Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Kemenangan Madika


__ADS_3

Melihat keadaan Freon yang semakin melemah, kini Madika pun langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk terus menyerang agar Freon tak memiliki kesempatan untuk menghindar atau pun menyerang balik.


Madika kini terus melanjutkan langkah angin milik-nya sehingga kini gelombang angin terus menyerang Freon secara bertubi-tubi.


Gelombang angin beruntun kini tampak bergerak ke arah Freon dan langsung menghantam tubuh Freon secara bertubi-tubi hingga Freon terus terdorong dan terhempas ke belakang.


Kini Freon benar-benar tak memilik kesempatan untuk melakukan serangan balik atau pun melakukan tindakan pencegahan seperti membuat perisai atau semacam-nya.


Gelombang angin yang di hasilkan dari langkah angin kini terus menghantam Freon.


mulut dan hidung Freon kini penuh dengan darah.


bahkan benturan di lantai pun membuat kepala Freon juga ikut mengeluarkan darah yang cukup banyak.


Kini tak terasa langkah angin Madika telah mencapai batas persyaratan yang di perlukan untuk mengaktifkan jurus langkah dewa angin.


"akhir-nya selesai juga!" batin Madika.


"cepat selesaikan urusan-mu dengan bocah itu, dan kembalilah memulihkan Saga-mu setelah pertarungan ini." ucap tuan Risiwuku memberi saran.


"uhmm" gumam Madika sambil mengangguk sekali.


Setelah serangan gelombang angin selesai, kini Madika langsung melesat ke arah Freon dan langsung melancarkan tinju angin yang sangat kuat ke perut Freon dan membuat Freon terlempar sangat kuat di udara.


Saat Freon masih di udara, Madika pun langsung menembakan satu peluru angin ke dada Freon dan membuat Freon makin kesakitan.


"ARRRRGGG!!!"


teriak Freon sambil menahan sakit yang di rasakan-nya.


Baru saja selesai berteriak kini tubuh Freon langsung jatuh ke tanah.


ia pun langsung berguling-guling beberapa kali hingga akhir-nya berhenti.


Saat tubuh-nya berhenti berguling, kini Freon hanya bisa berbaring di atas lantai dengan posisi telungkup.


lalu ia pun perlahan mengangkat wajah-nya dan menatap Madika dengan ekspresi kesal.

__ADS_1


"aku masih belum kalah sial@n!" ucap Freon yang masih ngotot meskipun diri-nya sudah tak punya tenaga untuk berdiri lagi.


Madika yang melihat kegigihan Freon itu pun kini merasa sebaik-nya segera membunuh Freon agar pertarungan ini benar-benar selesai.


"kalau kau masih saja seperti itu, maka mati-lah!" ucap Madika sambil menjentik-kan jari-nya.


~DUAAARRR!!~


Seketika tubuh Freon pun meledak dan membuat organ-organ tubuh-nya berhamburan di arena pertarungan.


bahkan usus-nya yang masih di sertai t@hi yang belum ia keluarkan pagi ini tampak berserakan di lantai.


Melihat pemandangan mengerikan itu, kini banyak yang terkejut bahkan ada beberapa yang langsung muntah-muntah melihat-nya.


Namun, kali ini beberapa orang yang muntah-muntah itu bukan karena mereka belum terbiasa melihat pemandangan mengerikan itu, melainkan karena melihat t@hi yang saat ini berserakan di lantai.


Melihat pertarungan yang kini telah selesai, kini pemimpin pertandingan pun langsung mengumumkan kemenangan Madika atas Freon.


Mendengar suara si pemimpin pertandingan yang memberi pernyataan menang pada Madika, kini para penonton pun langsung bersorak. terutama para pendukung Madika.


bahkan mereka berani pasang harga tinggi dalam taruhan yang mereka lakukan.


"Madika luar biasa!"


"Madika tak terkalahkan!"


"tidak ada lawan!"


"penguasa arena pertarungan!"


"maju terus Madika!"


