Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Kemenangan Madika


__ADS_3

Saat ini Askila mengeluar-kan delapan kloning milik-nya.


lalu kedelapan kloning itu pun langsung menghadapi masing-masing satu Niverom.


"ternyata hewan ini bisa memperbanyak jumlah!" ucap Niverom pertama saat melihat kloning itu maju menghadapi Niverom lain-nya.


Setelah itu Askila yang asli pun langsung mengguna-kan bola halilintar dan menembakan-nya ke udara.


setelah bola halilintar itu berada di atas mereka, kini bola halilintar itu langsung mengeluar-kan sembilan halilintar yang menyambar ke bawah tepat ke arah para Niverom yang berada saat ini.


serangan halilintar itu sangat cepat dan membuat para Niverom itu langsung berusaha untuk menghindar.


namun, kesembilan halilintar itu tampak menyambar dan mengejar para Niverom yang sudah di target-kan.


"sial.... petir-nya bergerak dengan bebas saat menyerang!" batin Niverom ke-empat.


Selain halilintar itu, kini para kloning pun langsung melakukan tugas-nya, yakni menyerang para Niverom itu.


hal itu pun membuat para Niverom itu jadi sangat kerepotan bahkan banyak dari mereka yang kini terluka akibat serangan dari Askila serta kloning Askila.


"tchi!.... bola halilintar itu sangat menggangu!" ucap si Niverom pertama sambil menggertak-kan gigi-nya.


Kini Niverom pertama itu pun langsung melompat ke udara lalu dengan cepat langsung menebas ke arah bola halilintar itu.


namun belum sempat menebas kini Askila yang asli langsung melompat ke arah Niverom pertama itu dan langsung mencakar tubuh-nya hingga ia terlempar jauh dan menghantam sebuah pohon hingga tumbang.


Saat ini Niverom pertama itu mengalami luka cakar di bagian bahu-nya dan ia tampak kesakitan saat ini.


saat Niverom pertama itu hendak berdiri setelah menghantam pohon, tiba-tiba ia melihat halilintar yang berasal dari bola halilintar sebelum-nya kini melesat ke arah-nya.


hal itu pun membuat-nya sempat terkejut dan kemudian langsung melompat menjauh dari serangan halilintar itu.


tak cukup sampai di situ, kini Askila pun langsung mendekati Niverom itu dan langsung melancar-kan serangan berikut-nya.


******


Saat ini di tempat Madika dan Niverom tingkat Papitu tampak sebuah badai angin api berwarna biru sedang mengobrak-abrik hutan yang berada dalam wilayah penghalang berbentuk setengah lingkaran yang tercipta dari tongkat kaisar rotan api.

__ADS_1


di dalam sana tampak badai angin api bergerak secara acak dengan tekanan angin yang sangat kuat.


gelombang angin itu menghantam segala yang ada di dalam penghalang itu serta membakar-nya hingga menjadi abu.


api yang sangat panas itu terus bergerak bebas di dalam penghalang itu.


Di sisi lain, si Niverom tingkat Papitu saat ini tampak aman di dalam perisai berbentuk setengah lingkaran yang ia buat untuk menahan serangan gelombang angin api.


hingga akhir-nya gelombang angin api pun perlahan menghilang dan mulai mereda.


"HAHAHAHA!" si Niverom tertawa terbahak-bahak.


"aku akui!.... serangan mu memang sangat luar biasa!.... namun itu tidak cukup untuk mengalah-kan ku!..... hahahaha!" ucap-nya yang kemudian menertawa-kan Madika.


Sementara itu Madika yang melihat tingkah Niverom itu kini hanya tersenyum tipis namun tampak penuh arti.


Ketika Niverom itu melihat senyum Madika itu, si Niverom pun tampak kesal.


"sialan!.... seperti-nya kau memandang rendah diri-ku ya ha!?" bentak Niverom itu.


setelah itu Madika yang saat ini masih berada di udara langsung mengibas-kan tangan kanan-nya ke samping, dan seketika sebuah singgasana dengan dua harimau api penjaga muncul di dekat Madika.


kedua harimau api itu langsung menunduk-kan kepala-nya saat melihat Madika.


