Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Orang-orang Yang Penasaran


__ADS_3

Madika kini telah selesai mencoba semua senjata energi yang ia dapat-kan dari klan petir dan ia kini sudah memahami cara penggunaan senjata tersebut.


"Baik-lah, ini saat-nya." Ucap Madika dengan mata yang menyala-nyala penuh semangat.


Lalu Madika pun keluar meninggal-kan gua itu. Ia kini langsung memuncul-kan sayap angin di punggung-nya, dan dengan segera ia pun langsung terbang dengan sangat cepat di sela-sela pepohonan yang sangat rimbun dan hingga akhir-nya ia pun menembus daun-daun pohon yang rimbun itu dan kini ia sudah berada di atas hutan tersebut.


"Apa pun yang terjadi! Tongkat itu harus ku dapat-kan kembali!" Ucap Madika dengan tegas sambil memperkuat sayap-nya dan setelah itu terbang dengan satu hentakan di udara yang menyebab-kan sedikit ledakan ketika ia melesat di udara.


******


Di sekte Balumba saat ini pertandingan para murid sekte serta para siswa akademi masih terus berlangsung.


Suasana cukup heboh di arena itu karena sangat banyak orang-orang yang hadir di tempat itu terus memberi sorakan dan dukungan pada orang-orang yang sedang bertanding satu lawan satu itu.


Di sisi lain, tepat di sebuah tempat yang lebih tinggi di antara area bangku penonton, tampak sederet kursi yang cukup mewah berjejer menghadap ke arah arena pertarungan.


Di kursi itu tampak beberapa tetua sekte Balumba sedang duduk mengamati pertarungan itu.


Di sana juga tampak ada sang ketua klan yang sedang duduk bersama dengan para tetua tersebut.


"Apa masalah klan petir sudah di selidiki dengan seksama?" Tanya si tetua yang bernama Pengkor.


"Aku sudah mengirim beberapa orang kemarin untuk mengecek kejadian itu, dan berdasar-kan hasil penyelidik-kan orang-orang yang ku kirim itu, kata-nya penyerang yang melakukan serangan dan mengobrak-abrik klan Petir itu hanya-lah satu orang saja, dan orang itu juga masih berusia belasan tahun! Sekitar usia 17 sampai 19an." Jawab si tetua Molege sambil menoleh ke arah tetua Pengkor.


"Hah? Hanya satu orang saja?! Bahkan masih bocah bau kencur?!... Bagaimana bisa bocah seperti itu memporak-porandakan klan petir yang merupa-kan klan terkuat di kerajaan Doroko ini?!" ucap tetua Mangkoli yang saat ini terkejut bukan main mendengar cerita si tetua Molege tersebut.

__ADS_1


Tetua Mangkoli benar-benar terlihat tidak percaya akan apa yang di ucap-kan oleh tetua Molege barusan, karena bagi tetua Mangkoli, cerita seperti itu benar-benar hanya sebuah kemustahilan semata.


"Jika memang hal seperti itu benar-benar terjadi? Lantas siapa bocah itu yang sebenar-nya?" Ucap si tetua Gobago yang tampak pasang ekspresi penasaran akan identitas sang pelaku yang memporak-porandakan klan petir itu.


"Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui secara pasti, akan tetapi berdasar-kan kesaksian dari salah satu orang yang selamat, orang itu menyebut-kan bahwa nama bocah itu adalah Maduko, yakni sosok yang sebelum-nya sempat bermasalah dengan salah satu pemuda terkuat di klan petir." Jawab tetua Molege.


Di sisi lain, kini terdengar banyak suara bersorak merayakan kemenangan seseorang yang sedang bertanding saat ini.


Orang yang menenang-kan pertandingan kali ini adalah Natalia Taunaroso, dan kini semua orang memberi-kan sorak meriah saat ia berhasil mengalah-kan lawan-nya meski-pun butuh waktu yang sedikit lebih lama.


"Luar biasa!"


