Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Konflik Di Kelas


__ADS_3

Ketika Madika mendengar ucapan Bunggu, kini Madika tampak mulai merenung. ia juga sebenar-nya sadar bahwa perbuatan-nya terhadap Niverom yang ia temui juga sangat kejam.


jadi pada dasar-nya, tidak ada yang salah dengan itu. karena di dunia ini, yang kuat-lah yang akan menjadi pemenang.


hal itu-lah yang muncul di benak Madika saat ini.


Sesaat setelah itu, Madika pun langsung duduk bersila di depan jasad itu.


Bunggu yang melihat tindakan Madika itu kini bertanya karena diri-nya tidak paham apa yang sedang di lakukan oleh Madika saat ini.


"apa yang ingin kau lakukan?" tanya Bunggu.


"aku ingin duduk di sini hingga para bawahan ksatria tingkat elit ini datang dan membawa pergi jasad-nya serta memakam-kan jasad-nya dengan baik." jawab Madika dengan jujur.


setelah itu Madika pun mulai menutup mata-nya sambil menyebarkan Saga-nya untuk mendeteksi wilayah sekitar.


>SKIP<


Setelah kejadian malam itu, kini Madika tampak tengah berbaring di atas ranjang-nya.


ia tampak sangat kelelahan, hal itu bisa di pastikan karena diri-nya saat ini tidur tanpa mengganti pakaian yang ia gunakan berburu di hutan kematian.


Tak lama setelah itu, kini jam alarm di kamar Madika langsung berbunyi dan membuat Madika tampak membuka mata-nya perlahan dengan ekspresi malas.


"ayolah.... belum se-jam aku membaringkan tubuh di sini.... kenapa harus pagi lagi?" ucap Madika yang terdengar seperti orang yang sedang berkumur sambil berusaha meraih jam alarm-nya.


namun karena jam-nya cukup jauh dan Madika tidak bisa meraih-nya, akhir-nya Madika pun kesal dan tampak wajah-nya langsung berurat.


"DIAM BANG$AT...!!" teriak Madika sambil bangun dan menyerang jam alarm-nya menggunakan bola angin kecil yang di hasilkan dari jentikan jari-nya.


hal itu pun membuat jam alarm-nya langsung hancur berkeping-keping.


Setelah menghancurkan jam alarm itu, kini Madika tampak menghela nafas dengan ekspresi malas.

__ADS_1


"hah..... aku harus ke sekolah sekarang." ucap Madika.


>SKIP<


Pagi ini, di kelas Madika yakni kelas 1 angin. tampak terjadi kegaduhan.


hal itu di karenakan ada-nya tiga siswa dari kelas es yang datang ke kelas angin dan mulai membuat masalah di kelas angin.


mereka bertiga tampak sedang memarahi salah satu siswa laki-laki yang ada di kelas itu karena tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.


"sudah ku bilang di mana bocah yang mengalahkan Natalia itu?!" bentak Mindo yang saat ini duduk di atas meja tepat di hadapan salah satu siswa laki-laki itu.


"ma.... maaf, aku tidak mengetahui-nya.... aku belum melihat-nya sejak tadi." ucap siswa itu sambil menunduk-kan kepala-nya karena takut menatap Mindo.


"aku tak minta jawaban yang seperti itu bang$at!!" bentak Mindo sambil menendang siswa itu hingga terjatuh bersamaan dengan kursi yang di duduki-nya.


Sementara itu, siswa-siswa lain yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dan tak berkutik. hal itu di karenakan Mindo adalah anak dari salah satu bangsawan yang terkenal dan memiliki pengaruh yang cukup besar di beberapa daerah serta di akademi ini.


"sebaik-nya kita jangan ikut campur...."


"kalau dia mendatangi kita, tinggal kita Carikan saja Madika untuk-nya.... ia pasti tidak akan memperlakukan kita seperti itu."


Berbagai bisik-kan muncul di mulut-mulut siswa lain-nya yang hanya melihat kejadian itu tanpa bertindak.


