Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Si Botak


__ADS_3

Sebuah ledakan dari bola api kini membuat beberapa siswa yang berada di sekitar tempat ledakan itu kini terhempas cukup kuat dan menabrak batang pohon.


sebuah ledakan bola api itu datang dari salah satu Niverom yang saat ini baru saja tiba di tempat pertarungan antara siswa akademi Parompe dan Walawatu.


Serangan dadakan itu membuat mereka semua terkejut dan beberapa orang yang tidak terkena efek kuat dari ledakan itu kini langsung mundur dan menjauh dari arena ledakan.


mereka semua pun terlihat langsung waspada dengan apa yang terjadi barusan.


"seperti-nya ada orang lain yang mengganggu pertarungan ini!" ucap salah satu guru dari akademi Parompe.


"semua-nya!!..... segera-lah mundur dan menjauh dari arena ledakan!" ucap guru akademi Parompe yang satu-nya lagi.


Setelah itu seluruh siswa dari akademi Parompe pun langsung menjauh dari area terjadi-nya ledakan besar itu.


begitu pula dengan para siswa dari akademi Walawatu. beberapa dari mereka yang masih sanggup berjalan meski-pun sudah oleng kini terlihat memaksa-kan diri untuk menjauhi tempat itu.


Tempat itu saat ini di penuhi oleh kepulan asap yang sangat tebal akibat dari ledakan api barusan.


Sementara itu Bu Meri dan salah satu siswa yang masih bisa berdiri dengan benar tadi kini langsung membantu para siswa lain-nya untuk menjauh dari tempat itu.


"masih ada lima orang siswa kita di dalam asap tebal itu!" ucap Bu Meri dengan ekspresi khawatir.


"seperti-nya akan sulit mengambil mereka Bu.... apa lagi di dalam sana aku merasa-kan keberadaan dari energi Nara.... tidak menutup kemungkinan kalau yang menyerang barusan adalah Niverom." ucap siswa yang saat ini masih bisa berdiri tegak.


"kau benar.... bahkan di dalam sana aku bisa merasa-kan keberadaan sembilan orang Niverom tingkat Alima dan satu orang Niverom tingkat Aono!.... ini benar-benar sebuah masalah besar bagi kita!" ucap Bu Meri.


Sebaik-nya kita segera menjauh dari sini Bu!.... sebelum mereka mengejar kita, akan lebih baik jika kita kabur dan biar-kan akademi Parompe yang berurusan dengan mereka!" ucap siswa yang masih berdiri tegak itu memberi saran.


"benar Bu!.... kita tidak akan bisa menang!, dan lagi, seluruh siswa kita banyak yang tumbang dan tak sanggup bertarung lagi!" timpal siswa laki-laki lain-nya.


Mendengar ucapan kedua siswa-nya itu, kini Bu Meri pun hanya bisa menghela nafas dengan ekspresi pasrah.


"jika memang semudah itu aku yakin kita pasti bisa kabur!.... tapi lihat-lah!.... apa kalian mau meninggal-kan teman-teman yang lain-nya yang saat ini sudah tak sanggup untuk kabur?!" jawab Bu Meri sambil melihat beberapa siswa yang saat ini hanya bisa duduk karena kesulitan untuk berdiri.

__ADS_1


"tinggal-kan saja mereka!" ucap siswa laki-laki yang masih bisa berdiri dengan enteng-nya.


~PLAK!!~


Sebuah tamparan kini mendarat di wajah siswa laki-laki itu dan membuat wajah-nya tertepis ke arah samping.


"bisa-bisanya kau berkata seperti itu!" ucap Bu Meri dengan wajah yang tampak kesal setelah menampar siswa laki-laki itu.


"untuk saat ini kita harus bisa bekerjasama dengan akademi Parompe untuk melawan para Niverom, namun, jika keadaan benar-benar sudah mendesak, barulah kita kabur dari sini!" ucap Bu Meri.


Setelah itu Bu Meri pun langsung menoleh ke arah beberapa siswa yang kesulitan untuk berdiri itu.


