
Saat ini, Aurel yang sebelum-nya mencoba menyelamat-kan madika kini malah menjadi target empuk bagi Gupo.
apa lagi saat ini ia sedang mengganggu Gupo untuk menghabisi Madika dan itu tentu-nya membuat Gupo jadi kesal di buat-nya.
Gupo pun akhir-nya mengayun-kan pedang-nya itu untuk menebas Aurel, namun dengan kecepatan yang mumpuni kini Madika langsung muncul di hadapan Gupo dengan penampilan sayap serta kaki monster semut yang tampak sangat gagah di punggung-nya.
Madika yang kini berada di depan Gupo kini langsung memblokir tebasan Gupo mengguna-kan tongkat kaisar rotan api milik-nya.
"urusan-mu dengan ku!, bukan dengan gadis ini!!" bentak Madika.
~JLEEEBBBB!!~
Kini tampak dada Madika tertusuk oleh sebuah pedang angin dari belakang.
pedang angin itu di tusuk-kan dari arah belakang hingga tembus di bagian dada Madika.
Di saat yang bersamaan, tampak sekelompok kupu-kupu dengan bermacam-macam variasi warna langsung terbang melewati wajah Madika dan langsung terbang ke belakang Madika.
sekelompok kupu-kupu itu ternyata adalah hewan peliharaan milik Aurel.
sementara itu, pelaku penusukan terhadap Madika itu tidak lain dan tidak bukan adalah Aurel.
saat ini Aurel terlihat sedang menusuk Madika dari belakang.
Madika pun kini langsung menoleh ke belakang dan mendapati Aurel yang saat ini masih memegang pedang angin yang ia tusuk-kan ke tubuh Madika hingga menembus tubuh-nya.
Sementara itu, Aurel yang saat ini menusuk Madika tampak tidak mau menatap ke arah Madika.
ia hanya terus menatap ke bawah sehingga terkesan sedikit menunduk dan menyembunyi-kan wajah-nya dari madika, dan hingga akhir-nya Madika pun mulai buka suara.
__ADS_1
"te.... ternyata kau benar-benar Delisa Nemosu, putri dari Karu Nemosu." ucap Madika yang sedikit tergagap karena rasa sakit serta nafas-nya yang terasa semakin berat dan sulit untuk di tarik.
Sementara itu Aurel pun kini langsung terkejut dan ia langsung menatap ke arah Madika dengan mata yang terbelalak dan ekspresi yang tampak tidak percaya.
"ka.... kau tahu siapa aku?" tanya Aurel yang ternyata memang putri dari Karu Nemosu yang bernama asli Delisa Nemosu.
"ya.... aku tahu." jawab Madika singkat sambil kembali menoleh ke depan, tepat ke arah Gupo yang saat ini sedang berdiri di depan-nya dan telah berhenti menekan pedang ke arah-nya.
"sejak kapan kau mengetahui-nya?" tanya Delisa yang kini kembali terlihat murung dan kembali menatap ke bawah.
"sejak kita pertama bertemu.... saat itu aku sudah mencurigai-mu." jawab Madika dengan jujur.
"ba.... bagaimana mungkin?!.... jika itu memang benar kenapa kau mau menerima-ku?!" tanya Delisa yang kini kembali menatap Madika dengan tatapan meminta penjelasan.
"tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin mengetahui niat-mu yang sebenar-nya.... itu saja." jawab Madika.
Sebenar-nya sejak awal Madika memang sudah tahu tentang Delisa saat Madika masih berada di kota Kayau.
Kedatangan Delisa di tempat itu tentu-nya menarik perhatian Madika karena saat itu Delisa benar-benar tak bisa mengontrol aura Saga milik-nya, dan aura Saga yang penuh dengan niat membunuh itu bisa ia rasa-kan dengan jelas.
Saat merasa-kan aura membunuh yang keluar dari tubuh Delisa di hari di mana Madika mengeksekusi ayah Delisa, saat itu lah Madika pun mulai mengenali aura milik Delisa sehingga saat Delisa muncul sebagai Aurel, Madika pun langsung mencurigai bahwa Aurel adalah Delisa karena saat kemunculan Aurel di depan gua tempat Madika bersemedi, di sana-lah Madika merasa-kan kembali aura Saga milik Delisa, dan saat Madika keluar dan bahkan melakukan perjalanan dengan Aurel, saat itu lah Madika pun mulai yakin bahwa Aurel adalah Delisa.
Oleh sebab itu pula akhir-nya Madika memanfaat-kan pertengkaran dengan duo bucin itu sebagai alasan untuk pergi meninggal-kan Delisa bersama dengan duo bucin itu.
Namun pada akhir-nya nasib Madika malah berujung jadi seperti ini meski-pun diri-nya sudah berusaha menjauhi Delisa yang sudah pasti-nya menyimpan dendam pada diri-nya.
"haha.... hahahaha.... hahahaha... itu benar-benar alasan yang konyol!" bentak Delisa sambil mencabut pedang-nya dengan sangat kasar hingga tubuh Madika langsung tersentak.
"UHUK!!"
__ADS_1
Madika terbatuk dan tampak darah keluar dari mulut-nya dalam jumlah yang cukup banyak.
sementara itu tampak dari dada Madika yang saat ini telah berlubang akibat tusukan pedang Delisa saat ini mulai mengucur-kan lebih banyak darah lagi.
lalu Madika kini tak lagi bisa berdiri dengan tegak.
ia kini mulai sempoyongan hingga akhir-nya jatuh berlutut di atas lantai.
namun Madika tampak masih berusaha untuk menopang tubuh-nya mengguna-kan tongkat kaisar rotan api yang ada di tangan-nya.
Gupo yang melihat hal itu kini langsung menarik tongkat itu dari tangan Madika dengan sangat kasar sehingga tubuh Madika pun langsung jatuh dan dengan cepat ia langsung mengguna-kan kedua tangan-nya untuk menopang tubuh-nya agar tak langsung menyentuh lantai.
Tidak cukup sampai di situ saja, Gupo yang saat ini melihat Madika yang sedang jatuh berlutut itu kini langsung menginjak kepala Madika dengan keras hingga membuat kepala dan tubuh Madika langsung terdorong ke bawah hingga menghantam lantai dengan kuat.
seketika itu juga wajah Madika langsung mengeluar-kan banyak sekali darah.
Sementara itu, Delisa kini hanya bisa menatap Madika dengan tatapan dingin.
diri-nya saat ini telah berhasil menyelesai-kan balas dendam-nya terhadap Madika yang ia anggap sebagai penyebab dari segala masalah yang ia hadapi saat ini.
Sebelum-nya, saat ayah Delisa yakni Karu Nemosu terbunuh di tangan Madika, saat itu Delisa memang menyimpan dendam pada Madika.
namun rasa dendam itu tak berlangsung lama dan Delisa sudah bisa introspeksi diri karena ia sebenar-nya juga telah mengetahui kejahatan yang di lakukan oleh ayah-nya itu.
karena itulah Delisa pun mencoba untuk menerima kematian ayah-nya serta melupa-kan semua hal itu.
namun naas-nya, sehari setelah kematian ayah-nya, saat itu pula ibu-nya menjadi sangat depresi dan selalu bersedih karena sebenar-nya ibu Delisa sama sekali tak tahu kejahatan yang di lakukan oleh suami-nya itu.
Yang mengetahui rahasia suami-nya itu hanyalah Delisa, dan Hongu.
__ADS_1
sementara ia dan putri-nya yang masih kecil itu sama sekali tak tahu apa-apa tentang kejahatan yang di lakukan oleh Karu Nemosu.