
Setelah Madika bertanya pada Nina, kini Nina memberitahu-kan di mana Natalia berada.
"saat ini Natalia tidak masuk sekolah.... tadi pagi saat kamu hendak berangkat bersama, ia tiba-tiba di hubungi oleh pelayan di kediaman orangtua-nya, kata-nya kedua orangtua-nya memanggil-nya untuk segera menghadap kepada mereka.... akhir-nya saat itu juga Natalia memutuskan untuk bersiap-siap berangkat ke kerajaan." jelas Nina.
"begitu ya.... seperti-nya hari ini aku tidak bisa mengabulkan keinginan-nya kemarin." ucap Madika.
"memang-nya apa yang Natalia inginkan dari-mu?" tanya Nina dengan nada menyelidik.
"Natalia ingin menantang-ku bertarung.... namun karena kemarin kondisi sedang tidak baik, maka aku berniat menantang diri-nya hari ini....tapi jika dia memang tidak ada ya.... apa boleh buat." jawab Madika sambil mengangkat kedua bahu-nya.
"hah...." Nina menghela nafas panjang. " aku yakin saat ini Natalia sedang di marahi habis-habisan oleh orangtua-nya." ujar Nina.
"hah....." Madika menghela nafas dengan ekspresi malas. "orang tua memang selalu seperti itu, dia tidak ingin anak-nya asal bergaul." balas Madika.
"tentu saja, apa lagi kalau yang di rumorkan saat ini adalah kau yang bukan siapa-siapa, hanya masyarakat menengah ke bawah.... hahahaha." ucap Nina sambil tertawa kecil bergurau.
Mendengar ucapan Nina barusan kini Madika hanya bisa tersenyum hambar menatap Nina.
"sial@n gurauan-nya benar-benar menusuk." batin Madika.
"jadi menurut-mu orangtua Natalia itu terlalu keras mendidik sampai-sampai kau mengatakan 'dia akan di marahi habis-habisan?'." tanya Madika.
"ya.... menurut-ku kedua orangtua-nya sangat keras memberi didikan pada Natalia.... hal itu lah yang membuat Natalia bisa jadi seorang siswa muda yang kemampuan-nya sudah di akui oleh banyak orang." jelas Nina.
"apa dia benar-benar seterkenal itu?.... aku belum pernah mendengar tentang diri-nya sama sekali." ucap Madika dengan ekspresi tidak tertarik dengan kepopuleran Natalia.
"tentu saja kau tak tahu, kau kan anak yang datang dari kampung." ucap Nina sambil buang muka dan tertawa kecil.
"dih.... apa ini sifat asli-mu.... atau hanya perasaan-ku saja yang mengatakan bahwa kau suka menghina." ucap Madika sambil menatap sinis.
Mendengar ucapan Madika, kini Nina pun langsung tertawa.
lalu ia menepuk bahu Madika.
__ADS_1
"hahahaha.... maaf-maaf.... aku hanya bergurau kok.... jangan marah ya." ucap Nina meminta maaf sambil menyatukan kedua telapak tangan-nya.
"tapi menurut-ku jika kau aktif di hutan kematian, kau pasti akan mengetahui kepopuleran Natalia.... hal itu karena Natalia sudah banyak membantu para ksatria dalam perburuan.... bahkan dia bersama beberapa ksatria yang ada di kediaman-nya pernah membentuk kelompok sendiri dan pergi berburu di hutan kematian." sambung Nina menjelaskan.
"hmm.... begitu ya...." ucap Madika yang kemudian mengelus dagu-nya dan berpikir. "mungkin dia ada benar-nya, lagi pula sebelum aku hidup kembali di masa ini, aku adalah orang yang sangat malas untuk datang berburu di hutan kematian." batin Madika.
"bagaimana menurut-mu?.... dia hebat kan?" ucap Nina meminta tanggapan Madika atas cerita-nya barusan.
"ya, dia memang kuat.... saat bertarung dengan-nya aku bisa merasakan kalau dia itu orang yang berbahaya.... itu lah sebab-nya aku berusaha untuk tidak melakukan adu kekuatan dengan-nya dan lebih memilih untuk menggunakan trik untuk melawan-nya." jelas Madika.
