Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Bertarung Melawan Udin (4)


__ADS_3

Saat ini, Madika yang masih berada di dalam mulut si piton petir itu kini merasa-kan tubuh-nya terasa kaku dan sulit di gerak-kan.


bahkan diri-nya sempat tak bisa menahan suara-nya sehingga ia berteriak saat tersengat oleh petir yang di hasil-kan oleh piton petir milik si Udin itu.


Kini piton petir si Udin itu langsung melesat ke arah lantai dengan sangat cepat dengan tujuan menghantam-kan Madika ke lantai.


Namun sebelum kepala si piton petir itu hendak mencapai lantai, kini Si Udin pun langsung menggerak-kan tangan-nya dengan posisi jari tengah dan jari tunjuk tegak lurus sementara jari lain-nya di tekuk.


Si Udin menggerak-kan tangan-nya itu ke arah si piton petir itu, dan seketika di bagian dalam ekor si piton petir itu tampak sebuah pedang petir terbentuk dengan posisi ujung runcing pedang itu mengarah ke arah Madika yang ada di dalam mulut si piton petir.


Kini piton petir itu pun langsung mencapai tanah, dan tampak piton petir itu langsung masuk ke dalam lantai itu, sementara Madika kini tertinggal di permukaan lantai sehingga saat si piton petir itu terus bergerak ke bawah, Madika pun terus mengalami tekanan energi yang sangat kuat serta sengatan petir yang luar biasa.


Namun hingga titik ini Madika berusaha untuk tidak berteriak seperti sebelum-nya. ia kini tampak menahan agar suara-nya tidak keluar. namun dari raut wajah-nya bisa di ketahui bahwa Madika saat ini sedang merasa-kan sakit yang teramat sangat.


Hingga akhir-nya kini sebuah pedang yang ada di dalam tubuh bagian ekor si piton petir itu kini telah mendekat ke arah Madika.


namun Madika tampak tak bisa bergerak sama sekali sehingga ia terlihat pasrah dengan keadaan tersebut.


Kini pedang itu pun langsung menusuk tubuh Madika bersamaan dengan masuk-nya seluruh tubuh si piton petir itu ke dalam lantai.


Si Udin yang melihat hal itu kini langsung tertawa terbahak-bahak.


ia merasa telah berhasil membunuh Madika, namun di sela-sela tawa-nya itu, kini pedang petir-nya yang ada di atas dada Madika itu pun kini langsung perlahan menghilang.


Namun saat si Udin sedang merasa senang akan kemenangan-nya itu, tiba-tiba Madika pun langsung bangun dari tidur-nya.

__ADS_1


Kini Madika mulai mencoba untuk berdiri dengan ekspresi datar di wajah-nya.


Sementara itu, si Udin yang melihat hal itu langsung terkejut karena di pikir-nya Madika telah ia kalah-kan.


namun nyata-nya Madika saat ini masih bisa bangkit dan tampak ia tidak mengalami luka yang terlalu parah di bagian dada-nya.


"ap.... apa?!!.... bagaimana kau bisa selamat dari serangan itu?!" ucap Udin dengan ekspresi kesal dan tampak tak percaya dengan apa yang di lihat-nya.


Madika yang mendengar ucapan Udin kini hanya diam dan tak mau menggubris-nya.


Si Udin yang mendapat-kan perlakuan acuh dari Madika kini semakin kesal.


"ternyata kau memang harus ku hajar dengan kekuatan penuh-ku!" ucap Udin sambil menghilang-kan pedang di tangan kiri-nya dan setelah itu ia pun mulai mengangkat tangan kanan-nya ke udara dengan posisi telapak tangan terbuka.


Madika yang melihat hal itu masih tetap diam, sementara si Udin yang semakin kesal kini mulai mempersiap-kan sebuah jurus yang besar untuk di gunakan melawan Madika.


Sementara itu, Madika yang melihat gumpalan petir itu kini hanya tersenyum tipis dan langsung mengguna-kan salah satu jurus andalan-nya.


"langkah dewa angin!!" ucap Madika dengan suara yang terdengar tegas namun tenang.


Seketika itu juga gelombang angin yang sangat luar biasa pun langsung terbentuk dari tempat Madika berdiri dan kini gelombang angin yang sangat dahsyat itu langsung bergerak meluas dan semakin mendekat pada si Udin.


Si Udin yang melihat hal itu kini langsung terkejut dan dengan segera ia mengangkat tangan kiri-nya di depan dada dengan posisi telapak tangan terbuka dan di arah-kan ke arah Madika, dan seketika itu juga sebuah perisai petir pun terbentuk tepat di depan si Udin dan kini perisai petir itu langsung di hantam oleh gelombang angin milik Madika.


Sementara itu di wajah si Udin kini masih terlihat raut wajah terkejut karena ia tak menyangka bahwa Madika memiliki jurus kuat yang berada di tingkat dewa.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, kini perisai petir si Udin yang di hantam oleh gelombang angin itu pun kini langsung retak.


Udin yang melihat hal itu kini langsung terlihat sedikit panik dan kesal.


tak lebih dari dua detik, kini perisai petir yang retak itu langsung hancur berkeping-keping bagai-kan kaca yang di lempar mengguna-kan batu.


Sementara si Udin kini terhempas sangat kuat dan terbawa oleh gelombang angin yang sangat kuat itu.


Hingga akhir-nya kini kepala si Udin pun langsung terbentur di konsen pintu.


namun karena dorongan gelombang angin yang sangat kuat itu, kini si Udin pun tetap terhempas ke luar dari ruangan itu dengan posisi tubuh yang terputar di udara bagai-kan sebuah baling-baling.


Hingga akhir-nya kini si Udin pun langsung menghantam dinding koridor yang ada di depan ruangan itu, dan saat diri-nya menabrak dinding itu, kini tampak Askila dan para kloning-nya yang sebelum-nya sedang bertarung kini sejenak berhenti saat melihat si Udin terhempas dan menghantam dinding koridor itu.


Sementara itu, si Kinto yang saat ini berpikir bahwa Udin pasti bisa mengalah-kan Madika kini langsung terkejut dan menatap si Udin dengan ekspresi yang tidak percaya.


"mu.... mustahil!!.... bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!" ucap Kinto dengan ekspresi tidak percaya.


Tidak hanya Kinto saja, kini para bawahan Kinto juga tampak terkejut, pasal-nya lawan Madika saat ini adalah seorang yang sudah terbilang cukup kuat di sekte Balumba, namun sebuah kejadian yang benar-benar tak di sangka oleh mereka kalau Udin yang jauh lebih kuat dari mereka itu bahkan bisa di hajar hingga terhempas sekuat itu oleh Madika.


Sementara itu, Askila yang melihat kejadian itu kini hanya melebar-kan senyum-nya melihat kejadian itu.


"hahaha.... ternyata tuan-ku ini benar-benar penuh kejutan." ucap Askila yang merasa bangga pada Madika tuan-nya itu.


Sebelum-nya Askila cukup ragu jika Madika bisa melawan si Udin karena si Udin saat ini memiliki tingkatan yang jauh lebih tinggi dari Madika.

__ADS_1


namun tak di sangka Madika bahkan bisa membuat si Udin terhempas sampai sekuat ini, dan hal itulah yang membuat Askila merasa kagum dan bangga pada tuan-nya itu.


__ADS_2