Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Kindo


__ADS_3

Saat ini Kindo memuncul-kan seekor hewan monster jenis babi hutan yang besar-nya sebesar truk.


tampilan monster babi hutan itu tampak sangat sangat dengan mata merah serta gigi runcing menjulur keluar dari mulut-nya.


Kindo yang sudah selesai menyiap-kan jurus-nya itu, kini langsung mengayun-kan pedang-nya ke arah Madika yang saat ini terlindungi oleh pilar tanah yang sangat tebal yang di jadi-kan sebagai perisai.


Kini monster babi hutan yang tercipta oleh Saga petir itu pun langsung berlari di udara dengan sangat cepat menuju ke arah Madika untuk menabrak pilar tersebut.


Kini monster babi hutan petir itu pun langsung menabrak pilar itu.


tabrakan itu pun menghasil-kan ledakan energi yang luar biasa dan memberikan efek hentakan udara yang membuat para rekan Kindo dan rekan Gupo tampak terdorong mundur akibat tekanan energi serta efek hentakan udara itu.


"serangan yang sangat kuat!" ucap salah satu rekan Gupo.


"kak Kindo memang luar biasa!"


"senior Kindo benar-benar sangat hebat!"


"maju terus senior!"


Kini serangan Kindo pun terus menekan pilar tanah Madika hingga akhir-nya kini terjadi ledakan yang cukup kuat, dan ledakan itu menghancur-kan pilar tanah milik Madika.


Kini puing-puing dari pilar tanah yang hancur itu langsung terhempas ke berbagai arah dan beberapa puing hampir terkena rekan-rekan Kindo dan Gupo.


Ledakan itu tampak menghasil-kan gumpalan asap tebal yang menutupi tempat Madika berlindung mengguna-kan pilar tanah tersebut.


Melihat hal itu, kini mereka semua penasaran dengan apa ya g terjadi di dalam sana.


terutama saat mereka sedang tak bisa merasa-kan keberadaan energi Saga milik Madika di tengah-tengah gumpalan asap yang sangat tebal itu.


hal itu pun membuat beberapa dari mereka kini mengira bahwa Madika telah di kalah-kan dengan satu serangan tersebut.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, kini asap tebal yang menyelimuti tempat terjadi-nya ledakan itu kini mulai lenyap, dan saat asap tebal itu telah lenyap, kini mereka semua langsung terkejut karena ternyata Madika sudah tak ada di tempat itu dan tampak di bawah lantai ada bekas galian.


Hal itu pun membuat Kindo, Gupo, dan para rekan mereka langsung menyadari bahwa Madika saat ini sedang masuk ke dalam tanah.


Namun aneh-nya, mereka sama sekali tak bisa merasa-kan energi Saga Madika sehingga mereka tak bisa memasti-kan apa-kah Madika benar-benar sudah mati atau belum.


Akan tetapi, tampak beberapa rekan Gupo dan rekan Kindo ada yang percaya bahwa kemungkinan Madika telah mati dan mayat-nya bahkan tak tersisa akibat terkena serangan yang sangat kuat dari Kindo.


Sementara itu, Kindo dan Gupo yang melihat hal itu tentu-nya memiliki tanggapan sendiri.


Gupo saat ini berpikir bahwa kemungkinan Madika mengguna-kan sebuah trik untuk mengelabui mereka sama seperti yang Madika lakukan saat melawan Udin sebelum-nya.


sementara itu, Kindo yang tadi-nya menyerang Madika tentu sadar bahwa jurus-nya itu bukan-lah jurus yang bisa membuat seseorang mati tanpa meninggal-kan mayat, dan dari hal itu-lah kini Kindo mencurigai bahwa kemungkinan Madika saat ini sudah kabur lewat tanah tanpa mereka sadari.


"bisa jadi bocah itu memanfaat-kan situasi menegang-kan barusan untuk bisa kabur tanpa kami sadari karena perhatian kami banyak yang teralih ke serangan-ku tadi." ucap Kindo dalam hati sambil menatap tempat Madika sebelum-nya dengan serius.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba seluruh puing-puing pilar sebelum-nya langsung melayang ke udara dan memancar-kan cahaya berwarna merah yang sedikit gelap.