"hahahaha...." Nina tertawa kecil menanggapi Madika.
"oh iya, selain Natalia, kau juga punya satu teman lagi bukan?" tanya Madika meyakinkan.
"ya...." Nina mengangguk. "tapi hari ini dia juga tidak hadir karena ada urusan." jawab Nina. "memang-nya kenapa.?" Nina balik bertanya.
"tidak ada apa-apa.... aku hanya bertanya saja.... oh iya, apa kau sudah makan?" tanya Madika.
"ehmm.... belum." jawab Nina sedikit lambat seolah enggan menjawab.
"baiklah...." jawab Nina tanpa menolak.
Mendengar jawaban Nina, kini Madika pun langsung menarik tangan Nina perlahan dan menggandeng-nya ke kantin.
wajah Nina kini tampak memerah. seketika ia teringat kejadian saat Madika mencium bibir-nya saat di tengah pertarungan kemarin. ingatan itu kini membuat wajah Nina semakin memerah dan ia tampak canggung sendiri mengikuti Madika yang saat ini masih memegang tangan-nya.
Saat Madika dan Nina berjalan melewati orang-orang yang heboh sebelum-nya, kini tampak orang-orang itu sedang membicarakan Madika.
>SKIP<
Saat ini, di kediaman utama keluarga Taunaroso tampak ayah, ibu, kakek, dan nenek-nya Natalia sedang duduk di ruang keluarga.
mereka berempat tampak duduk saling berhadapan.
__ADS_1
ibu dan ayah Natalia tampak sedang duduk menghadap pada kakek dan nenek.
di tengah-tengah mereka tampak sebuah meja.
di atas meja tersedia kopi berkelas yang sudah di tuang-kan di cangkir mereka masing-masing.
Sesekali kakek Natalia tampak menyeruput kopi-nya dan menikmati-nya.
"kopi ini sangat nikmat." ucap kakek Natalia.
Sesaat setelah kakek Natalia menikmati kopi-nya, kini terdengar suara pintu ruangan itu di ketuk oleh seseorang yang berada di luar ruang keluarga itu.
"silahkan masuk!" perintah kakek Natalia.
Setelah mengatakan hal itu, kini tampak sosok Natalia yang dengan tangan mungil-nya tampak sedang membuka pintu.
setelah itu kini Natalia masuk ke ruang keluarga itu.
lalu ia menutup kembali pintu itu.
"kemari-lah!" perintah kakek Natalia dengan ekspresi wajah khas-nya yang tampak seram dan sangar.
Mendengar ucapan kakek-nya itu, kini Natalia langsung berjalan perlahan mendekati kakek-nya yang sedang duduk di samping nenek-nya.
Saat ini semua yang ada di ruangan itu diam dan tak mengucapkan sepatah kata-pun karena mereka sangat menghargai orang tua mereka itu.
Saat Natalia tiba di dekat kakek-nya, kini kakek-nya langsung mempersilahkan Natalia untuk duduk di sebuah sofa tunggal di sebelah kanan meja sehingga Natalia kini menghadap ke tengah-tengah.
Ketika Natalia sudah duduk, kini kakek-nya mulai berbicara.
"baiklah, sebelum membahas rumor aneh tentang-mu, mari kita bahas dulu tentang tindakan kedua orangtua-mu." ucap kakek Natalia sambil menatap Natalia dan kemudian menatap ke arah kedua orangtua natalia. lanjut-nya. "sebelum-nya aku sudah memperingati kedua orangtua-mu untuk berhenti memberikan didikan yang terlalu keras pada-mu, tapi ternyata perkataan-ku tidak di indahkan oleh mereka berdua." ujar-nya.
"tapi ayah.... Kami hanya ingin...."
__ADS_1
"diam." ucap kakek Natalia dengan tenang menghentikan ayah Natalia yang ingin memberi alasan. "tidak perlu banyak alasan, kau sejak dulu selalu saja tidak bisa mengendalikan emosi-mu dengan benar." ucap kakek Natalia dan membuat ayah Natalia hanya bisa diam.