Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Madika Vs Niverom


__ADS_3

Setelah lengkungan angin milik Madika berhasil di hancur-kan oleh Niverom, kini Niverom itu langsung mengangkat pedang halilintar-nya itu ke udara.


"petir penghakiman!" ucap Niverom itu sambil mengayun-kan pedang halilintar-nya ke bawah.


seketika petir-petir yang tadi-nya menyambar di awan kini langsung turun dan menyambar cepat ke arah Madika.


ratusan petir itu mulai melesat cepat dari awan.


Madika yang melihat hal itu langsung refleks bergerak acak untuk menghindari serangan petir itu.


"petir ini tampak-nya sangat kuat!.... jika aku terkena langsung oleh petir ini, bisa-bisa aku akan kalah telak!" batin Madika sambil terbang memutar di udara.


Saat petir-petir itu terus menyambar, Madika pun hanya bisa terus menghindar dengan sangat lincah.


Madika terbang di udara sambil memutar tubuh-nya saat ada dua petir menghalangi jalan-nya.


ketika tak bisa menghindar, Madika pun langsung mengguna-kan pedang-nya untuk menebas petir yang menghalangi jalan terbang-nya.


Namun saat ia mencoba menebas-nya, ternyata cukup sulit menebas petir-petir itu.


hal itu pun membuat tangan Madika sempat gemetar sesaat setelah berhasil menebas tiga petir yang hampir menyambar tubuh-nya.


"ternyata petir-nya lebih kuat dari dugaan-ku!" batin Madika. "mau bagaimana lagi.... lagi pula tingkatan-ku dengan-nya sedikit berbeda.... meskipun hanya berbeda satu tingkat, namun perbedaan ini benar-benar bisa terasa!" batin-nya menilai.


Kini serangan halilintar berikut-nya kembali menyambar lagi.


Madika yang melihat hal itu kini langsung mengfokus-kan kekuatan-nya untuk mencipta-kan perisai angin yang mengelilingi tubuh-nya.

__ADS_1


saat petir itu sudah berada dekat dengan Madika, kini perisai angin berbentuk bola pun langsung menutupi Madika dari serangan petir itu.


Serangan petir itu berhasil di tahan oleh Madika.


Niverom yang melihat hal itu langsung terkejut.


"ternyata dia bisa menahan-nya!" ucap Niverom itu dalam hati.


"ini adalah salah satu jurus yang di turun-kan oleh tuan Mawata..... sepintas sama seperti bola perisai biasa, namun sebenar-nya bola perisai yang ini memiliki tingkatan pertahan yang lebih tinggi dari bola perisai milik-ku yang sebelum-nya." batin Madika. "jika saja tingkatan-ku sudah cukup mumpuni, maka sudah pasti aku bisa mengguna-kan semua jurus terkuat-ku di kehidupan sebelum-nya.... tapi sayang-nya semua jurus itu hanya bisa ku gunakan saat berada di tingkat legendaris.... jika di tingkat elit, bisa-bisa tubuh-ku tak mampu mengimbangi jurus yang terlalu jauh di luar tingkatan-ku."


Setelah berpikir seperti itu, kini Madika pun langsung mengangkat kaki kanan-nya, dan setelah itu mulai melangkah ke depan.


"langkah dewa angin!" ucap Madika dengan suara yang tenang namun bisa terdengar oleh si Niverom itu.


"hanya ini satu-satunya jurus tingkat tinggi yang bisa ku guna-kan sekarang." batin Madika.


Saat Madika mengeluar-kan jurus langkah dewa angin, seketika terjadi gelombang angin yang sangat kuat yang pusat-nya berasal dari Madika.


Hal itu pun membuat si Niverom langsung mencipta-kan sebuah perisai pertahanan di depan-nya. Meski-pun demikian, tetap saja ia terdorong ke belakang karena tekanan dari gelombang angin yang di hasil-kan oleh jurus Madika itu sangat-lah kuat.


Melihat hal itu, mau tidak mau si Niverom itu pun langsung terkejut dengan mata yang terbelalak.


