Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Banteng Bertaring


__ADS_3

Saat ini Madika dan Natalia sudah berhasil keluar dari lautan. mereka kini berada di pantai berpasir.


"apa kau tidak terluka?" tanya Natalia sambil menyentuh dada Madika untuk memasti-kan.


"uhhggg!"


Madika seketika meringis kesakitan ketika Natalia menyentuh dada-nya.


hal itu di karenakan saat di serang oleh ikan-ikan tadi Madika selalu di hantam di bagian dada dan perut.


melihat reaksi Madika, kini Natalia langsung menarik tangan-nya dan langsung terlihat khawatir dengan keadaan Madika.


Madika yang menangkap ekspresi wajah Natalia kini langsung menangkap tangan Natalia dan kemudian menggeleng-kan kepala-nya pelan.


"jangan di pikir-kan, aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir." ucap Madika berusaha meyakin-kan Natalia.


Baru saja Madika selesai berkata seperti itu, tiba-tiba mereka berdua di kejut-kan oleh suara endusan seekor hewan monster.


Madika dan Natalia pun serentak langsung menoleh ke arah suara itu.


saat mereka melihat ke arah hutan, tampak tidak jauh dari tempat mereka berdiri terlihat seekor banteng sedang mengendus-endus sambil bersiap untuk menerjang Madika dan Natalia.


banteng itu memiliki dua gigi taring yang tajam yang menjulang ke bawah, serta memiliki di dekat hidung-nya tampak sebuah kumis panjang layak-nya seekor naga.


"ehm.... seperti-nya kita tidak akan punya waktu untuk istirahat." ucap Madika dengan ekspresi yang tampak tidak bersemangat.


>Skip<


Saat ini tampak Madika sedang menggendong Natalia di depan tubuh-nya.


mereka berdua kini berusaha kabur dari kejaran banteng yang muncul di hadapan mereka sebelum-nya.


sementara itu, si banteng tampak terus mengejar mereka dari belakang.


entah ada dendam apa si banteng sampai-sampai mengejar Madika dan Natalia hingga segila itu.


"yang benar saja!.... jika seperti ini terus bisa-bisa aku akan mati kecapean sebelum di bunuh oleh binatang buas itu!" ucap Madika.


"Madika, turun-kan saja aku, aku punya rencana!" ucap Natalia.

__ADS_1


"rencana apa?" tanya Madika yang masih terus berlari menerobos semak-semak yang ada di depan-nya.


"yang jelas-nya turun-kan aku dulu, setelah itu aku akan memancing banteng itu untuk menyerang-ku, dengan begitu kau bisa dengan mudah membunuh banteng itu." ucap Natalia menjelas-kan rencana-nya.


"mana bisa begitu!.... lagi pula jika di perhatikan dengan seksama seperti-nya kulit banteng itu sangat keras, belati-ku belum tentu bisa menembus kulit-nya!" ucap Madika menolak rencana Natalia dengan tegas.


"tapi...."


"sudah-lah.... jangan terlalu berharap bisa mengalahkan-nya, tapi berpikir-lah ke mana kita harus bersembunyi dari banteng itu." ucap Natalia menyela perkataan Natalia.


Natalia sebenar-nya sedang mengkhawatir-kan Madika. namun ia juga tak bisa melakukan apa-apa saat ini. apa lagi kaki-nya saat ini masih terluka, dan jika ia berlari sendiri tentu itu akan semakin memperlambat gerakan mereka.


sementara Madika saat ini tampak mempunyai stamina yang cukup kuat hingga bisa berlari sambil membawa Natalia.


Madika kini hanya bisa berpikir untuk mencari tempat yang mungkin tidak bisa di masuki oleh si banteng.


"setidak-nya di hutan seperti ini harus ada tebing-tebing sempit atau mungkin pohon-pohon besar yang akar-nya bisa di masuki oleh manusia!" batin Madika sambil berlari dan memperhati-kan sekitar-nya.


hingga akhir-nya Madika melihat sebuah pohon raksasa.


pohon itu sangat besar dan sangat tinggi.


tampak akar pohon itu menjalar secara luas di permukaan tanah.


