Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Adu Jurus Tingkat Dewa


__ADS_3

Saat ini Gupo dan Madika tampak bertarung dengan cukup sengit.


Keduanya memiliki kemampuan bergerak yang sangat cepat, apa lagi Madika yang saat ini sudah memunculkan sayap anginnya.


Selain pergerakan yang cepat, pola serangan yang di lakukan oleh keduanya pun juga cukup bervariasi.


Beberapa saat yang lalu mereka bertarung di jarak yang dekat dan kini saling menyerang dari jarak jauh menggunakan jurus masing-masing.


"Pilar tanah!!" Ucap Madika dengan suara yang tegas.


Seketika itu pula pilar tanah berujung runcing muncul dari bawah lantai dan langsung menjulang ke atas.


Pilar-pilar tanah itu bermunculan mulai dari depan Madika dan terus bergerak bermunculan ke arah Gupo.


Gupo pun tentunya tidak akan diam melihat jurus yang di gunakan oleh Madika tersebut.


Dengan segera Gupo mengangkat tangan kirinya di depan dada dengan posisi telapak tangan terbuka dan menghadap ke arah Madika.


Sesaat setelah itu kini terbentuklah lingkaran petir di depan telapak tangan Gupo.


"Laser petir!" Ucap Gupo dengan suara tegas.


Seketika itu juga, dari lingkaran petir tersebut kini muncul cahaya petir yang melesat memanjang ke arah Madika.


Serangan laser petir itu pun kini langsung menghantam pilar tanah milik Madika yang terus bermunculan ke arah Gupo.


Hal itu pun membuat serangan mereka berdua kini bertemu di tengah-tengah.


Ledakan energi yang cukup kuat kini terjadi saat kedua jurus itu saling bertemu di tengah-tengah.


Tampak Gupo terus mendorong lasernya untuk maju dan menghancurkan semua pilar tanah milik Madika.


Namun Madika juga tidak mau kalah, ia langsung memutar pedangnya dan dengan hentakan yang kuat ia menusukkan pedangnya ke lantai hingga pedangnya kini tertancap di lantai arena tersebut.

__ADS_1


Kini hentakkan pedang di tanah itu langsung menghasilkan gelombang energi yang kemudian membuat pilar-pilar tanah milik Madika itu terus bermunculan dengan sangat cepat dan bergerak melawan laser petir itu secara terus-menerus.


Ledakan terus terjadi kala kedua jurus itu saling berhantaman.


Namun sampai saat ini tampak tak ada perkembangan dari serangan mereka berdua seolah serangan mereka memiliki kekuatan yang seimbang.


Merasa adu jurus ini tidak akan pernah selesai, kini Madika pun langsung mencabut pedangnya dan segera melompat ke udara.


Berbekalkan sayapnya, kini Madika langsung melayang di udara.


Sementara itu jurus laser petir milik Gupo kini langsung menghancurkan dan menembus semua pilar tanah milik Madika karena kini serangan pilar tanah itu sudah tak di teruskan oleh Madika.


Di sisi lain, Madika yang saat ini sudah berada di udara kini langsung menyimpan kembali pusaka raja monster semut miliknya dan setelah itu dengan cepat Madika langsung memunculkan pedang ganda miliknya yakni pedang energi tingkat delapan.


Setelah kedua pedang itu muncul di tangan Madika, kini Madika pun mengangkat pedang itu dan menyatukannya di atas kepalanya.


Seketika itu juga pedang Madika langsung memancarkan cahaya putih kebiruan dan di atas kepala Madika muncul seekor kerbau angin raksasa yang merupakan perwujudan roh dari senjata energi milik Madika itu sendiri.


Sesudah itu, dengan segera Madika langsung menebaskan pedangnya ke arah Gupo dan di saat yang bersamaan kini kerbau angin raksasa itu langsung bergerak dan melesat ke arah Gupo.


"Langkah dewa angin!!" Ucap Gupo dengan suara yang terdengar tegas.


