
Kini dua orang pemimpin keluarga Nemosu dan Nakawao bertemu di satu tempat dengan tujuan untuk mengecek pertarungan yang cukup besar yang terjadi di kota mereka, yakni kota Kayau.
Kedua orang itu masing-masing adalah orangtua Hongu dan orangtua Nia.
Ayah si Hongu ialah seorang pria yang bernama Karu Nemosu, sedangkan ayah Nia bernama Tago Nakawao.
Tago Nakawao saat ini di temani oleh pengawal pribadi-nya yang merupa-kan seorang sahabat-nya sendiri.
pengawal pribadi-nya itu bernama Lalisu.
Saat ini mereka semua kini berdiri di tanah yang sudah berubah bagaikan kawah besar akibat dari pertarungan Madika dan Riko.
namun, saat mereka tiba di tempat itu tampak tak ada satu pun orang di sana.
"apa yang sebenar-nya terjadi di sini?" ucap Karu dengan ekspresi bertanya-tanya.
"seperti-nya memang ada orang yang bertarung di tempat ini.... namun sekarang mereka sudah pergi tanpa meninggal-kan jejak sama sekali." jawab adik Karu.
Karu hanya mengangguk-kan kepala-nya.
"hari ini benar-benar penuh dengan masalah!... mulai dari kematian putra-ku, pencarian pelaku pembunuh putra-ku yang masih belum tertangkap, dan sekarang malah terjadi pertarungan besar di tempat ini." batin Karu dengan ekspresi kesal karena mengingat bahwa pembunuh putra-nya masih berkeliaran bebas di kota ini.
"orang itu harus segera di bunuh!" batin Karu yang tampak semakin kesal.
Sementara itu, ayah Nia yakni Tago kini hanya bisa melihat ekspresi kesal di wajah Karu sambil tersenyum tipis.
"hmpp!!.... dia pasti sedang kesal karena masalah putra-nya yang belum terselesai-kan dan kini malah muncul masalah lagi." ucap Tago dalam hati seolah diri-nya senang melihat hal itu.
Sementara itu, sahabat Tago yang menjadi pengawal itu tentu sepemikir dengan Tago.
namun kedua-nya sama-sama membatin dan tidak mengeluar-kan suara-nya saat berkata-kata.
__ADS_1
"hmmp.... sejujur-nya aku benar-benar bersyukur karena bocah bengis dari keluarga Nemosu itu sudah mendapat-kan hukuman setimpal untuk-nya.... ini adalah karma bagi mereka.... ku doa-kan bola perlu jangan hanya bocah itu saja, tapi seluruh keluarga mereka lebih baik lenyap dari kota ini." batin Lalisu sambil menertawai Karu dalam hati.
Tak lama setelah itu, kini Tago pun melihat sebuah kobaran api di tempat itu.
Lalu Tago pun langsung mendekati kobaran api itu dan ingin memasti-kan sesuatu karena kobaran api itu hanya ada di tempat itu saja.
Sementara itu, Lalisu yang melihat Togo pergi mendekati kobaran api itu kini langsung mengikuti Tago dari belakang.
Karu dan saudara-nya yang melihat Tago serta Lalisu pergi dari tempat mereka berdiri sebelum-nya kini langsung menoleh ke arah Tago.
Saat melihat ke arah Tago, kini mereka pun tahu tujuan Tago karena saat ini kobaran api itu juga sudah terlihat oleh mata mereka.
Akhir-nya Karu dan saudara-nya itu pun langsung penasaran. mereka kemudian saling menatap satu sama lain dan kemudian langsung mengangguk sekali seolah saling memberi kode.
Setelah itu mereka berdua pun langsung mendekati Tago dan Lalisu untuk melihat apa yang sedang di pasti-kan oleh Tago saat ini.
Saat Karu dan saudara-nya tiba di dekat Tago dan Lalisu, kini mereka melihat segumpalan daging yang sudah gosong terbakar.