Ketika Madika melihat pohon besar itu ia pun dengan refleks berlari ke arah pohon itu dan masuk ke bawah akar pohon itu.


ia masuk melalui celah kecil yang ada di akar pohon itu, dan begitu mereka masuk hingga ke bagian yang cukup dalam di bawah akar pohon itu kini mereka berhenti dan melihat ke belakang.


tampak di belakang mereka banteng itu sudah tidak terlihat lagi.


"seperti-nya banteng itu tak mengejar lagi." ucap Madika sambil menurun-kan Natalia ke tanah.


"awh...."


Natalia langsung mengeluar-kan suara sambil meringis kesakitan ketika kaki-nya yang terluka itu tiba-tiba harus menopang sendiri berat tubuh-nya. bahkan saat ini Natalia tampak tak bisa menopang berat tubuh-nya dan hendak jatuh. namun dengan cepat Madika langsung memegang kedua bahu Natalia dan membantu-nya agar bisa berdiri dengan baik.


"ah maaf." ucap Madika sambil membantu Natalia untuk berdiri.


"tidak apa-apa." balas Natalia sambil menggeleng-kan kepala-nya. "aku mau duduk saja." sambung Natalia.

__ADS_1


"baiklah." ucap Madika dengan patuh dan langsung membantu Natalia untuk duduk di salah satu tanah yang cukup bumbung di area itu.


Setelah Natalia sudah duduk, kini Madika langsung melepas-kan jubah di tubuh-nya dan memberi-kan jubah itu pada Natalia.


ia langsung meletak-kan jubah-nya untuk menutupi tubuh Natalia yang saat ini sedang duduk nyaman di posisi saat ini.


"ehm.... ini...."


"pakai saja." ucap Madika memotong perkataan Natalia. setelah itu, Madika langsung memegang kaki Natalia yang terluka itu.


"ahw!"


sekali lagi Natalia tampak meringis kesakitan.


"tahan sebentar, jika sepatu-mu tak di buka maka aku tidak akan bisa mengobati kaki-mu." ucap Madika yang kini perlahan membuka tali sepatu Natalia.


"ahw..."


"tahan sebentar, aku akan melakukan-nya pelan-pelan oke." ucap Madika berusaha menenang-kan Natalia.


"uhm..." gumam Natalia sambil mengangguk.


Lalu Madika pun perlahan membuka sepatu Natalia.


saat sepatu itu hendak di lepas, Natalia tampak sedang meringis menahan sakit yang ia rasakan.


ketika sepatu-nya terlepas, Madika pun melihat bahwa luka di kaki Natalia memang cukup parah.


"pantas saja dia kesulitan untuk bergerak." batin Madika. lanjut-nya, "untung saja sejak keluar dari air aku terus menggendong-nya sehingga luka-nya tidak kotor, jika luka-nya kotor, maka akan sulit membersihkan-nya karena tak ada air sama sekali di tempat ini." batin Madika.


kemudian Madika menatap Natalia.


"untuk sekarang aku akan memasti-kan wilayah di sekitar tempat ini aman, dan jika sudah aman aku akan mencarikan-mu obat untuk menyembuh-kan kaki-mu." ucap Madika sambil berdiri.


"tunggu dulu!" ucap Natalia yang langsung memegang tangan Madika dengan cepat.


"ada apa?" tanya Madika.


"kau mau pergi sekarang?" tanya Natalia lagi sambil pasang ekspresi yang terlihat mengharap-kan sesuatu.

__ADS_1


"ehm." gumam Madika sambil mengangguk-kan kepala-nya. "aku akan mencoba memastikan tempat ini aman untuk-mu agar aku bisa segera mencari obat untuk mengobati luka-mu." jawab Madika menjelas-kan.


"jangan pergi sekarang.... aku ingin kau tetap di sini, jangan bahaya-kan diri-mu sendiri demi aku.... aku masih bisa menahan luka ini." ucap Natalia sambil memaling-kan wajah-nya dari Madika.


__ADS_2