
Saat ini Madika kembali menemui Natalia. saat Natalia melihat kedatangan Madika, kini Natalia pun terlihat senang.
wajah Natalia yang sebelum-nya khawatir kini terlihat bahagia setelah melihat kedatangan Madika.
kemudian Madika pun langsung mendekati Natalia.
ia kemudian duduk di sebelah Natalia.
setelah itu Madika pun langsung mengeluar-kan semua bahan obat yang ia kumpul-kan.
setelah itu ia juga mengeluar-kan alat untuk menumbuk tanaman-tanaman obat itu agar bisa di satukan.
Sementara itu, Natalia yang saat ini melihat wajah Madika yang tampak terluka kini perlahan menyentuh wajah Madika dan mengelap siswa darah di luka Madika itu mengguna-kan ibu jari-nya.
"apa yang terjadi di luar sana?" tanya Natalia yang tampak berharap agar Madika jujur pada-nya.
"aku hanya terpeleset dan bergelinding di jalanan menurun.... ini bukan masalah." jawab Madika sambil tersenyum menyembunyi-kan apa yang ia alami ketika harus kabur dari kejaran si tirex itu.
"kalau mau berbohong cobalah cari alasan yang lebih bagus." balas Natalia sambil memaling-kan wajah-nya dengan ekspresi yang tampak merajuk.
Sementara itu, Madika yang melihat tingkah Natalia itu kini hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-kan kepala-nya. kemudian Madika pun langsung meletak-kan tangan kanan-nya di atas kepala Natalia sambil mengelus-nya.
Setelah itu kini Madika pun mulai meracik obat yang bisa menyembuhkan luka Natalia itu.
ia mulai mencampur beberapa tanaman dan menumbuk-nya hingga tercampur rata. setelah itu ia memeras air dari tanaman yang di tumbuk-nya itu dan meletakan-nya di tempat yang sudah ia siap-kan sebelum datang menemui Natalia.
"minum-lah ini.... ini sudah ku campur-kan dengan salah satu tumbuhan penyembuh yang bisa menyembuh-kan luka dengan cepat.... dengan meminum ini aku yakin luka-mu itu akan segera sembuh dalam waktu kurang dari satu jam." ucap Madika menjelas-kan khasiat dari obat racikan yang ia buat dari tanaman yang susah payah ia dapat-kan dari tempat yang di jaga oleh tirex sebelum-nya.
Natalia yang mendengar ucapan Madika itu kini perlahan kembali menoleh ke arah Madika.
ia kemudian meraih obat itu dari tangan Madika.
setelah itu ia pun langsung meminum-nya.
__ADS_1
Baru beberapa menit Natalia meminum ramuan itu, kini tampak luka di kaki Natalia perlahan mengering.
"i.... ini benar-benar bekerja!" ucap Natalia sambil menoleh pada Madika dengan ekspresi bahagia. "bukan hanya luka di kaki-ku saja, bahkan saat ini rasa-nya beberapa bagian tubuh-ku yang lain-nya yang terasa sakit kini perlahan pulih." ucap Natalia yang tampak takjub akan khasiat dari obat racikan Madika.
Sementara itu, Madika yang melihat reaksi Natalia kini hanya tersenyum sambil kembali meracik obat itu untuk diri-nya sendiri.
"efek tumbuhan obat ini memang sangat luar biasa, selagi luka-nya masih terbilang cukup ringan, maka bisa di sembuh-kan dengan cepat.... luka yang kita alami ini masih terbilang sebagai luka yang tidak terlalu berat, jadi efek penyembuhan-nya jadi lebih cepat." ucap Madika menjelas-kan.
setelah obat racikan kedua selesai di buat, kini Madika langsung meminum obat itu.
"hei Madika, kemari-lah!" ucap Natalia meminta Madika mendekati-nya karena saat ini diri-nya masih sedikit sulit untuk menggerak-kan kaki-nya.
"ada apa?" tanya Madika tanpa menoleh karena sedang memberes-kan alat yang ia gunakan untuk meracik obat.
"cepat-lah, ada sesuatu yang ingin ku katakan pada-mu." ucap Natalia yang terdengar mendesak.
