
Kini seluruh siswa di kelompok Madika langsung bergerak ke lokasi yang ada hewan monster di temukan.
mereka semua melesat dengan cepat ke tempat pilihan masing-masing.
"dengan ada-nya hewan tingkat elit, aku yakin pasti bisa menang!"
"meski-pun aku lengah nanti-nya, namun aku percaya perlindungan dari Askila tidak akan terlambat!.... dengan begitu aku bisa fokus bertarung dan mengasah kemampuan!"
"ide Madika benar-benar bagus, selain mempercepat perburuan, ia juga bahkan melatih kami untuk bertarung secara solo!"
Berbagai pendapat dari anggota kelompok Madika tampak penuh dengan kepercayaan diri.
mereka kini yakin bahwa pilihan mereka tidak salah dan ini merupa-kan salah satu pilihan yang bagus.
hal itu di karena-kan memang banyak dari mereka yang sebenar-nya sudah bosan melakukan pertarungan berkelompok, jadi mereka ingin menguji apakah mereka bisa bertarung secara solo atau tidak.
Kini para siswa itu tiba di tempat tujuan mereka masing-masing dan langsung mulai pertarungan mereka dengan hewan monster yang ada di tempat tujuan mereka.
"Hmm.... seperti-nya semua berjalan dengan lancar." ucap Madika saat melihat pertarungan para siswa itu mengguna-kan pandangan dari kloning Askila yang mengikuti para siswa itu.
Beberapa saat kemudian, kini mereka semua berhasil mengalah-kan lawan-nya, lalu mereka pun langsung melapor pada Madika setelah mereka menyerap energi netral dari hewan monster yang mereka kalah-kan itu.
"aku akan bergerak ke tempat selanjut-nya, aku dapat informasi dari kloning Askila lain-nya yang ada di hutan ini." ucap salah satu dari mereka.
Setelah itu kini mereka semua mulai bergerak lagi dan berpindah-pindah tempat.
mereka semua tampak sangat bersemangat, dan tidak ada sedikit-pun rasa takut yang mereka rasakan saat ini.
"anak-anak kelas dua memang memiliki kemampuan yang lebih besar dari anak kelas satu, tidak ku sangka mereka bisa menyelesai-kan pertarungan dengan singkat." ucap Madika sambil tersenyum tipis.
"bukan mereka yang kuat, tapi hewan monster-nya yang terlalu lemah.... rata-rata hewan monster yang mereka hadapi tadi berada di tingkat Rookie level 10 ke bawah, jadi bisa di pasti-kan hewan-hewan monster itu masih sangat-lah lemah." ucap Askila menanggapi.
"ehm.... yang kau kata-kan itu memang benar.... oh iya, sejauh ini hewan monster yang berhasil kau lacak rata-rata level tertinggi-nya berada di level berapa?" tanya Madika.
"ehm.... sejauh ini hewan monster dengan level tertinggi yang ku temukan hanya berada di level 30 ke bawah.... belum ada yang lebih dari itu." ucap Askila.
__ADS_1
"bagus..... kalau begitu aku hanya perlu menjadi pengamat saja untuk sekarang." ucap Madika dengan tenang.
Setelah berkata seperti itu, Madika pun langsung melambai-kan tangan-nya, dan seketika di hadapan-nya muncul sebuah lingkaran energi.
lingkaran energi itu cukup besar dan tampak sedikit melayang di atas permukaan tanah.
setelah itu lingkaran energi itu bergerak vertikal ke atas.
lalu dari lingkaran itu muncul sebuah singgasana yang tampak sangat megah.
di samping singgasana itu terdapat dua ekor harimau api yang sedang duduk dengan dada tegap.
kedua harimau itu tampak seperti penjaga singgasana tersebut.
"hah.... sudah lama sekali aku tak duduk di singgasana ini." ucap Madika sambil berjalan ke singgasana itu.
saat Madika mendekati singgasana itu, kini kedua harimau api itu langsung menunduk-kan kepala-nya.
