
Saat ini Madika telah berada di dalam ruang bawah tanah yang sebelum-nya tersegel itu.
ia kini sedang berjalan di sebuah koridor yang cukup luas yang ada di tempat itu.
Saat diri-nya melihat ada tiga jalan yang berbeda di depan-nya, kini Madika pun memilih untuk pergi ke jalan yang ada di sebelah kanan-nya.
"baiklah, aku pilih yang ini saja." ucap Madika sambil berjalan ke lorong yang paling kanan itu.
Setelah cukup jauh melangkah dan sudah banyak menemukan beberapa pintu ruangan yang sudah terbuka, kini Madika pun memilih untuk tetap berjalan terus hingga ia pun akhir-nya menemukan simpang jalan lagi.
Setelah beberapa kali menemukan simpang jalan dan tetap terus berjalan dengan memilih salah satu simpang jalan itu, kini Madika pun tiba di sebuah pintu yang belum terbuka.
"hmm.... seperti-nya tempat ini belum tersentuh sama sekali." ucap Madika dalam hati. "tapi aku sama sekali tak bisa merasa-kan kalau di tempat ini ada pecahan tongkat kaisar rotan api."
Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun mencoba membuka pintu itu mengguna-kan tangan-nya.
namun saat Madika menyentuh pintu itu, tiba-tiba Madika merasa-kan sensasi layak-nya di setrum oleh listrik bertekanan tinggi.
Hal itu pun membuat Madika terkejut dan seketika diri-nya pun terdorong mundur dengan sangat kuat.
"tchi.... rupa-nya pintu ini di pasangi sebuah segel pelindung ya!" ucap Madika dalam hati.
"kalau begitu bagaimana kalau aku melakukan kekerasan untuk membuka-nya?!" ucap-nya lagi sambil menyiap-kan jurus peluru angin milik-nya.
Saat Madika sudah siap dengan peluru angin-nya serta hendak menyerang pintu itu mengguna-kan peluru angin, kini tiba-tiba sebuah tombak petir melesat ke arah Madika.
Madika yang menyadari hal itu langsung membuat sebuah perisai angin di samping-nya tanpa bergerak sedikit-pun dari posisi-nya, bahkan ia pun juga sama sekali tak menoleh ke samping untuk melihat ke arah datang-nya serangan tombak petir itu.
ia hanya menjentik-kan jari-nya untuk membuat perisai angin yang kini menahan serangan tombak petir itu.
Tak lama setelah itu, kini tombak petir yang menghantam perisai angin Madika itu langsung terbang kembali pada tuan-nya yang berada cukup jauh di samping kanan Madika.
__ADS_1
"apa kalian punya urusan dengan-ku?" tanya Madika tanpa menoleh sedikit-pun ke arah sekelompok orang-orang dari klan petir itu.
"urusan?.... tentu saja ada.... karena saat ini kau sedang mencoba menghancur-kan pintu tempat harta kami berada." ucap si pemimpin kelompok itu.
Pemimpin kelompok itu adalah seorang pria yang memiliki wajah tampan serta rambut berwarna kuning panjang.
sementara pupil mata pria itu berwarna biru.
tingkatan pria itu saat ini adalah tingkat master, dan bisa di pasti-kan usia pria itu tidak terlalu jauh dari usia Madika.
pria itu mungkin hanya 5 tahun lebih muda dari Madika. hal itu tentu-nya membuat pria itu di sebut sebagai salah satu pemuda berbakat di klan petir.
Berdasar-kan penjelasan dari Dion, setiap klan itu memiliki 10 orang pemuda yang di kategori-kan sebagai orang-orang jenius dan berbakat.
mereka semua adalah orang-orang yang hebat dan sudah mendapat-kan pengakuan dari pemimpin klan dan seluruh anggota klan tersebut.
"heh... maksud-mu semua yang ada di dalam sini adalah milik-mu begitu?" ucap Madika bertanya sambil memutar kepala-nya menghadap ke. arah sekolompok orang-orang dari klan petir itu.
