Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Andreas Taunaroso


__ADS_3

Saat ini ayah Natalia, yakni Andreas Taunaroso tiba di ruangan dan langsung melemparkan protes terhadap pengangkatan Madika sebagai pengawal pribadi putri-nya.


"ayah.... tolong pikir-kan ini baik-baik.... Natalia tidak boleh mendapat-kan pengawal yang lemah seperti bocah ini!.... Natalia harus-nya mendapat-kan pengawal yang lebih kuat lagi!" ucap tuan Andreas sambil menunjuk Madika yang saat ini duduk di sebelah Natalia.


Sementara itu, Natalia yang melihat tindakan ayah-nya itu kini hanya bisa memijat kecil kepala-nya menggunakan jari tangan-nya sambil menghela nafas.


saat ini Natalia sedang tak ingin saling berbantahan dengan ayah-nya itu.


hal itu di karena-kan diri-nya harus memenuhi janji yang ia buat dengan kakek-nya.


janji yang ia ucap-kan pada kakek-nya itu harus ia penuhi.


oleh karena itu, ia pun tak punya pilihan lain selain menerima Madika sebagai pengawal pribadi-nya.


"ayah, sudah-lah.... aku sekarang tak punya pilihan lain karena sudah di kalah-kan oleh Madika." ucap Natalia dengan malas.


"diam kau!.... bisa-bisanya kau kalah padahal aku dan ibu-mu sudah mengajari-mu jurus yang kuat!" ucap tuan Andreas dengan tegas memarahi Natalia.


"mana bisa jurus ayah itu menahan jurus Madika!... bocah ini bisa menggunakan jurus tingkat dewa! mana bisa jurus tingkat raja menahan serangan langsung dari jurus tingkat dewa!" ucap Natalia dengan tegas pada ayah-nya.


"apa!!" ucap tuan Andreas yang tampak sangat terkejut. "tingkat dewa?!.... maksud-mu bocah ini bisa mengguna-kan jurus tingkat dewa?!" ucap tuan Andreas yang terlihat tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh putri-nya itu.


"sudah-lah..... tak perlu sampai berteriak seperti itu." ucap tuan Samon menyela pembicaraan mereka.


"tapi ini mustahil!... bagaimana bisa bocah seperti ini bisa menggunakan jurus tingkat dewa?!.... jurus itu kan berada sangat jauh dari tingkatan-nya saat ini!" ucap ayah Natalia yang masih meragukan Madika.


"meski-pun kau tak percaya, tapi itu-lah kenyataan yang sedang terjadi.... aku sendiri juga sangat terkejut saat mengetahui tentang hal itu." ucap tuan Samon.


Mendengar ucapan ayah-nya, kini tuan Andreas pun tampak sedang berpikir.


tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan-nya saat ini. namun saat diri-nya berhenti berpikir, tiba-tiba ia masih saja bersikeras untuk menolak keberadaan Madika dan menganggap Madika sudah menghancur-kan reputasi Natalia.

__ADS_1


"aku tak peduli sekali-pun kau bisa menggunakan jurus tingkat dewa!.... lagi pula di kekaisaran ini masih sangat banyak keluarga ksatria bermartabat yang pantas untuk menjadi pengawal pribadi putri-ku.... kau yang hanya berasal dari keluarga yang tidak jelas asal usul-nya tidak pantas menjadi pengawal Natalia!" bentak tuan Andreas.


"ANDREAS!!!"


Tuan Samon membentak putra-nya dengan suara yang sangat keras sambil mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat.


aura membunuh itu langsung di arah-kan pada putra-nya itu.


hal itu pun membuat tuan Andreas langsung berlutut karena tiba-tiba menerima serangan aura itu tanpa mempersiap-kan diri.


"ayah.... apa yang ka..."


Ucapan tuan Andreas langsung terhenti saat diri-nya melihat ekspresi ayah-nya yang kini terlihat sangat marah pada diri-nya.


"berani-nya kau menghina keluarga Madika!" bentak tuan Samon. "semua-nya keluar dari ruangan ini! dan tunggu hingga aku memanggil kalian kembali!" ucap tuan Samon yang tampak sedang emosi.