Banyak sorakan kini terdengar di antara para penonton yang menang taruhan itu, sementara para penonton yang kalah taruhan tampak diam dengan ekspresi kesal dan putus asa karena jagoan mereka yakni Freon ternyata di kalahkan oleh Madika yang hanya seorang siswa kelas satu.


"hahahaha sudah ku duga dia yang akan menang!" ucap tuan Samon dengan ekspresi bangga sambil mengelus janggut kesayangan-nya.


"ternyata kekuatan bocah yang bernama Madika ini benar-benar tidak biasa.... ia bahkan bisa menggunakan jurus langka yang selama ini sulit di temukan dan di pelajari oleh para ksatria Saga tingkat Epic di tanah Agrilis ini." ucap kepala akademi memberi komentar terhadap Madika.

__ADS_1


"kau benar, aku baru melihat jurus penyatuan-nya ini dengan sempurna.... selama ini aku hanya menemukan beberapa potongan kecil tentang jurus penyatuan yang Madika gunakan itu sehingga aku tak bisa melatih-nya dengan benar...


namun ternyata Madika justru sudah memiliki pengetahuan sempurna tentang jurus itu." ucap tuan Samon menanggapi perkataan kepala akademi.


Sementara itu, Natalia yang sedari tadi mendengarkan ocehan kedua orang tua itu kini mulai pasang ekspresi tidak nyaman serta merasa seolah sedang kesal.


"tchi.... dari tadi kalian terus memuji anak itu!.... apa kalian pikir dia itu satu-satunya yang terkuat di akademi ini?" ucap Natalia dengan ekspresi ketus.


Mendengar ucapan Natalia itu, kini tuan Samon pun langsung menoleh pada Natalia.


"Natalia, ada sesuatu yang harus kakek beritahu-kan pada-mu.... ayo ikut kakek." ucap tuan Samon yang kemudian langsung berdiri dari duduk-nya.


Setelah itu tuan Samon pun berjalan meninggalkan kursi-nya.


kepala akademi hanya bisa melihat kepergian tuan Samon dengan ekspresi terheran-heran.


"ada sesuatu yang kakek ingin bicarakan empat mata dengan-mu.... ayo cepat ikut kakek!" ucap tuan Samon memanggil cucu-nya yang masih duduk dan tak bergerak sedikit pun.


Mendengar panggilan tuan Samon, Natalia pun akhir-nya berdiri dari duduk-nya. ia kemudian sekali lagi melihat ke arah arena pertarungan tepat saat Madika berjalan keluar dari arena.


"sudah ku duga Madika memang satu-satunya yang harus ku waspadai dalam pertarungan ini.... di pertarungan penentuan nanti aku tidak boleh ceroboh lagi, dan aku pasti akan menghabisi-nya!" batin Natalia yang kemudian berlalu dari tempat itu.


Saat ini, tuan Samon dan Natalia berada di salah satu atap gedung akademi.


di atap itu tidak ada siapa-siapa, hanya mereka berdua saja. bahkan pengawal pribadi tuan Samon pun tidak ada di tempat itu.


mereka sudah di beritahu-kan untuk tidak menguping pembicaraan tuan Samon dan Natalia.


"apa kau ingin tahu kenapa kakek sangat mendukung bocah yang bernama Madika itu?" tanya tuan Samon tanpa menoleh pada Natalia.


Angin berhembus menerbangkan rambut Natalia yang terurai serta mengibarkan jubah berwarna keemasan milik tuan Samon yang saat ini tuan Samon kenakan.


Natalia yang mendengar pertanyaan kakek-nya itu jadi sedikit penasaran, hal itu karena selama ini ia sedikit bertanya-tanya kenapa kakek-nya itu selalu bersemangat ketika membahas tentang Madika.


"apa ada sesuatu yang istimewa dari anak itu?" tanya Natalia tanpa menoleh pada kakek-nya.


"ya.... kakek merasa anak itu suatu saat nanti akan menjadi orang yang besar.... bahkan mungkin kemampuan-nya akan melampaui tingkatan yang bahkan tidak bisa kakek capai!" ucap tuan Samon dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2