"langkah dewa angin?..... dia mengguna-kan jurus tingkat dewa?.... yang benar saja?!" ucap Niverom itu dengan ekspresi terkejut dan tidak percaya.


"jurus tingkat dewa memang jurus yang menempati tingkat tertinggi dalam daftar tingkatan jurus.... hal itu pula membuat jurus tingkat dewa ini memiliki keunikan yang khusus, yaitu bisa di pelajari oleh orang-orang yang berada di tingkat atas hingga seterus-nya..... inti-nya hanya satu, selama jurus tingkat dewa yang di pelajari tidak terlalu banyak menguras Saga dan memberi resiko, maka itu bisa di pelajari dan di gunakan oleh para ksatria tingkat atas sekali-pun." batin Madika saat melihat si Niverom yang tampak tidak percaya dengan apa yang Madika lakukan sebelum-nya.


Tak lama setelah itu, kini Niverom itu pun menghenti-kan rasa terkejut-nya.

__ADS_1


"hanya karena bisa mengguna-kan salah satu jurus tingkat dewa bukan berarti kau bisa menggertak-ku!.... lagi pula jurus itu hanya bisa kau guna-kan dua kali!.... dan jika kau ingin mengaktifkan-nya lagi kau harus mengguna-kan jurus langkah angin sebanyak-banyak mungkin untuk bisa mengaktif-kan kembali jurus itu!." ucap si Niverom dengan penuh ambisi. "jika kau ingin mengaktif-kan jurus itu lagi, maka di pasti-kan kau akan kehabisan Saga sebelum jurus itu berhasil!.... hahahaha.... kemenangan akan jadi milik-ku!" teriak si Niverom itu.


lalu dengan segera Niverom itu melempar-kan pedang halilintar-nya ke langit.


setelah itu, pedang-nya pun langsung melesat lurus ke atas hingga akhir-nya masuk ke dalam kepulan awan hitam yang terus menyambar-kan petir.


"kali ini akan ku paksa kau mengguna-kan kekuatan terkuat-mu itu agar kau tak bisa menggunakan-nya lagi nanti!" teriak si Niverom sambil mengangkat tangan kanan-nya di depan dada dengan posisi telapak tangan terbuka.


"serangan pedang kematian!" teriak Niverom itu.


seketika itu juga, kini ribuan pedang halilintar jatuh dari atas langit dan melesat ke arah Madika.


"hah.... ini benar-benar lebih merepot-kan dari yang ku bayang-kan sebelum-nya!" batin Madika.


Setelah berkata seperti itu, Madika pun langsung mengguna-kan salah satu jurus andalan-nya, yakni peluru angin.


"saat ini kecepatan-ku untuk mencipta-kan peluru angin semakin meningkat.... sebaik-nya ku coba trik ini saja!" batin Madika.


Setelah itu Madika pun langsung mengguna-kan perisai yang sebelum-nya untuk menutupi seluruh tubuh-nya.


"percuma saja!.... perisai itu tak-kan bisa memblokir pedang halilintar-ku!" teriak Niverom itu dengan penuh semangat.


Kini pedang halilintar itu pun langsung menghantam perisai milik Madika, dan benar saja perisai berbentuk lingkaran yang membungkus Madika itu pun langsung hancur begitu saja layak-nya kaca jendela yang di lempari batu.


Akhir-nya pedang halilintar milik Niverom itu pun menembus perisai angin Madika, dan pedang itu langsung menggores wajah, lengan, dan kaki Madika.


melihat hal itu Madika pun sempat terkejut.

__ADS_1


namun ketika ia melihat begitu banyak pedang halilintar yang sedang melesat ke arah-nya, ia pun langsung refleks bergerak untuk menghindari serangan pedang halilintar itu.


"tchi.... pedang halilintar ini ternyata benar-benar kuat!..... bahkan tanah yang di hantam-nya pun sampai hancur seperti itu!" batin Madika saat melihat pedang halilintar yang menghantam tanah itu langsung meledak dan meninggal-kan sebuah lubang yang cukup besar.


__ADS_2