Pria itu bernama Kinto, ia adalah seorang pemuda yang sudah berada di tingkat master level 9 dan posisi-nya dalam sepuluh orang terkuat di klan petir adalah posisi ke empat. dengan kata lain, ia saat ini merupa-kan salah satu pemuda terkuat di klan-nya saat ini.
"aku tidak begitu keberatan sih...." ucap Madika dengan ekspresi datar sambil memutar tubuh-nya menghadap ke arah Kinto dan para anggota-nya.
lalu Diego pun langsung mengguna-kan jurus pemanggilan-nya.
seketika Askila pun keluar dari sebuah lingkaran energi dan kemudian berdiri dengan gagah sambil membelakangi Madika dan menghadap ke arah Kinto.
lalu Madika pun kembali melanjut-kan perkataan-nya.
"aku memang tak keberatan, tapi hewan peliharaan-ku seperti-nya merasa keberatan tuh." ucap Madika dengan santai-nya.
Setelah Madika berkata seperti itu, kini Askila pun langsung menatap tajam ke arah Kinto dan para anggota-nya.
__ADS_1
Askila kini langsung terlihat sangat menakut-kan, wajah-nya tampak begitu sangar dengan tatapan tajam yang penuh intimidasi.
"apa yang harus ku lakukan pada mereka tuan?" tanya Askila sambil berseringai jahat.
"terserah kau saja mau di apa-kan, kau maju saja lebih dulu jika ingin, nanti aku akan ikut bergabung jika kau merasa kesulitan." ucap Madika menjawab Askila.
"baik tuan, lagi pula aku memang ingin segera melawan pria itu karena aku tak suka melihat wajah-nya!" ucap Askila sambil mengedut-kan mata-nya melihat wajah sinis Kinto yang terus menatap diri-nya dengan ekspresi meremeh-kan.
"hahahaha... begitu ya... kalau begitu langsung saja.... lagi pula aku juga berpendapat sama.... orang ini wajah-nya tampak sangat menyebal-kan." ucap Madika sambil membalas tatapan sinis pria itu dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
Sementara itu, Kinto yang melihat tatapan Madika itu kini merasa tersinggung.
"hei bocah!... berani-beraninya kau menatap-ku seperti itu!!.... mau cari mati hah?!" bentak kinto yang kini terlihat mulai emosi dan mencoba memprovokasi Madika.
Madika yang mendengar bentakan kinto kini hanya diam dan terus menatap-nya dengan tajam.
tak lama setelah itu Madika pun mulai tersenyum tipis layak-nya seorang psikopat.
"mati.... siapa yang akan mati?" ucap Madika dengan ekspresi seolah sedang menantang kinto untuk bertarung.
Kini kinto pun mulai emosi, namun, belum sempat Kinto mencoba menunjuk-kan kemarahan-nya pada Madika, tiba-tiba salah satu anggota-nya langsung menyerang Madika mengguna-kan tujuh belati petir yang melayang di udara dan langsung di lesat-kan ke arah Madika.
Madika yang melihat serangan tujuh belati petir itu kini hanya diam dan tenang.
bahkan Askila yang ada di depan Madika pun kini hanya diam karena diri-nya yakin bahwa Madika pasti bisa menghindari semua serangan itu dengan mudah.
Kini tujuh belati itu sudah berada di dekat Madika, namun dengan santai-nya Madika menjentik-kan jari-nya, dan seketika itu juga terbentuk-lah perisai-perisai kecil yang langsung menahan serangan belati petir itu.
Tidak cukup sampai di situ saja, belati petir yang di kendali-kan oleh anggota Kinto itu kini bergerak dengan bebas di udara dan mulai menyerang lagi dari berbagai arah yang berbeda-beda.
namun semua serangan itu tetap bisa di pakai oleh sebuah perisai angin kecil yang tak terlihat oleh Kinto dan seluruh anggota-nya itu.
__ADS_1