Namun baru saja ingin waspada, kini puing-puing pilar tanah itu pun langsung menyerang dengan cepat.


Hal itu pun langsung membuat banyak rekan Kindo dan Gupo yang belum sepenuh-nya siap menghadang serangan kini langsung terkena serangan puing-puing pilar tanah tersebut.


Tampak ada rekan Kindo yang terhantam wajah-nya oleh salah satu puing dan membuat pria itu terhempas cukup kuat hingga terguling dan menabrak salah satu teman-nya yang ada di belakang.


selain itu terlihat juga seorang rekan Gupo yang kaki-nya terkena hantaman puing pilar tanah itu hingga kaki-nya langsung mengalami patah tulang.


hal itu pun membuat ia langsung berteriak kesakitan sambil menjatuh-kan tubuh-nya ke lantai karena hilang keseimbangan.


namun belum mencapai lantai tiba-tiba sebuah puing menghantam kepala-nya hingga kepala-nya kini putus dan terpisah dari tubuh-nya.


kepala pria itu kemudian terhempas dan menabrak perut teman-nya yang lain hingga teman-nya itu sedikit terdorong ke belakang.

__ADS_1


Sementara si pria itu terdorong akibat hantaman kepala yang terputus dari tubuh itu, kini pria yang terdorong mundur itu langsung di hantam lagi oleh puing pilar tanah lain-nya tepat di bahu kiri-nya dan membuat tubuh-nya terdorong mundur sambil berputar ke arah kiri.


Belum saja sepenuh-nya terputar ke arah kiri, kini satu puing lagi menghantam bahu kanan dan membuat tubuh-nya terputar ke arah kanan hingga akhir-nya posisi tubuh-nya pun menghadap ke belakang.


disaat ia berada di posisi itu, kini satu puing lagi langsung menghantam kepala-nya hingga kepala-nya itu pecah dan ia terdorong dengan sangat kuat dan akhir-nya jatuh tersungkur ke tanah.


Kini kekacauan terjadi di antara para rekan Kindo dan Gupo.


serangan puing-puing pilar tanah itu membuat banyak dari mereka kalang kabut dan langsung terkena serangan hingga ada yang langsung mati serta ada yang mengalami cedera ringan maupun cedera berat.


Sementara itu, Kindo dan Gupo saat ini tengah mempertahan-kan posisi mereka dengan mencipta-kan sebuah perisai petir setengah lingkaran untuk menahan serangan dari puing-puing pilar tanah itu.


"bocah ini benar-benar merepot-kan!" ucap Kindo dengan ekspresi kesal di wajah-nya.


"apa sekarang kau menyerah?" tanya Gupo yang saat ini terlihat seperti sedang mencoba menawar-kan bantuan.


"tentu saja belum!" jawab Kindo dengan tegas.


"aku masih belum menunjuk-kan kekuatan-ku yang sebenar-nya pada bocah itu!" ucap-nya lagi dengan ekspresi kesal di wajah-nya.


Tak lama setelah itu, kini serangan puing-puing pilar tanah itu telah terhenti, dan tiba-tiba Madika pun langsung melompat ke udara dan dengan cepat melesat ke arah Kindo sambil melancar-kan tebasan ke arah Kindo.


Kini Madika pun sudah berada di depan Kindo dan dengan segera ia menebas ke arah Kindo dengan tebasan vertikal ke bawah.


Kindo yang melihat hal itu langsung menahan serangan Madika itu mengguna-kan pedang-nya.


ia memposisi-kan pedang-nya secara horizontal di atas kepala-nya sambil menahan pedang itu mengguna-kan kedua tangan-nya.


"ternyata kau masih di sini bocah!!" bentak Kindo yang tampak sangat kesal.


"hahaha.... kau bilang ingin menunjuk-kan kekuatan asli-mu pada-ku?.... kalau begitu maka coba lakukan sekarang juga!!" ucap Madika sambil tertawa kecil dan kemudian tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2