
Saat Madika ingin menjelaskan tentang bagaimana diri-nya mengalahkan Natalia. tiba-tiba ucapan-nya terhenti karena saat ini wali kelas mereka telah tiba dan langsung menyuruh mereka untuk segera duduk dengan rapi karena saat ini memang masih banyak siswa yang berkumpul-kumpul di satu meja.
Sementara itu, Madika yang hendak menjelaskan kisah-nya kini tampak terkejut karena ternyata guru yang menjadi wali kelas-nya itu adalah Kulimu Nakumba, yakni orang yang mewarisi kekuatan dari bawahan tuan Risiwuku.
Di sisi lain, saat ini Kulimu masih belum memperhatikan Madika karena ia masih fokus pada beberapa siswa yang duduk tidak teratur.
Setelah semua siswa duduk dengan rapi, kini Kulimu mengedarkan pandangan-nya ke seluruh siswa di kelas itu. hingga akhir-nya pandangan-nya terhenti setelah melihat sosok Madika yang sedang duduk di samping keponakan-nya yakni Ariel.
"ohoh.... jadi kau juga belajar di akademi ini ya.... sungguh kebetulan yang sangat tidak di duga." ucap Kulimu sambil berseringai menatap Madika.
Sementara itu, Madika yang mendengar sapaan itu langsung mengangkat tangan kanan-nya.
"hmm.... benar juga, aku bahkan sempat terkejut saat melihat-mu." ucap Madika.
"hmm.... begitu ya.... kalau begitu kita mulai saja kegiatan hari ini." ucap Kulimu sambil meletak-kan sebuah buku yang ia bawa.
"hei.... sejak kapan kau mengenal paman-ku.... kelihatan-nya kalian sudah saling kenal." tanya Ariel.
"kami sudah saling kenal sejak satu Minggu yang lalu." jawab Madika.
Setelah itu kini pak Kulimu memulai kegiatan pemilihan ketua kelas di kelas ini, dan akhir-nya berdasarkan pemilihan suara terbanyak kini Tepaonjo Nawongi terpilih menjadi ketua kelas.
Tepaonjo adalah sosok pria yang memiliki karisma yang sangat cocok untuk menjadi ketua kelas.
ia memiliki jiwa seorang pemimpin sehingga banyak siswa di kelas itu yang sudah mengenal-nya pasti memilih-nya.
>SKIP<
Setelah waktu belajar selesai, kini seluruh siswa di akademi itu pulang ke rumah-nya masing-masing.
di perjalanan pulang, Madika di perhadap-kan dengan sebuah keributan yang membuat heboh masyarakat yang ada di sekitaran tempat itu.
keributan itu di akibatkan oleh sekelompok Niverom yang berhasil mencuri beberapa masyarakat yang ada di tempat itu.
__ADS_1
Setelah Madika mendapat-kan informasi itu, Madika pun terkejut. "tchi.... mereka semakin berani saja!.... padahal ini di dalam kota!" batin Madika.
"ke arah mana pergi-nya para Niverom itu?" tanya Madika.
"mereka pergi ke arah hutan kematian!" jawab orang yang sedang ia tanyai saat ini.
Setelah mendengar hal itu, Madika pun termenung sejenak.
sesaat kemudian ia pun memutuskan untuk segera pulang dan mengganti pakaian-nya.
Setiba-nya di rumah ia segera mengganti pakaian-nya dan bergegas pergi ke hutan kematian.
tujuan-nya adalah pergi berburu dan menaik-kan level-nya.
"jika sekelompok Niverom itu sangat kuat sampai-sampai berani menyerang si tengah kota, maka sebaik-nya saat berburu aku harus lebih berhati-hati."
Sejak ribuan tahun yang lalu, Niverom memang sudah sering melakukan penculikan secara berkelompok di wilayah para manusia.
bahkan hingga saat ini hal itu masih sering terjadi, padahal saat ini sudah sangat banyak manusia yang memiliki energi Saga dan telah menjadi bagian dari ksatria yang bertugas untuk menghabisi mereka.