"Pertandingan yang sangat menarik!"


"Semangat terus!"


"Natalia! Ada sesuatu yang ingin ku sampai-kan pada-mu!" Ucap Axel sambil tersenyum manis menatap Natalia.


"Apa itu?" Tanya Natalia sambil menghilang-kan pedang dari tangan-nya.


Axel pun kini langsung berlutut di depan Natalia sambil memuncul-kan sebuah bunga mawar merah yang sedang mekar dengan sangat seger-nya.


"Maukah kau menjadi kekasih-ku?" Tanya Axel dengan tatapan penuh harap pada Natalia.


Seketika semua orang yang mendengar-kan dan melihat hal itu langsung berteriak dengan suara keras seolah memberi-kan sorak dan dorongan pada mereka berdua agar mereka bisa menjadi sepasang kekasih yang seutuh-nya.

__ADS_1


*******


Saat ini di kerajaan yang di pimpin oleh paman Madika yakni Kiono Rosompodapala tampak sudah beredar kabar tentang klan petir di kalangan para petinggi kerajaan, dan informasi itu juga telah sampai ke telinga sang raja yakni Kiono Rosompodapala.


"Bagaimana keadaan klan petir saat ini?" Tanya sang raja pada para petinggi yang saat ini duduk bersama-sama dengan-nya di satu meja panjang tempat mereka biasa melakukan pertemuan untuk membahas berbagai hal mengenai kepengurusan dalam kerajaan tersebut.


"Klan petir saat ini benar-benar sudah hancur total tuan! Berbagai aset milik mereka semua-nya sudah lenyap dan para ksatria Saga yang di klan itu juga tersisa kurang dari 20 orang, dan itu pun semua-nya dalam keadaan sekarat bahkan ada yang sudah cacat!" ucap salah satu petinggi memberi penjelasan.


"Begitu rupa-nya... Lalu bagaimana perkembangan pencarian tentang orang yang menyerang itu?" Tanya sang raja lagi.


Lalu petinggi yang lain-nya memberi-kan jawaban.


"perkembangan pencarian tentang orang itu masih terbilang samar karena perkembangan-nya hampir tidak ada sama sekali!" Ucap salah satu petinggi sambil menggeleng-kan kepala-nya.


Lalu petinggi lain-nya memberi sanggahan.


"Sejauh ini informasi yang terkumpul dari orang-orang yang ada di klan petir hanya-lah tentang ciri-ciri serta usia orang itu."


"Ku dengar Usia-nya masih belasan tahun! Bukan-kah itu terlalu luar biasa dan di lebih-lebihkan?"


"Tidak ada satu pun dari kita yang tahu kebenaran itu... Namun dari hasil pengamatan beberapa orang lain-nya, bocah itu memiliki nama yang familiar dengan orang yang kita cari-cari selama ini!"


"Kau benar! Aku juga sudah mengumpul-kan informasi dan mencari kebenaran dari nama-nama yang di sebut-kan orang-orang." Timpal salah satu petinggi yang duduk paling dekat dengan raja.


"Awal-nya orang-orang menyebut-kan bahwa bocah itu adalah Maduko. Ada pula yang menyebut-nya Meduka. Dan ada pula yang sebut Maduka. Namun yang paling benar dari semua itu adalah nama yang di sebut-kan oleh salah satu orang pernah bertemu dengan bocah itu sebelum-nya. Orang itu mengata-kan bahwa ia sudah pernah mendengar langsung nama Madika dari seorang gadis yang bernama Aurel, dia adalah salah satu pengikut Kindo yang telah di bunuh dalam penyerangan itu, dan nama yang benar itu adalah Madika Tumbawani!" Ucap si petinggi memberi penjelasan panjang lebar.

__ADS_1


Seketika mereka semua yang ada di tempat itu langsung terlihat terkejut dan pasang ekspresi serius dan suram mendengar nama Madika di sebut-kan.


__ADS_2