"hei Lombe.... apa kau yakin bocah itu berada di kelas ini?" tanya Mindo sambil menoleh pada salah satu teman kelas-nya yang kini menjadi bawahan-nya.


"ya.... aku sudah memastikan-nya sendiri." jawab Lombe meyakinkan.


"Lombe benar, aku juga sempat melihat bocah itu masuk ke kelas ini setelah jam istirahat.... jadi bisa di pastikan bocah itu memang berada di kelas ini." sambung Naeka meyakinkan.


"begitu ya.... mungkin saja dia belum datang sekarang.... padahal ini sudah hampir jam masuk pertama.... apa dia terlambat?.... atau mungkin tidak hadir hari ini?" ucap Mindo bertanya-tanya.


Setelah itu, karena rasa bosan makin menjadi sebab tak menemukan Madika, kini Mindo pun langsung turun dari atas yang ia duduki. lalu ia langsung beranjak dari tempat itu.

__ADS_1


"ayo keluar dari sini.... sekarang sudah mau hampir jam masuk.... percuma kita berlama-lama di sini.... kita kembali lagi saja jika sudah jam istirahat." ucap Mindo sambil melangkah ke arah pintu dan langsung di ikuti oleh dua bawahan-nya itu.


Ketika Mindo sudah keluar dari kelas dan berjalan di koridor kelas, tiba-tiba ia langsung berpapasan dengan Madika yang tampak berlari ke arah-nya.


Saat ini Madika tampak terburu-buru berlari ke arah kelas-nya yang kebetulan berada di belakang Mindo.


ketika Madika berpapasan dengan Mindo, tiba-tiba Mindo langsung menggunakan teknik es runcing milik-nya untuk menghentikan langkah Madika.


note: teknik 'es runcing' adalah teknik yang menciptakan sebuah es runcing yang menjulang ke atas dan menusuk apa saja yang berada di atas-nya.


Melihat es runcing yang tiba-tiba muncul di hadapan-nya, Madika pun langsung refleks untuk menghentikan lari-nya dan langsung melompat ke belakang.


Mindo yang melihat reflek Madika tampak berseringai seolah melihat sesuatu yang menarik.


"ohoh..... refleks-mu lumayan juga." ucap Mindo sambil mengangkat dagu-nya dan menatap Madika dengan tatapan angkuh.


Madika yang mendengar ucapan itu hanya diam dan menatap Mindo dengan seksama.


"kenapa kau hanya diam saja?.... apa kau terkejut? atau mungkin kau langsung takut begitu melihat wajah-ku?.... hahaha payah.... aku jadi makin tidak yakin kalau kau ini benar-benar sudah pernah mengalahkan Natalia." ucap Mindo dengan nada suara yang mengejek serta tatapan yang terlihat meremehkan.


Mendengar perkataan Mindo itu, Madika pun langsung berjalan santai mendekati Mindo.


"maaf jika aku tak sesuai ekspektasi-mu." ucap Madika dengan tenang dan langsung berjalan melewati Mindo begitu saja.


Mindo yang melihat tingkah Madika itu tentu-nya menjadi kesal karena diri-nya seolah di abaikan dan tidak di anggap oleh Madika.


"sial@n!.... apa kau meremehkan-ku hah?!" bentak Mindo sambil menoleh ke belakang.


namun Madika tampak tidak peduli dan terus berjalan tanpa menoleh sedikit-pun ke arah Mindo.


Melihat hal itu, Mindo pun makin kesal.


"rupa-nya kau mau cari mati ya hah!.... kalau begitu terima ini!!" ucap Mindo dengan suara keras sambil memunculkan tombak es di tangan kanan-nya serta langsung melempar tombak itu ke arah Madika.

__ADS_1


Makasih buat pembaca yang masih setia mengikuti novel ini....


akhir-akhir ini author sibuk dengan berbagai pekerjaan yang lain jadi belum bisa update secara teratur.


__ADS_2