
Saat ini Karu tampak sangat terkejut ketika Madika bisa menghindari tebasan pedang-nya padahal ia masih terus mengguna-kan aura Saga-nya untuk menekan Madika agar tak bisa bergerak.
"bagaimana bisa seperti ini?!" bentak Karu sambil menoleh ke arah Madika dengan cepat dan kasar.
Begitu Karu menoleh ke arah Madika, seketika ekspresi Karu tampak semakin terkejut saat melihat dan merasa-kan kekuatan Madika saat ini.
Karu kini melihat sosok Madika dengan tubuh yang terus memancar-kan energi Saga yang sangat besar dan kuat.
energi Saga Madika tampak terus merembes keluar seolah tak ada habis-habisnya.
bahkan hanya dengan melihat Saga Madika itu, kini Karu pun bisa merasa-kan aura Saga yang sangat besar dari Madika.
dan aura itu menunjuk-kan tingkat legendaris.
Karu pun kini hanya bisa menganga, ia tampak tak bisa berkata-kata lagi.
Seketika pedang-nya itu lepas dengan sendiri-nya dari tangan-nya dan dengan kaki yang gemetar Karu langsung mencoba berjalan mundur secara perlahan dan berusaha untuk menjaga jarak dari Madika.
"ba.... bagaimana bisa seperti ini?.... si.... siapa kau sebenar-nya?" ucap Karu bertanya dengan perasaan yang penuh akan ketakutan.
"kau tak perlu tahu siapa aku yang sebenar-nya, namun satu hal yang perlu kau tahu!.... siapa pun yang sudah melihat kekuatan tingkat legendaris ini, maka semua-nya ku pasti-kan akan mati!" ucap Madika dengan ekspresi dingin.
Mendengar ucapan Madika itu, kini Karu pun jadi semakin takut.
ia pun dengan putus asa langsung melancar-kan serangan mengguna-kan pusaka pedang petir-nya itu.
Dengan rasa takut dan putus asa, ia mengayun-kan pedang itu ke arah Madika.
seketika efek dari tebasan itu membentuk seekor ular naga yang tercipta dari elemen petir.
Naga petir itu pun langsung melesat dan mencoba menabrak tubuh Madika dengan sangat kuat.
namun dengan santai-nya Madika memegang dan menahan kepala naga petir itu.
Saat kepala naga itu menghantam telapak tangan Madika yang menahan-nya, seketika terjadi ledakan energi yang menghasil-kan gelombang energi yang cukup kuat di sekitar tangan Madika dan kepala si naga petir itu.
__ADS_1
"seperti-nya kau benar-benar tak bisa menyadari posisi-mu ya?" ucap Madika sambil memiring-kan kepala-nya dan menatap Karu dengan tatapan dingin namun memiliki kesan yang menakut-kan.
"bocah ini...." ucapan Karu terhenti.
~BRUUKK!~
Seketika Karu langsung tertunduk dan berlutut secara paksa akibat tekanan aura dari Madika.
Kaki Karu langsung menghantam tanah dengan sangat kuat hingga kaki-nya tertanam cukup dalam di pasir tersebut.
"ke.... kenapa aku harus bernasib seperti ini?!" batin Karu yang pikiran-nya kini di penuhi akan rasa takut.
"ku dengar sebelum-nya kau sudah banyak menyiksa orang-orang." ucap Madika yang kemudian mengibas-kan tangan kanan-nya ke samping, dan seketika muncul ratusan jarum angin yang panjang-nya mencapai 20 cm kini melayang di udara.
"kali ini aku akan membuat-mu merasa-kan seperti apa rasa-nya di siksa oleh orang lain."
Ketika Karu melihat jarum itu, kini Karu pun semakin ketakutan, ia pun langsung memohon ampun kepada Madika namun Madika sama sekali tak mau mendengarkan-nya.
"diam!!" bentak Madika sambil mengayun tangan-nya dengan tegas.
Seketika satu persatu jarum angin itu pun langsung melesat dan menusuk setiap bagian tubuh Karu yang bukan bagian vital sehingga bisa di pasti-kan Karu tidak akan langsung mati karena serangan itu.
"hentikan!!.... kumohon hentikan!!" ucap Karu memohon dalam sakit yang di alami-nya.
