Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Di Keroyok


__ADS_3

Madika saat ini sedang di perhadapkan dengan orang-orang yang sangat banyak jumlahnya.


Hampir seluruh anggota klan itu kini sudah berkumpul dan mengepung madika.


Sementara itu para tetua itu juga sedang mencoba menahan Madika.


Tampak tetua Lingka terus menyerang Madika menggunakan tebasan petir miliknya.


Namun Madika selalu bisa menghindar dan itu membuat para tetua itu jadi sedikit kesal.


"Tetua Lingka!" Ucap salah satu pemuda sambil mendekati tetua Lingka dan kemudian segera berlutut.


"Biar kami yang muda saja yang mengurusi bocah itu, akan sangat tidak baik jika orang luar mendengar berita bahwa seorang bocah di hajar habis-habisan oleh tiga tetua... Berita seperti itu tentunya akan menjadi momok buruk bagi klan kita." Ucap pemuda itu.


Pemuda itu adalah salah satu dari 8 pemuda terkuat di klan itu, dan mereka saat ini rata-rata sudah berada di tingkat master, sama seperti Madika.


"Benar juga katamu." Balas tetua Lingka sambil mengelus janggutnya. Lanjutnya, "Kalau begitu kami serahkan bocah itu pada kalian." Ucap tetua Lingka menyerahkan pertarungan itu pada para pemuda di klan mereka.


Setelah tetua Lingka berkata seperti itu, tetua Lingka pun mengajak para tetua lainnya dan dengan segera mereka pun menjauh dari area itu.


Sementara itu, enam pemuda terkuat langsung turun ke area yang saat ini sudah bersih akibat langkah dewa angin milik Madika sebelumnya.


"Kenapa Jinjo tidak ikut?" Tanya salah satu tetua saat melihat bahwa pemuda terkuat yang berada di posisi nomor satu di antara sepuluh pemuda itu kini hanya berdiri memandangi para pemuda lainnya yang sudah turun dari atap dan langsung bergabung dengan pemuda yang sebelumnya meminta izin dari para tetua.


"Entahlah... Mungkin dia hanya ingin melawan bocah itu sendirian, jadi ia membiarkan pemuda lainnya bergerak lebih dulu agar dirinya bisa mempelajari cara bertarung lawan." Ucap tetua Rionda yang sangat mengenal pola pikir Jinjo.


"Jinjo memanfaatkan para pemuda lainnya untuk mengenali seperti apa lawannya saat ini... Dia tidak mau bertindak gegabah, karena itu ia membiarkan mereka bertarung lebih awal dan kemudian ia yang akan mengambil keuntungan di akhir." Sanggah tetua Akina.


Setelah itu, kini tetua Lingka langsung menyuruh seluruh anggota klan yang berada di tingkat grand master untuk membuat sebuah penghalang besar berbentuk setengah bola.


Para anggota klan itu pun langsung membuat penghalang seperti yang di ucapkan oleh tetua itu.


Namun penghalang yang di buat kali ini jauh lebih kuat dari yang di buat oleh para junior Kindo sebelumnya.


Hal itu bisa di lihat dari formasi yang di gunakan oleh para senior di tempat itu tampak jauh berbeda.


Bahkan pembentukan penghalang juga berbeda dan sebelum penghalang terbentuk tampak ada lingkaran energi yang sangat luas memenuhi tanah di tempat yang sudah di sapu rata oleh Madika sebelumnya.

__ADS_1


Kini Madika dan tujuh pemuda itu terkurung di dalam penghalang transparan itu, dan tampak tujuh pemuda itu kini berdiri di depan Madika dengan tatapan sinis menatap Madika.


"Jadi bagaimana?... Apa perlu kita keroyok atau bertarung satu lawan satu?" Tanya salah satu pemuda pada pemuda lainnya.


"Jika bocah ini berani masuk ke tempat ini dan membuat keributan, maka itu berarti dia memiliki kemampuan yang cukup mumpuni... Sebaiknya kita keroyok saja agar lebih cepat!" Jawab salah satu dari mereka.


"Terserah kalian mau yang mana!... Yang jelasnya aku akan segera menyerang bocah itu!" Ucap salah satu pemuda lainnya sambil memunculkan sebuah tombak di tangan kanannya.


Ia kemudian langsung melesat cepat ke arah Madika.


