
Kini percikan-percikan petir dari punggung Askila yang bergerigi tajam itu langsung naik ke udara dan berkumpul menjadi satu dan mulai terbentuk seperti gumpalan petir yang cukup besar di tengah-tengah formasi melingkar Askila.
Setelah itu, kini gumpalan petir yang saat ini berada tepat di atas si monster semut yang sedang melindungi diri-nya mengguna-kan dinding tanah yang sangat kuat itu kini mulai melancar-kan sambaran Sambaran petir yang sangat kuat.
Kini gumpalan petir itu langsung berubah menjadi petir yang sangat besar dan langsung menyambar ke arah monster semut itu.
Cahaya Sambaran dari petir itu tampak sangat menyilau-kan dan hal itu membuat gadis yang membawa semut itu ke tempat ini kini langsung menutup mata-nya mengguna-kan tangan-nya karena cahaya petir itu benar-benar sangat silau.
Petir itu menyambar tepat ke dinding pelindung yang terbuat dari tanah yang saat ini melindungi si monster semut.
Saat Sambaran petir yang sangat besar itu kini menghasil-kan ledakan yang cukup kuat.
ledakan itu pun membuat wilayah di sekitar tempat ledakan itu langsung hancur berantakan.
banyak tanah-tanah di sekitar-nya langsung beterbangan di udara, sementara pepohonan serta beberapa bebatuan terlempar secara acak di udara.
Bahkan Askila dan gadis uang tadi kini hampir terkena beberapa pecahan batu serta batang pohon yang di hempas-kan oleh ledakan tersebut.
namun karena Askila dan gadis itu yang segera membuat sebuah perisai pelindung di hadapan mereka kini mereka pun terlindung dari benda-benda yang terlempar ke arah mereka.
Sesaat kemudian, kini ledakan yang menghasil-kan asap tebal itu berhenti dan asap tebal pun sudah menghilang.
Namun, terlihat Askila dan gadis itu kini terkejut melihat bahwa tanah pelindung milik monster semut barusan ternyata masih baik-baik saja meski-pun sudah mengalami beberapa kerusakan.
"sial!.... ternyata serangan-ku masih belum cukup kuat!" ucap Askila dengan ekspresi kesal.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba tanah pelindung itu tampak mulai retak.
~KREK~
__ADS_1
Retakan tanah pelindung itu tampak semakin menjalar ke seluruh bagian tanah pelindung itu.
tanah pelindung itu tampak akan hancur.
Askila dan si gadis yang melihat hal itu kini langsung pasang sikap waspada dengan hal itu.
"seperti-nya semut itu akan segera keluar!" ucap Askila yang tampak waspada.
Tak butuh waktu lama, kini si semut itu pun langsung keluar dari tempat berlindung-nya itu, dan tanah tempat berlindung-nya itu kini hancur berkeping-keping dan langsung terlempar jauh hingga beberapa puing dari tanah pelindung-nya itu kini menghantam perisai petir serta perisai angin milik si gadis itu.
"GWAARRRRR!!!!"
Si semut raksasa itu berteriak dan mengeluar-kan suara yang sangat keras ke arah Askila dan si gadis itu.
Suara dari semut itu ternyata tidak hanya sekedar suara keras biasa karena suara itu tampak menghasil-kan sebuah gelombang energi yang cukup kuat.
Gelombang energi itu memiliki berfungsi untuk menyerang pendengaran orang objek yang di serang-nya.
Ketika Askila dan gadis itu mendengar suara semut yang di sertai dengan gelombang energi itu, kini Askila langsung menurun-kan daun telinga-nya untuk menutup lubang telinga-nya agar supaya diri-nya tak mendengar langsung suara di semut raksasa itu.
Sementara si gadis itu kini merasa-kan sakit kepala yang luar biasa karena diri-nya tidak tahu tentang serangan suara yang di lakukan oleh semut raksasa itu, sementara.
"tutup telinga-mu bod0h!" bentak Askila sambil menoleh ke arah gadis itu karena Askila melihat gadis itu tak menutup telinga-nya.
Mendengar suara Askila yang membentak-nya, kini gadis itu langsung mencoba menutup telinga-nya.
"ba... baiklah." ucap gadis itu dengan patuh dan langsung menutup telinga-nya mengguna-kan kedua tangan-nya.
Meski-pun gadis itu agak terlambat menutup telinga-nya, namun ia hal itu tetap berhasil membuat-nya merasa sedikit lebih baik meski-pun rasa sakit di kepala-nya masih sedikit terasa.
__ADS_1
Saat si gadis itu selesai menutup telinga-nya, kini Askila pun kembali menoleh ke arah si semut raksasa itu.
Baru saja memutar kepala-nya dan menoleh ke arah semut itu, tiba-tiba wajah Askila kini di hantam oleh sebongkah tanah yang cukup besar.
Hal itu pun membuat Askila langsung terlempar dan menghantam dinding gua yang ada di belakang-nya.
Gadis itu langsung terkejut melihat Askila terlempar begitu saja akibat serangan itu.
gadis itu kini berpikir untuk berlari mendekati Askila, namun sayang-nya baru dua langkah ia berlari kini sebongkah tanah melesat ke arah-nya dan langsung menghantam tubuh-nya dan membuat ia terlempar masuk ke dalam gua serta menabrak dinding dalam gua tersebut.
"di.... dia kuat sekali!" ucap gadis itu yang kini mengalami luka di kepala serta pergelangan tangan dan di bagian perut-nya juga tampak terluka.
Dari dahi gadis itu kini perlahan mengalir darah yang membasahi mata serta pipi-nya. begitu pula di sudut bibir-nya tampak ada darah yang mengalir.
bahkan saat ini ia sempat memuntah-kan darah dari dalam mulut-nya.
"sial..... apa aku akan mati di sini?" ucap gadis itu dengan ekspresi putus asa.
Sementara itu, si semut raksasa yang menyerang barusan kini mulai berjalan mendekati gadis itu sambil menggertak-kan gigi-nya.
hingga akhir-nya kini semut raksasa itu sudah berdiri di hadapan gadis itu.
Gadis itu kini tak bisa berbuat apa-apa lagi, seluruh tubuh-nya terasa sangat sakit, terlebih lagi di bagian tulang punggung-nya yang terkena hantaman dari bongkahan tanah barusan.
ia merasa bahwa di bagian itu sudah mengalami pergeseran tulang atau mungkin sudah patah.
Sementara itu, kepala si semut raksasa itu kini berada di atas gadis itu, dan dari mulut semut itu mengalir air liur yang sangat banyak sampai-sampai air liur-nya itu kini membasahi seluruh tubuh gadis itu.
Gadis itu kini semakin ketakutan, namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa lagi kerena saat ini ia sudah mengalami luka yang cukup parah.
__ADS_1
hal itu pun membuat gadis itu semakin putus asa dan ia pun memilih pasrah akan keadaan-nya saat ini.
"ya sudah-lah, kalau memang hanya bisa sampai di sini.... meski-pun rasa-nya sangat menyakit-kan dan menyebal-kan karena aku belum sempat menyelesai-kan misi-ku." ucap gadis itu dalam hati dengan ekspresi menyesal dan kecewa.