
Setelah beberapa saat kemudian, kini tempat ledakan peluru angin yang tadi-nya penuh dengan gumpalan debu yang terlihat seperti asap kini perlahan lenyap.
hingga akhir-nya terlihat sosok Tepaonjo dan kedua anggota-nya yang kini tergeletak di tanah dan berada di tempat yang terpisah-pisah.
Tepaonjo saat ini terlihat berada di bawah pohon, dan tampak pada batang pohon seperti sebuah bekas hantaman karena tadi Tepaonjo memang terhempas dan menghantam pohon itu dengan sangat kuat.
sementara itu, Langu saat ini terlihat berada di bawah batu yang cukup besar.
ia terkapar dan tak bisa berdiri lagi. ia hanya mengangkat wajah-nya dan menatap Madika dengan ekspresi menahan rasa sakit.
di sisi lain tampak Lili yang berada cukup jauh dari mereka.
Lili saat ini terlihat tersangkut di salah satu dahan pohon.
ia kemudian berusaha berdiri namun tidak bisa. alhasil ia hanya bisa duduk di dahan pohon itu sambil menenangkan diri-nya.
Ledakan bertubi-tubi itu membuat Tepaonjo dan kedua anggota-nya itu mengalami luka yang tidak begitu serius, namun tetap saja mereka tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa mereka mengalami luka dalam. hal itu bisa di tandai dengan mulut mereka.
saat ini tampak dari mulut mereka bertiga keluar darah. bahkan saat ini Langu tidak hanya mengeluarkan darah dari mulut, tapi juga dari hidung dan salah satu mata-nya.
"ba.... barusan itu teknik apa?" ucap Tepaonjo yang saat ini tenaga dan stamina-nya terkuras karena serangan bertubi-tubi dari Madika.
Madika yang saat ini berjalan mendekati Tepaonjo tentu-nya mendengar pertanyaan itu.
tak lama setelah itu Madika pun kini sudah berdiri di depan Tepaonjo.
ia menatap Tepaonjo dengan ekspresi serius.
"untuk saat ini kau tidak perlu tahu." jawab Madika dengan ekspresi datar.
lalu Madika langsung memegang kepala Tepaonjo menggunakan tangan kanan-nya.
"maaf sudah menipu kalian dengan cerita-ku yang hanya omong kosong itu." ucap-nya. "yang jelas-nya, untuk saat ini kau tidak akan mati dengan rasa sakit."
Setelah berkata seperti itu, seketika kepala Tepaonjo langsung meledak.
__ADS_1
darah-nya terciprat dengan cepat dan terbawa oleh arus angin yang kuat sehingga terlihat seolah tak ada di tempat itu.
Di sisi lain, saat kepala Tepaonjo meledak. seketika tubuh asli Tepaonjo yang berada di sebuah lahan kosong tempat ia mengaktifkan alat Polinjanyawa tampak tubuh asli Tepaonjo langsung tersentak dan diri-nya langsung membuka mata-nya.
"apa yang terjadi barusan!?" ucap Tepaonjo sambil melihat-lihat seluruh tubuh asli-nya untuk memastikan bahwa diri-nya sudah benar-benar kembali ke tubuh asli-nya. "aku benar-benar tidak merasakan apa-apa!" batin-nya.
lalu Tepaonjo menoleh ke sekitar tempat itu, dan di sana ia melihat beberapa teman-nya dengan tubuh asli mereka kini tidak ada lagi di tempat itu.
namun ia melihat di tempat itu tubuh asli Madika masih ada di sana.
"sial!.... dia benar-benar menipu-ku!" ucap Tepaonjo dengan kesal.
Setelah beberapa saat kemudian, Tepaonjo kini melihat sebuah papan yang berbentuk anak panah.
di papan itu tertulis.
