bersiap untuk memulai pertarungan dadakan jika memang para tetua itu berencana melakukan serangan dadakan pada dirinya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, kini dari luar penghalang tampak ada cela penghalang yang terbuka dan dari cela itu Axel pun terbang masuk ke dalam penghalang menggunakan pedang di bawah kakinya.


__ADS_2