Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Mengobati Seorang Gadis


__ADS_3

Saat serangan pertama si laba-laba berhasil di patah-kan oleh Askila, kini laba-laba itu kembali menyerang Askila.


ia kini mengeluarkan benang api lagi dari mulut-nya.


ia bahkan kini menyebar-kan banyak benang api di sekitar tempat itu sehingga tempat itu terlihat penuh dengan benang api.


bahkan beberapa benang api itu tampak mulai membakar beberapa tumbuhan di sekitar-nya.


"ingin menjebak-ku dengan benang ini?" ucap Askila sambil tersenyum percaya diri menatap laba-laba itu.


Lalu kini Askila dan kesepuluh kloning-nya pun langsung bergerak cepat dan mengelilingi si laba-laba dengan pola melingkar.


setelah itu Askila pun langsung mengaktif-kan petir yang cukup kuat dari bagian punggung-nya yang bergerigi tajam itu.


hal itu pun membuat petir-petir itu kini saling terhubung dan membentuk sebuah pola melingkar.


Di sisi lain, saat ini Madika tampak sedang membaring-kan gadis yang terluka itu di ata ranjang milik-nya.


"luka-mu cukup parah, jika tidak segera di obati kau bisa dalam bahaya." ucap Madika sambil membaring-kan gadis itu.


"tidak masalah, aku masih bisa bertahan." balas gadis itu sambil menoleh ke arah Madika. lanjut-nya, "sebaik-nya sekarang kau bantu hewan peliharaan-mu, dia pasti akan kesulitan melawan laba-laba raksasa itu."


Madika menoleh ke arah gadis itu sambil mengeluar-kan sebuah ramuan dari ruang penyimpanan milik-nya.


"tenang saja, hewan peliharaan-ku jauh lebih kuat dari laba-laba itu." ucap Madika dengan santai-nya.


"sebalik-nya, kau saat ini tidak akan bisa bertahan lama karena ada racun di luka-mu itu!" ucap Madika yang tampak sedikit terburu-buru untuk segera mengobati luka gadis itu.


"seperti-nya kau benar." ucap gadis itu sambil membuka sedikit lengan baju-nya.


Madika yang melihat hal itu kini tanpa basa-basi langsung merobek lengan baju gadis itu.


"apa yang kau lakukan?!" bentak gadis itu yang kini langsung menangkap dan menahan tangan Madika.


"lengan baju-mu hanya akan memperlambat proses pengobatan!" ucap Madika dengan tegas. "jika kau ingin segera di tangani sebaik-nya ikut instruksi dari-ku." ucap Madika.


Setelah itu Madika pun langsung menotok bagian lengan bawah hingga lengan atas gadis itu.

__ADS_1


tujuan Madika melakukan-nya adalah untuk menyebar-kan energi Saga Madika ke bagian yang di totok itu, dan dengan energi Saga Madika itu, Madika bisa mengendali-kan racun yang masuk ke dalam tubuh gadis itu serta menetral-kan racun itu.


"ahww." gadis itu sedikit memekik karena Madika menotok lengan-nya cukup kuat.


namun gadis itu tak bisa marah pada Madika karena diri-nya tak punya pilihan lain jika memang ingin segera di sembuh-kan.


"untung saja dulu aku pernah mempelajari cara menetralisir-kan racun mengguna-kan energi Saga." batin Madika.


Kemudian Madika mulai menggerak-kan tangan-nya dengan beberapa variasi gerakan untuk mengontrol energi Saga-nya agar bisa menetralisir-kan racun yang mengalir dari lengan yang terluka itu.


Di sisi lain, Askila yang saat ini mempersiap-kan serangan petir-nya tampak sedang di ganggu oleh si laba-laba.


Laba-laba yang berada di tengah-tengah Askila serta kloning-nya kini langsung menggerak-kan seluruh benang api yang ada di sekitar tempat itu untuk menyerang Askila serta para kloning-nya.