Mendengar ucapan Gupo itu, kini ketua sekte Balumba langsung berdiri dan memerintahkan para guru di sekte itu untuk membuat penghalang yang berlapis-lapis agar jurus yang di gunakan oleh Gupo itu tidak sampai menghancurkan semua yang ada di tempat itu.


"Cepat buat penghalang berlapis-lapis!!" Teriak ketua sekte yang saat ini berada di tempat yang jauh lebih tinggi dari posisi para guru berada.


Seketika itu juga, para guru pun langsung menciptakan sebuah penghalang berbentuk setengah lingkaran.


Mereka bahkan tidak hanya membuat satu penghalang saja, mereka kini membuat lima lapis penghalang berbentuk bola itu.


Sementara itu, Madika yang berada di dalam penghalang itu kini melihat Gupo yang kini sudah mengaktifkan jurusnya.


Tampak Gupo kini sudah melangkahkan kakinya satu langkah dan di saat yang bersamaan terjadilah ledakan energi di sertai ledakan angin yang kini menghentakkan udara di sekitarnya serta menghasilkan gelombang angin bertekanan tinggi yang tampak bergerak meluas dari pusatnya layaknya gelombang air yang terbentuk saat di lempari oleh sebuah batu.

__ADS_1


Gelombang angin itu kini melesat mendekati Madika.


Namun melihat hal itu, dengan segera Madika langsung menggunakan jurus yang sama dengan yang di gunakan oleh Gupo.


"Langkah dewa angin!" Ucap Madika dengan tegas sambil melangkahkan kakinya.


Mendengar ucapan Madika, seketika keempat tetua sekte dan si ketua sekte itu sendiri kini langsung berdiri lagi dari duduknya dan menatap Madika dengan tatapan tidak percaya.


"Ini berbahaya!" Ucap tetua Barugo dengan ekspresi yang tampak sedikit khawatir.


"Dua jurus tingkat dewa akan saling berhantaman!" Timpal tetua Lagonu.


Sementara itu, kini Madika yang sudah mengaktifkan jurusnya langsung melangkahkan kakinya dan di waktu yang bersamaan terjadilah ledakan energi serta hentakan di udara yang membawa gelombang angin yang sangat kuat.


Seketika itu juga, gelombang angin milik Madika dan Gupo pun saling berhantaman bagaikan gasing yang saling bertemu satu sama lain.


Alhasil ledakan angin pun terjadi lagi ketika gelombang angin merasa saling bertemu.


Tidak hanya itu saja, bahkan kini gelombang angin mereka berdua langsung berhamburan dengan tidak beraturan dan dalam waktu yang hanya sekejap saja lima penghalang berbentuk setengah bola itu pun langsung hancur berkeping-keping layaknya kaca yang di lempar batu.


Seketika itu juga, para guru yang bertugas membuat penghalang itu langsung terhempas serta mengalami luka dalam akibat efek pembalikan dari hancurnya jurus penghalang yang mereka gunakan itu.


Selain itu, kini gelombang angin yang saling bertabrakan dan bergerak tidak beraturan itu kini langsung bergerak meluas dan menghantam semua yang ada di tempat itu.


Banyak para siswa dan guru yang terhempas oleh gelombang angin tersebut karena mereka tidak menduga hal itu akan terjadi.


Mereka tak menyangka bahwa lima penghalang yang di buat bisa hancur semudah itu dan karena itulah mereka pun tak mempersiapkan diri untuk menahan serangan lepas itu.


Di sisi lain, beberapa guru lainnya tampak bisa bertahan dari gelombang itu.


Sementara di tempat para siswa akademi Walawatu tampak guru pemandu mereka berhasil membuat sebuah perisai setengah lingkaran untuk melindungi semua siswanya.


"Ayo bantu aku!" Ucap guru itu yang kini terlihat kesulitan karena tekanan angin di luar mereka saat ini sangatlah kuat.

__ADS_1


"Baik!" Jawab para murid dengan cepat.


Setelah itu seluruh siswa yang ada di dalam penghalang buatan guru pemandu itu pun langsung membantu si guru dengan membuat lapisan pada penghalang buatan guru itu.


__ADS_2