"selamat datang tuan." ucap kedua serigala itu secara bersamaan.
setelah Madika duduk, kini Madika pun langsung melambai-kan tangan-nya, dan seketika di hadapan-nya muncul layar-layar kecil yang menunjuk-kan keberadaan para kloning yang sedang bersama dengan seluruh anggota kelompok-nya.
"mereka benar-benar sangat bersemangat." ucap Madika yang kemudian meletak-kan tangan-nya di pinggiran singgasana lalu menopang dagu-nya mengguna-kan tangan-nya itu.
Saat ini, hutan Bulubete di kunjungi oleh tiga akademi ksatria Saga.
salah satu dari ketiga akademi itu adalah akademi Walawatu, yakni akademi yang di tempati oleh Madika.
sementara itu, dua akademi lain-nya adalah akademi lain-nya adalah akademi Parompe dan akademi Narodo.
"tuan, aku melihat ada siswa dengan serangan yang berbeda dengan seragam yang di miliki oleh akademi Walawatu." ucap salah satu kloning memberi informasi pada Madika.
"aku juga melihat-nya, di sini juga ada sekelompok bocah yang mengguna-kan seragam yang berbeda dengan akademi Walawatu." ucap kloning lain-nya memberi informasi.
"di mana lokasi-nya?" tanya Madika.
__ADS_1
"lokasi-nya ada di sini tuan." ucap Askila yang berada di bahu Madika sambil melambai-kan tangan-nya ke samping.
seketika itu juga muncul dua layar yang menunjuk-kan keberadaan kedua kelompok yang di maksud oleh kloning Askila.
"hmm....." Madika bergumam sambil memegang dagu-nya dengan ekspresi berpikir. "seperti-nya aku kenal dua jenis seragam ini." ucap Madika. "kalau tidak salah ini seragam yang di gunakan oleh akademi Parompe dan akademi Narodo..... tidak ku sangka hari ini mereka juga melakukan perburuan di tempat ini."
Setelah menyadari identitas sekelompok siswa-siswi itu, kini Madika pun langsung memberi-kan informasi itu pada seluruh anggota kelompok-nya.
"kalian semua!..... sebaik-nya kalian segera berkumpul, di hutan ini ada anak dari akademi yang berbeda yang juga sedang melakukan perburuan energi netral..... berusaha-lah untuk tidak jalan sendirian." ucap Madika memberi perintah.
Mendengar perintah serta informasi dari Madika, kini seluruh anggota kelompok Madika pun langsung sepemikir dengan Madika.
Saat ini Madika sedang berpikir bahwa pertemuan dua akademi dalam satu wilayah perburuan adalah hal yang cukup buruk.
hal itu di karena-kan banyak siswa saat ini yang sangat mudah tersinggung dan sensitif terhadap sindiran kecil.
jadi Madika pun berpikir bahwa tidak menutup kemungkinan kalau akademi Narodo dan akademi Parompe bisa saja akan menyerang kelompok kecil milik-nya demi menguasai wilayah perburuan saat ini.
"jika mereka hanya berjalan sendiri-sendiri bisa gawat nanti-nya, sebaik-nya mereka bergerak secara bersamaan untuk saat ini." pikir Madika.
"tenang saja tuan, aku akan membantu mereka jika di perlukan, jadi anda tak perlu khawatir." ucap Askila menenang-kan Madika.
"iya aku tahu, tapi setidak-nya akan lebih baik jika mereka bersatu agar tidak terlalu kesulitan jika berhadapan dengan musuh.... ingat, seperti apa-pun bentuk musuh itu, kita tetap tak boleh meremeh-kan mereka." ucap Madika dengan nada menggurui Askila.
Askila yang mendengar ucapan Madika itu kini hanya bisa menghela nafas panjang.
"baiklah kalau begitu, anda lakukan saja sesuai keinginan anda." ucap Askila.
Tak lama setelah itu, kini ketujuh anggota kelompok Madika itu sudah berkumpul di satu titik.
"apa yang harus kami lakukan selanjut-nya?" tanya Natalia melalui perantara Askila.
"tenang saja, untuk sekarang kalian akan berburu secara berkelompok terlebih dulu." jawab Madika.
"hah...." Natalia menghela nafas dengan ekspresi malas. "baiklah kalau begitu."
__ADS_1