"yang sudah gugur lewat sini."
melihat tulisan itu, Tepaonjo pun langsung berdiri dari duduk-nya. ia langsung berjalan ke arah yang di tunjuk-kan oleh papan yang berbentuk anak panah itu.
hal itu di akibatkan oleh kejadian yang baru saja mereka lihat. yakni kejadian dimana kepala Tepaonjo langsung meledak begitu saja ketika di pegang oleh Madika.
hal itu tentu-nya membuat bulu kuduk mereka berdua langsung berdiri.
jantung mereka berdetak kencang karena rasa takut yang makin menjadi.
rasa takut mereka terasa semakin dalam. semakin dalam, dan semakin dalam hingga mereka tenggelam dalam rasa takut.
hawa mencengkam pun terjadi di tempat itu.
Madika menoleh ke arah Lili dan Langu.
kedua-nya terkejut melihat tatapan Madika yang mendapat terlihat menyeramkan di mata mereka.
"maaf, aku tidak punya pilihan lain." ucap Madika sambil membuang pandangan-nya dari Lili dan Langu seolah diri-nya tak ingin melihat mereka berdua mati dengan mengenaskan.
__ADS_1
Sedetik setelah Madika membuang pandangan-nya, saat itu pula tampak dua peluru angin melesat ke arah masing-masing mereka.
peluru angin itu langsung menusuk dan masuk ke dalam kepala mereka.
dalam sekejap kepala mereka pun langsung meledak begitu saja dan membuat kesadaran mereka langsung kembali ke tubuh asli mereka.
Saat kesadaran mereka kembali, mereka terbangun di tubuh asli mereka yang berada di sebuah tempat terbuka, yakni tempat mereka mengaktifkan alat Polinjanyawa mereka masing-masing.
Di sisi lain, tepat di sebuah lahan kosong tempat para siswa berkumpul sebelum-nya tampak ada sebuah layar lebar yang menunjuk-kan situasi para siswa saat ini, dan di sana juga terlihat para guru memantau keberadaan dan situasi siswa-siswa mereka.
Tak lama setelah itu Tepaonjo datang ke tempat itu dan mendekati rombongan siswa yang saat ini juga sudah ada di tempat itu.
Saat Tepaonjo tiba di antara rombongan itu, pak Kulimu melihat kedatangan-nya dan langsung mendekati-nya.
"padahal ku pikir kau tidak akan termakan omong kosong Madika." ucap pak Kulimu sambil menepuk bahu Tepaonjo.
"maaf, aku benar-benar tertipu oleh-nya.... sejak awal aku memang tidak memperhatikan saat diri-nya menggunakan alat Polinjanyawa.... hal itu pun membuat-ku ragu, bagaimana kalau dia memang benar-benar tidak menggunakan-nya?." balas Tepaonjo dengan ekspresi lesu.
"Madika memang sedikit licik di sini.... meskipun begitu, tetap saja apa yang di perbuat Madika itu benar, karena dia telah memanfaatkan kelemahan musuh-nya untuk membalik-kan keadaan-nya yang sudah hampir kalah." ucap pak Kulimu memberi penjelasan tentang apa yang di lakukan oleh Madika.
"hmm..... Anda benar." balas Tepaonjo mengakui kekalahan-nya dengan tenang.
Setelah itu mereka pun langsung menatap ke layar lebar yang ada di depan mereka.
mereka kini melihat semua situasi siswa di dalam hutan itu melalui layar lebar itu.
Di sisi lain, saat ini di tempat yang cukup jauh dari tempat pertarungan sebelum-nya tampak Madika yang sedang berusaha berjalan. langkah kaki-nya terlihat sedikit pincang.
ia berjalan dengan sangat pelan.
saat ia berada di samping pohon, ia pun langsung menyandarkan tubuh-nya ke batang pohon itu.
"hah.... sebaik-nya aku beristirahat du...." belum selesai Madika berkata seperti itu tiba-tiba kepala-nya langsung pusing dan pandangan-nya menjadi kabur.
seketika Madika pun tumbang dan diri-nya jatuh begitu saja ke tanah.
__ADS_1
ia kini berbaring tidak sadarkan diri di bawah pohon itu.