"tapi jika kau bisa membantu beberapa siswa untuk menjauh dari sini, maka aku akan membiar-kan mu, jadi, bawalah mereka semua menjauh dari sini, dan biar-kan ibu yang menahan para Niverom itu bersama siswa dan guru dari akademi Parompe." ucap Bu Meri memberi arahan pada siswa laki-laki itu.


"baik Bu!..... lagi pula kita tak punya pilihan lain lagi!" ucap siswa laki-laki itu sambil mengangguk.


"TIDAK SEMUDAH ITU!!!"


Suara teriakan terdengar dari dalam kepulan asap yang perlahan lenyap.


ketiga Niverom itu kini berdiri di tiga titik yang saling berjauhan.


lalu mereka pun langsung menggerak-kan kedua tangan mereka dengan beberapa variasi gerakan.


setelah itu mereka mengangkat kedua tangan mereka di depan dada lalu menyatu-kan kedua jari telunjuk dan ibu jari mereka membentuk segitiga.


seketika muncul cahaya merah di tubuh mereka dan cahaya itu langsung memancar ke langit bagai-kan pilar dengan pola segi tiga.


lalu ketiga Niverom itu pun langsung mengaktifkan jurus-nya dan hasil-nya sebuah dinding penghalang berbentuk segitiga pun tercipta.


kini siswa akademi Walawatu dan Parompe pun terjebak dalam kurungan segitiga berwarna merah itu.


"jangan pikir kalian bisa lari dari kami!" ucap salah satu Niverom dengan nada yang terdengar tegas.

__ADS_1


Kini asap tebal sudah lenyap sepenuh-nya, dan terlihat ada tujuh orang Niverom yang sedang berdiri di tengah-tengah tempat terjadi-nya ledakan api.


"tchi.... para Niverom itu mengurung kita semua di sini!" ucap salah satu guru dari akademi Parompe.


"oi.... jangan bilang kau sudah ketakutan sebelum bertarung!" balas guru yang satu-nya sambil menatap tajam ke arah guru yang berbicara sebelum-nya.


"apa kau bod0h?!.... lihat! mereka berenam sudah berada di tingkat Alima dan yang satu-nya berada di tingkat Aono!.... kau pikir kita berdua bisa melawan mereka? kau pikir siswa kita bisa menandingi mereka?.... apa kau sudah gil@!" ucap guru itu lagi dengan ekspresi panik.


"tenang saja guru!" ucap si botak sambil mendekati kedua guru-nya itu.


"hanya karena mereka berada di tingkat Alima dan Aono, bukan berarti mereka bisa seenak-nya saja!.... lihat jumlah kita ada begitu banyak!" ucap si botak dengan penuh semangat sambil menunjuk ke arah para siswa yang lain-nya.


"benar!" teriak para siswa dengan penuh semangat.


"diam b0doh!!.... hanya karena kemenangan kecil jangan pikir kalian sudah sangat hebat!.... lawan kalian-lah yang terlalu lemah!.... tapi kali ini berbeda! lawan kali ini terlalu jauh di atas kalian!" bentak guru yang sebelum-nya.


"kalau guru setakut itu! maka lihat saja bagaimana kami menghabisi para Niverom ini!" teriak si botak.


"AYO SEMUA-NYA!!"


botak mulai mengomandani para siswa lain-nya untuk maju menyerang.


"jangan gegabah!" ucap guru itu lagi dengan wajah kesal. namun perkataan-nya tidak di dengar-kan oleh para siswa.


"ku pikir hanya rambut-mu saja yang tidak ada, ternyata otak-mu juga tidak ada!"


"hei lihat, ada bola datang kemari." ucap salah satu Niverom sambil menunjuk ke arah si botak yang sedang berlari ke arah mereka.


"tenang saja biar ku kembali-kan dia ke kiper-nya." ucap si Niverom tingkat Aono.


~DUAAARRRR!!~


Tiba-tiba Niverom tingkat Aono sudah berada di belakang tubuh si botak, namun tubuh si botak sudah tak ada kepala-nya lagi karena kepala si botak telah terhempas ke arah guru-nya.

__ADS_1


si guru yang melihat hal itu pun langsung melompat dan menangkap kepala si botak layak-nya seorang kiper menangkap bola.


__ADS_2