Tampak seluruh benang kini langsung menjalar bagai-kan akar.


seluruh benang itu menjalar ke arah Askila dan ujung dari benang api itu langsung meruncing.


Saat benang api itu berada dekat dengan Askila, benang-benang itu pun langsung menusuk ke rah Askila dan para kloning-nya.


Namun saat benang api itu mencoba menusuk Askila, tiba-tiba benang-benang api itu langsung hancur ketika bersentuhan dengan petir yang menyelimuti tubuh Askila dan para kloning lain-nya.


ia pun dengan segera melompat ke udara untuk menjauh dari Askila.


namun sayang-nya Askila dan para kloning kini langsung mencipta-kan kurungan petir dengan memanfaat-kan petir yang ada di tubuh Askila dan para kloning.


Hal itu pun membuat si laba-laba itu tak akan bisa kabur dari Askila dan kloning-nya.


Karena merasa tak akan bisa kabur lagi, kini laba-laba itu pun langsung menembak-kan benang api dari mulut-nya.


benang api tajam itu kini melesat ke arah Askila.


namun saat benang api yang sangat tajam itu menghantam petir yang ada di tubuh Askila, benang api itu tak bisa bertahan lama hingga akhir-nya benang api itu langsung hancur begitu saja.


"kau terlalu meremeh-kan ku bocah." ucap Askila sambil menatap tajam ke arah laba-laba itu.


Sementara itu, Madika yang sedang mengobati gadis di dalam tenda kini telah berhasil membersih-kan racun yang berasal dari luka yang ada di lengan si gadis.

__ADS_1


kini tersisa luka yang ada di pinggiran perut gadis itu.


Madika menatap luka itu dan diri-nya sedikit ragu untuk mengobati luka itu karena luka itu berdekatan dengan gunung kembar milik gadis itu.


Sementara itu, gadis itu kini melihat ekspresi Madika yang tampak ragu itu.


gadis itu awal-nya tidak menyadari apa yang membuat Madika ragu untuk mengobati bagian itu, namun akhir-nya gadis itu pun tersadar dengan posisi luka itu.


Seketika wajah gadis itu langsung memerah.


"ap.... apa yang kau pikir-kan?!" bentak gadis itu dengan wajah memerah.


Sementara itu, Madika yang mendapati pertanyaan itu kini langsung menatap gadis itu dengan tatapan serius.


"apa kau keberatan jika aku sedikit membuka baju-mu?" tanya Madika dengan ekspresi datar dan dari wajah-nya tidak tersirat sedikit-pun pemikiran lain selain mengobati.


Si gadis yang melihat ekspresi Madika pun kini bisa merasa-kan kesungguhan Madika untuk mengobati diri-nya.


"ba.... baiklah aku percaya pada-mu." ucap gadis itu dengan ekspresi malu-malu.


Kemudian gadis itu perlahan mengangkat baju-nya sendiri hingga gunung kembar milik-nya itu hampir kelihatan dengan jelas.


"apa begini sudah cukup?" tanya gadis itu dengan wajah yang masih memerah.


"uhmm." Madika bergumam sambil mengangguk.


Lalu Madika pun memulai pengobatan-nya.


ia melakukan pengobatan dengan cara yang sama dengan sebelum-nya.


Ia menotok sekitaran luka gadis itu dan membuat gadis itu sedikit memekik kesakitan.


Namun Madika tidak mempedulikan hal itu, ia hanya terus berfokus mengobati gadis itu.


Sementara itu, si gadis yang sedang melihat keseriusan Madika kini hanya bisa terus berharap agar Madika tidak melakukan hal yang c@bul terhadap diri-nya.


mau bagaimana pun, saat ini gunung kembar gadis itu sedikit terlihat oleh Madika karena baju gadis itu harus di angkat saat Madika mengobati-nya.

__ADS_1


"semoga saja dia tetap serius mengobati dan tidak berpikir macam-macam." batin gadis itu yang kini sedikit khawatir pada diri sendiri.


__ADS_2