"kenapa ayah sampai semarah ini pada-ku?" batin tuan Andreas.


Saat semua-nya telah pergi dari ruangan itu, kini tuan Samon pun langsung duduk di kursi-nya.


"cepat kemari!" ucap tuan Samon dengan tegas sambil melepaskan aura membunuh-nya dari tuan Andreas.


Kini tuan Andreas pun berjalan mendekati ayah-nya dengan ekspresi ragu.


"berlutut!" perintah tuan Samon pada putra-nya itu.


seketika tuan Andreas pun langsung berlutut dengan patuh.


"apa aku pernah mengajar-mu menghina orang lain seperti itu?" tanya tuan Samon dengan penuh intimidasi hingga membuat tuan Andreas merasa merinding saat mendengar pertanyaan itu.


"ma.... maaf ayah, aku terbawa emosi." ucap tuan Andreas dengan ekspresi wajah yang tampak meminta pengampunan dari ayah-nya.

__ADS_1


Mendengar ucapan tuan Andreas itu membuat tuan Samon jadi teringat akan diri-nya sewaktu masih muda.


"hah...." tuan Samon menghela nafas dengan ekspresi lelah sambil memijat kecil kening-nya.


"ya ampun.... emosi-ku yang sangat tidak stabil sewaktu masih muda dulu ternyata menurun pada putra-ku." ucap tuan Samon dalam hati.


lalu tuan Samon pun kembali menatap putra-nya itu.


"sudah-lah.... aku memaafkan-mu.... lain kali perhatikan tutur kata-mu.... kau itu seorang raja, maka jadilah raja yang bijaksana dan di hormati oleh seluruh rakyat." ucap tuan Samon memberi nasihat.


"baik ayah." ucap tuan Andreas dengan cepat sambil menunduk-kan kepala-nya.


"berdiri-lah!.... ada yang ingin ku katakan pada-mu mengenai pengawal pribadi putri-mu itu." ucap tuan Samon sambil pasang ekspresi serius.


Mendengar ucapan ayah-nya itu, kini tuan Andreas pun langsung berdiri, dan kini dari wajah-nya terlihat tuan Andreas tampak sedang menantikan penjelasan dari ayah-nya mengenai Madika.


"bocah yang menjadi pengawal pribadi putri-mu itu adalah bocah yang selalu kau jodoh-kan dengan putri-mu sewaktu mereka masih kecil." ucap tuan Samon memberi gambaran pada tuan Andreas.


"bocah yang selalu ku jodoh-kan dengan Natalia?" ucap tuan Andreas bertanya-tanya.


beberapa saat setelah berpikir, tiba-tiba tatapan tuan Andreas langsung berubah ketika mengingat bahwa nama pengawal pribadi putri-nya itu adalah Madika, sedangkan nama bocah yang sering ia jodohkan dengan putri-nya sewaktu masih kecil adalah Madika Rosompodapala, putra dari sahabat-nya, yakni Herman Rosompodapala.


"tu.... tunggu.... maksud ayah bocah itu adalah anak dari raja Herman dan ratu Rina?!" ucap tuan Andreas yang masih pasang ekspresi ragu namun kini tampak terkejut dan sedikit antusias.


"benar.... dia adalah anak Herman dan Rina.... identitas asli bocah itu adalah Madika Rosompodapala bukan Madika Tumbawani." ucap tuan Samon sambil mengangguk dan mengelus janggut kesayangan-nya itu.


"tapi bukan-kah berita-nya mereka sekeluarga mati karena kecelakaan?.... bahkan saat itu aku ada saat pemakaman di lakukan!" ucap Andrea yang tampak meminta penjelasan.


"memang benar saat itu kita ikut saat upacara pemakaman, akan tetapi, apa kau tak pernah berpikir bahwa wajah seseorang bisa di samarkan?" ucap tuan Samon memberi petunjuk agar tuan Andreas berusaha berpikir.


"apa yang sebenar-nya ingin ayah katakan?" tanya tuan Andreas yang tampak malas berpikir.

__ADS_1


__ADS_2