Kemudian Tago pun mendekati daging itu dan langsung berlutut mengguna-kan satu kaki untuk mengamati daging itu dengan seksama dari jarak yang sedekat mungkin.
"seperti-nya daging yang terbakar ini adalah daging manusia." ucap Tago dengan ekspresi serius tanpa menoleh sedikit-pun.
Mendengar ucapan Tago, mereka semua pun sedikit terkejut.
namun rasa terkejut itu tidak berlangsung lama.
"seperti-nya dia orang yang kalah dalam pertarungan besar ini." ucap Karu yang langsung menyambung perkataan Tago.
Lalu Tago pun berdiri, namun ia tetap tidak menoleh dan tetap menatap ke arah daging yang masih terbakar itu.
Sementara itu, Karu dan saudara-nya pun kini terlihat sudah bosan berada di tempat itu.
__ADS_1
Karu pun segera berbalik badan.
"seperti-nya kejadian ini harus di usut tuntas!.... ayo pergi dari sini!" ucap Karu dengan santai-nya mengajak saudara-nya. "biar kita serah-kan saja masalah ini pada ksatria Saga yang bekerja di tempat kita.... kita tak perlu turun tangan labtuntuk hal yang seperti ini." ucap-nya kemudian langsung mengeluar-kan sebuah pedang.
lalu Karu pun melompat ke atas pedang itu dan tanpa menunggu respon dari saudara-nya kini ia langsung melesat ke udara dan pergi dari tempat itu.
Sementara itu, saudara-nya yang melihat kepergian Karu kini langsung melakukan hal yang sama.
mereka berdua pun kini meninggal-kan tempat itu tanpa bicara apa-apa lagi dengan Tago dan Lalisu.
Sementara itu, di tempat yang cukup jauh dari lokasi pertarungan Madika dan Riko sebelum-nya tampak liga sedang berdiri di sebuah atap gedung yang cukup tinggi.
ia sebelum-nya juga sudah memantau pertarungan Madika, namun karena ia tidak memantau dari awal, maka ia pun tak tahu kalau orang yang berjubah hitam yang sedang duduk di atas kepala naga kuno legendaris sebelum-nya adalah Madika.
Di samping Liga tampak bawahan setia-nya itu sedang berdiri sedikit ke belakang Liga.
mereka berdua melihat pertarungan itu dan tahu bahwa naga yang mereka lihat itu memang asli naga kuno legendaris.
Sementara itu, mereka berdua juga tahu kalau yang bertarung dengan pria berjubah hitam di atas kepala naga itu adalah Riko, seorang pengawal pribadi Hongu.
Hal itu pun membuat pikiran Liga saat ini harus bekerja keras untuk mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
Dalam hati Liga ia terus bertanya-tanya, sebenar-nya ada masalah apa kira-kira yang membuat Riko sampai bertarung dengan mahluk berbahaya itu, dan bagaimana mungkin ada seseorang yang menunduk-kan seekor naga kuno legendaris sehingga naga itu mau memperlakukan orang yang di atas kepal-nya itu dengan sangat baik bahkan langsung mematuhi semua yang di katakan-nya?
Meski-pun sudah berpikir keras, namun Liga tetap tak bisa menemu-kan bayangan yang menunjuk-kan kira-kira siapa pria yang telah menunduk-kan naga kuno legendaris itu mengingat hingga saat ini masih belum ada kabar seorang ksatria Saga yang berhasil mencapai tingkat legendaris.
karena berdasar-kan pengetahuan umum, hanya ksatria Saga tingkat legendaris-lah yang bisa menunduk-kan hewan kuno legendaris itu.
Berbagai pertanyaan timbul di kepala Liga saat ini.
"hah....." Liga menghela nafas seolah sedang lelah. "apa yang sebenar-nya terjadi dengan kota ini?" batin Liga sambil memejam-kan mata-nya serta menggeleng-kan kepala-nya pelan.
__ADS_1