"hah.... baik-lah." ucap Madika sambil menghela nafas dan langsung berjalan mendekati Natalia.
Saat Madika telah tiba di hadapan Natalia, Natalia langsung menggerak-kan telapak tangan-nya dan memberi isyarat pada Madika bahwa saat ini ia ingin membisik-kan sesuatu pada Madika.
namun saat Madika sudah mendekat-kan telinga-nya pada Natalia, Natalia malah langsung mencium pipi Madika.
setelah mencium pipi Madika Natalia langsung menepis wajah-nya dari Madika.
sementara itu, Madika kini langsung terkejut.
seketika mata Madika langsung melebar karena tak menyangka bahwa Natalia akan melakukan hal itu.
"ehm....?" Madika bergumam dengan nada bingung sambil perlahan menoleh ke arah Natalia yang saat ini tampak sedang memaling-kan wajah-nya dari Madika.
Saat ini Natalia sedang berusaha menyembunyikan wajah-nya yang memerah karena mencium pipi Madika.
"aku hanya berpikir kau sudah berusaha keras, jadi anggap saja itu hadiah dari-ku." ucap Natalia dengan jujur sambil terus menyembunyikan wajah-nya dari Madika.
__ADS_1
"hadiah?..... hahahaha kalau kau memang mau memberi hadia yang seperti itu, kenapa tidak langsung cium di bibir saja." ucap Madika dengan nada bergurau sambil tertawa.
Sementara itu, Natalia yang mendengar ucapan Madika itu kini langsung pasang ekspresi kesal dan langsung menoleh ke arah Madika dengan tatapan intimidasi.
"apa kau tidak puas dengan yang ku lakukan barusan hah?" ucap Natalia dengan ekspresi yang tampak menyeramkan.
Madika yang melihat ekspresi itu kini langsung membalik-kan badan-nya.
"hehehe.... maaf aku hanya bercanda." ucap Madika sambil tertawa hambar.
kemudian Madika pun langsung kembali memberes-kan beberapa peralatan yang ia gunakan untuk membuat obat itu.
"uhyy...... mengerikaaaannnn!" batin Madika sambil membayang-kan ekspresi Natalia barusan.
"bagaimana jika dia benar-benar akan menikah dengan-ku karena di jodoh-kan..... uhyyy..... bisa-bisa malam pertama malah jadi malam penghiburan." batin Madika.
note: malam penghiburan adalah malam pertama setelah seseorang meninggal.
setelah seseorang meninggal, di malam pertama rumah dari keluarga yang berduka akan mengadakan malam penghiburan di mana seluruh masyarakat setempat akan mengunjungi rumah duka guna memberi dukungan dan penguatan dalam bentuk doa dan lain-lain.
Setelah Madika selesai menyimpan semua peralatan dan beberapa tanaman obat yang tersisa, kini Madika pun langsung berjalan keluar dari akar pohon itu.
"kau mau ke mana?" tanya Natalia saat melihat Madika yang berjalan keluar dari tempat itu.
"aku mau ke luar sebentar, tidak akan lama." ucap Madika tanpa memberi tahu alasan-nya.
Sementara itu, Natalia yang saat ini sedang menunggu hingga kaki-nya benar-benar sembuh total kini hanya bisa diam melihat kepergian Madika.
saat ini luka di kaki Natalia baru lima puluh persen-nya saja yang sembuh. hal itu pun membuat Natalia masih belum bisa terlalu banyak bergerak.
Di sisi lain, Madika yang saat ini sudah berada di luar akar pohon itu kini mulai menatap ke langit-langit.
ia saat ini sedang berpikir bagaimana cara-nya agar mereka bisa kembali lagi ke atas sana, sementara saat ini mereka telah kehilangan energi Saga mereka secara misterius.
__ADS_1
bahkan energi Saga mereka sama sekali tak di pulih-kan.
"inti Saga di tubuh-ku masih ada, hanya saja semua-nya sudah kosong dan tak ada Saga sedikit pun di dalam-nya." batin Madika. "hah.... apa yang harus ku lakukan sekarang?" ucap-nya sambil menghela nafas dengan ekspresi putus asa.