"diam!!" bentak Madika lagi.
"tolong bebaskan aku!.... aku berjanji akan melakukan apa pun untuk-mu.... bahkan jika kau ingin menjadikan ku sebagai bahan atau-pun peliharaan-mu aku akan menuruti-mu!" ucap Karu merengek pada Madika
Namun Madika hanya diam saja, dan ia terus melanjut-kan tusukan dari jarum angin-nya itu.
"AAARRRRGGGGHHH!!!"
Sekali lagi Karu berteriak, ia menjerit kesakitan, air mata serta air liur-nya mengalir secara bersamaan.
rasa sakit yang ia alami seolah membuat jantung-nya akan berhenti, namun nyata-nya jantung-nya tidak kunjung berhenti.
__ADS_1
"kumohon..... aku akan melakukan apa-pun yang kau ingin-kan!" ucap Karu yang tidak mau menyerah memohon pada Madika.
"kau yakin akan melakukan apapun yang ku ingin-kan?" tanya Madika tiba-tiba dan langsung pasang ekspresi menyelidik sambil menghenti-kan serangan jarum petir-nya.
"be-benar aku akan melakukan apa pun yang anda ingin-kan tu..... tu.... tuan." ucap Karu yang mencoba membuang harga diri-nya dan mulai memanggil Madika dengan sebutan 'tuan'
Saat ini Karu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, karena saat ini Madika berhenti menyerang-nya. hal itu pun membuat Karu berpikir bahwa Madika akan mendengar-kan diri-nya dan akan menghenti-kan siksaan ini.
Kini Madika pun terus menatap Karu dengan ekspresi menyelidik, ia seolah sedang memikir-kan sesuatu.
hal itu pun membuat Karu merasa ingin segera mengetahui apa yang di ingin-kan oleh Madika terhadap diri-nya.
"ka.... kalau boleh tahu, apa yang anda ingin-kan tuan?" tanya Karu dengan ekspresi ragu dan berusaha mengeluar-kan suara yang kini tersendat-sendat di leher-nya.
"ehmm.... bagaimana ya...." ucap Madika sambil mengelus-elus dagu-nya seperti sedang berpikir.
"begini, sebelum aku memberi keputusan, pertama-tama aku ingin memanggil peliharaan-ku dulu." ucap Madika yang kemudian langsung mengguna-kan jurus pemanggilan untuk memanggil Bunggu dari tempat persembunyian-nya.
Seketika sebuah lingkaran energi yang sangat besar muncul di belakang Madika, dan dari lingkaran energi itu tampak seekor naga kuno legendaris perlahan terbang keluar dari lingkaran energi itu.
Melihat naga kuno legendaris itu, kini Karu pun langsung tersentak dan diri-nya di penuhi rasa terkejut yang makin menjadi-jadi.
diri-nya kini yakin bahwa bocah di hadapan-nya saat ini bukan-lah bocah biasa.
"ada apa memanggil-ku tuan?" tanya Bunggu sambil terbang tepat di atas Madika dan menatap ke arah Madika.
"gunakan Domain milik-mu." ucap Madika dengan santai-nya.
"baiklah tuan." jawab Bunggu dengan patuh.
Setelah berkata seperti itu, kini domain Madika pun berubah menjadi domain NERAKA KEMATIAN milik Bunggu.
Setelah domain itu tercipa, kini Madika pun langsung melepas-kan aura-nya dari Karu, bahkan kini Madika pun langsung menyegel kembali aura milik-nya itu karena ia kini sudah mencapai batasan-nya, jika terus di lanjut-kan maka tubuh-nya sendiri yang akan mendapat-kan tekanan yang kuat dan itu bisa berakibat fatal bagi diri-nya sendiri.
Ketika Madika berhasil menyegel kembali kekuatan-nya, tiba-tiba Madika pun langsung terbatuk dan tampak dari mulut-nya keluar darah.
__ADS_1
"tuan, apa anda terluka?" tanya Bunggu yang langsung berubah wujud menjadi manusia dan dengan cepat menopang tubuh Madika yang saat ini kehilangan keseimbangan-nya untuk berdiri.
"tidak apa-apa, aku hanya terlalu berlebihan mengguna-kan kekuatan-ku." jawab Madika sambil mencoba menegak-kan tubuh-nya.