Madika pun dengan segera memunculkan pedang ganda miliknya.


Pemuda itu tiba di hadapan Madika dan langsung menyerang menggunakan tombaknya.


Madika langsung menghindari serangan itu, Lalu dari jarak yang cukup jauh seorang pemuda lainnya menembakkan puluhan pedang petir ke arah Madika.


Namun dengan gerakan yang sangat lincah Madika pun bisa menangkis dan menghindari semua pedang yang di tembakkan ke arahnya.


Ia dengan gesitnya memainkan kedua pedang sambil bergerak memutar bahakan melakukan salto di udara guna menghindari serangan.


Tidak cukup sampai di situ, tiga pemuda lainnya kini maju menyerang Madika.


Madika yang menyadari hal itu segera bersiaga.


Begitu ketiga pemuda itu tepat berada di dekatnya, kini mereka berempat pun langsung mengadu kemampuan berpedang mereka.


Ketiga orang yang menyerang Madika saat ini juga menggunakan pedang.


Mereka menyerang dengan kombinasi yang tampak cukup sempurna.


Saat Madika menghindari serangan dari satu orang, maka dua pemuda lainnya akan segera menyerang secara bergantian.


Madika seolah terpukul mundur akibat kombinasi dari ketiga pemuda itu.


Namun Madika terus berusaha untuk menangkis dan menghindari serangan mereka sehingga tak satu pun serangan itu terkena dirinya.


"Kau lumayan juga rupanya!" Ucap salah satu pemuda yang saat ini melompat ke udara dan mendarat sambil menebaskan pedangnya pada Madika namun bisa di hindari oleh Madika.

__ADS_1


"Terimakasih atas pujiannya!" Balas Madika dengan ekspresi datar.


"Tchi... Sial@n!... Jangan sok kuat kau bocah!" Ucap pemuda lainnya yang tampak sangat kesal.


Lanjutnya, "Dari tadi kau hanya terus menghindar, jika memang punya kemampuan tunjukkan sekarang juga padaku!... Akan ku hadapi kau sampai kau mati di tanganku!" Ucap pemuda itu dengan angkuh dan tampak kesal.


Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba Madika pun langsung muncul dari bayangan pemuda itu.


Madika muncul dengan sangat cepat tepat di belakang pria itu.


Sementara pria itu saat ini hanya bisa terkejut saat melihat Madika yang tiba-tiba menghilang begitu saja dari tempat ia berdiri sebelumnya.


Pemuda itu sama sekali belum sadar kalau Madika sudah ada di belakangnya.


Hingga akhirnya Madika pun langsung menebaskan pedangnya yang ia perkuat dengan elemen angin milik-nya.


Pedang itu pun langsung memotong leher pemuda yang angkuh itu dalam satu tebasan.


Kini kepala pria itu langsung berguling di atas tanah dengan keadaan mata yang masih terbelalak terkejut ketika melihat Madika menghilang sebelumnya.


Semua yang melihat kejadian itu langsung terkejut seketika.


Mereka semua tidak menyangka akan semudah itu bagi Madika untuk membunuh orang yang sama-sama berada di tingkat master.


Sementara itu, tiga tetua kini ikut terkejut melihat hal itu.


sementara sala satu dari mereka kini langsung naik pitam dan mencoba untuk turun ke bawah sana dan menghajar Madika.


Namun tiba-tiba salah satu tetua lainnya langsung menahannya.


"Jangan terlalu terburu-buru... Jika memang ingin melihat potensi para pemuda ini, maka sebaiknya kita tetap biarkan mereka menghadapi masalah mereka sendiri." Ujar tetua Akina yang menahan Lingka.


"Tapi jika terus di biarkan, bisa-bisa kita akan kehilangan banyak pemuda berbakat!" Ucap tetua Lingka dengan wajah kesal.


"Tenang saja... Jika bocah itu membunuh satu orang lagi, maka kita harus segera turun tangan!" Timpal tetua Akina.


Baru saja berkata seperti itu, kini Madika sudah berhasil membunuh satu lagi pemuda yang sedang bertarung dengannya.

__ADS_1


"Kau lihat itu!" Ucap Lingka dengan suara keras sambil menunjuk ke arah pemuda yang baru saja di bunuh. "Dia dengan mudah membunuh para pemuda terbaik di sini!"


__ADS_2