"terimalah hormat dari kami tuan." ucap kedua harimau api itu dengan nada merendah diri.


Madika yang mendapat hormat dari kedua serigala api itu hanya diam saja dan kemudian madika pun dengan santai-nya langsung duduk di singgasana itu.


Sementara itu, si Niverom yang melihat tindakan Madika tampak semakin geram terhadap Madika.


"hoi!!..... apa kau tak mendengar-ku dasar sial@n!!" teriak Niverom itu.


Madika yang melihat Niverom itu semakin geram terhadap-nya kini hanya menampil-kan senyum tipis namun tampak mengisyarat-kan sebuah pernyataan akan kemenangan yang sudah di pasti-kan.


"dasar mahluk bod0h." ucap Madika dengan tenang sambil menyandar-kan tangan kiri-nya di sandaran tangan yang ada di kursi singgasana itu sambil menopang dagu-nya mengguna-kan tangan kiri-nya itu.


setelah ia menjentik-kan jari tangan kanan-nya sambil tersenyum licik.

__ADS_1


"enyah-lah!" ucap-nya singkat.


Seketika terjadi ledakan yang sangat kuat tepat di depan si Niverom itu.


hal itu pun membuat si Niverom langsung terkejut dan tak sempat melakukan tindakan antisipasi.


jangan-kan tindakan antisipasi, bahkan untuk memikir-kan bagaimana bisa terjadi ledakan di depan-nya saja pun otak-nya sudah tak bisa mencerna.


padahal sejak awal ia sudah tahu tentang peluru angin namun otak-nya tak sempat bertindak untuk memperkira-kan hal itu.


Kini ledakan yang terjadi di dalam perisai setengah lingkaran milik Niverom itu membuat Niverom itu mengalami luka yang sedikit berat sehingga ia tak bisa mempertahan-kan perisai milik-nya dan setelah ledakan kedua terjadi di dalam perisai itu, akhir-nya perisai itu hancur berkeping-keping dan si Niverom itu langsung terlempar jauh.


ketika si Niverom menghantam tanah setelah terlempar, tiba-tiba sebuah ledakan terjadi lagi tepat di samping tempat Niverom itu menghantam tanah.


alhasil Niverom itu kini menjadi bulan-bulanan serangan peluru angin milik Madika.


bahkan sesekali Madika mengeluar-kan peluru angin lain-nya setelah memprediksi-kan apa bila si Niverom akan terlempar di tempat yang tidak ada peluru angin-nya.


hal itu pun membuat si Niverom tidak bisa berbuat apa-apa.


setiap kali mau bergerak, tiba-tiba terjadi ledakan yang membuat si Niverom terhempas.


Niverom itu sama sekali tak di beri waktu untuk bergerak.


Madika terus melancar-kan serangan bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan pada Niverom.


Kini Niverom itu pun telah babak belur. hampir seluruh tulang di tubuh-nya mengalami patah dan juga mengalami pergeseran.


si Niverom itu terlihat tidak berdaya lagi dan kini Niverom itu jatuh begitu saja dari udara setelah terlempar kesana kemari akibat ledakan peluru angin.


Madika yang melihat hal itu kini hanya bisa menghela nafas.


diri-nya sebenar-nya tidak terlalu suka dengan pemandangan ini karena trik ini membuat lawan-nya tersiksa namun tidak langsung terbunuh.


ada-pun yang langsung terbunuh adalah mereka yang kekuatan-nya jauh di bawah Madika.


"jurus ini memang terlihat sederhana, namun jika di kombinasi-kan dengan trik yang tepat maka ia bisa menjadi sebuah jurus yang sangat sulit untuk di atasi.... sekali terjerat sama arti-nya dengan kekalahan." ucap Madika.

__ADS_1


__ADS_2