"aku yakin saat ini ada banyak ksatria yang sedang menuju hutan kematian untuk mencari para Niverom itu!" batin Madika sambil terus bergerak.
Setelah beberapa saat kemudian, Madika pun tiba di hutan kematian dan langsung memasuki-nya.
Saat Madika sudah berada jauh di dalam hutan kematian, Madika merasa bahwa daerah yang ia masuki saat ini aman-aman saja.
ia mengedarkan Saga-nya untuk mendeteksi keadaan di sekitar.
jarak pendeteksian Madika saat ini telah mencapai jarak kurang lebih 300 meter ke depan dan dengan diameter 600 meter.
Dalam jarak 300 meter ke depan maupun belakang, ia sama sekali tak merasakan keberadaan manusia ataupun Niverom.
setelah itu ia pun menarik kembali Saga yang ia edarkan itu ke dalam tubuh-nya.
__ADS_1
"apa aku perlu masuk lebih jauh lagi?" batin Madika.
Kemudian Madika pun mulai berpikir sejenak. setelah berpikir ia pun langsung mengambil keputusan.
"mungkin sebaik-nya aku masuk lebih dalam lagi... tapi jika nanti-nya ada sesuatu yang aneh sebaik-nya aku langsung kabur dari pada melawan." batin Madika.
Kemudian Madika pun langsung melompat ke atas pohon, dan dengan cepat ia melesat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lain-nya.
Saat ini Madika terus melesat dengan cepat. sambil bergerak maju, ia juga terus mengedarkan Saga-nya untuk melakukan pendeteksian.
"sudah sejauh ini tapi masih saja tak ada apa-apa yang ku temukan.... apa mungkin saat ini para ksatria sedang memojok-kan para Niverom sehingga banyak Niverom yang mundur dari wilayah ini?" batin Madika.
saat ini Madika merasa bahwa diri-nya harus terus maju meskipun sebenar-nya ia sudah 4 jam lama-nya hanya terus melompat dari satu pohon ke pohon lain-nya.
Setelah sudah sangat jauh ke dalam hutan kematian, tiba-tiba hujan yang sangat deras dan di sertai badai angin menghantam wilayah tersebut.
karena Madika merasa percuma menerobos hujan jika tak ada hasil-nya, kini Madika pun memilih untuk berteduh.
entah kebetulan apa Madika kini melihat sebuah gua yang cukup besar, dan entah karena apa Madika merasa bahwa diri-nya lebih baik berteduh di gua itu.
lalu Madika pun memutuskan untuk masuk ke gua itu.
setiba-nya di mulut gua, Madika pun merasakan hawa panas di dalam gua itu.
ia merasa seperti ada sesuatu di dalam gua itu. namun ketika ia mengedar-kan Saga-nya ia sama sekali tak menemukan apa-apa di dalam gua itu.
"hangat sekali tempat ini.... padahal di luar sudah sangat dingin." batin Madika.
karena Madika merasa penasaran, akhir-nya Madika pun mulai berjalan masuk lebih dalam lagi ke gua itu.
semakin jauh ia masuk ke dalam gua itu, hawa panas itu makin bertambah. meskipun begitu rasa penasaran-nya justru semakin kuat dan diri-nya seolah terus di dorong oleh keinginan untuk tetap masuk ke dalam gua itu.
saat berada semakin jauh di gua itu, mata Madika langsung terbelalak karena diri-nya melihat sebuah ruangan yang sangat luas di dalam gua itu. namun bukan itu yang membuat Madika terkejut. yang membuat Madika terkejut adalah ruangan yang sangat luas itu di penuhi oleh emas yang sangat berkilau.
__ADS_1
Madika yang melihat hal itu langsung menganga dengan mata terbelalak.
"a.... aku kaya!!" ucap Madika dengan ekspresi yang terlihat sangat senang.