Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Penyelamatan


__ADS_3

Ketika melihat tangan Niverom yang menyerang Madika itu langsung terpotong dengan rapi, maka semua yang ada di tempat itu langsung terkejut dan menatap Madika dengan mata yang terbelalak serta mulut yang menganga.


"ap.... apa yang terjadi barusan?" tanya Poki yang tampak terkejut dan terheran-heran melihat tangan Niverom yang saat ini sudah putus begitu saja.


"entahlah..... aku juga tak tahu.... yang jelas-nya sebelum menyentuh tubuh bocah itu, tangan Niverom itu sudah terpotong dan jatuh ke tanah." jawab teman Poki tanpa menoleh.


"sial@n!!" teriak salah satu Niverom sambil melesat ke arah Madika dan langsung mengeluarkan pedang petir di tangan-nya.


setelah itu ia langsung memperkuat pedang petir-nya hingga mengeluarkan cahaya serta sambaran-sambaran kilat di sekitar pedang itu. lalu setelah itu ia langsung menebas-kan pedang-nya ke arah leher Madika dengan sekuat tenaga-nya.


namun sayang-nya sebelum mengenai leher Madika pedang itu sudah hancur berkeping-keping dan membuat Niverom itu terkejut.


hal itu pun membuat Niverom itu dengan refleks langsung mundur dan menjaga jarak dari Madika.


namun ketika Niverom itu mundur, tiba-tiba di belakang Niverom itu terjadi ledakan yang sangat kuat. ledakan itu berasal dari peluru angin yang di gunakan oleh Madika saat Niverom itu fokus memperkuat pedang-nya.


hal itu pun membuat Niverom itu terhempas dan terdorong ke arah Madika.


lalu dengan santai-nya Madika menusuk Niverom itu menggunakan tangan kanan-nya hingga tangan kanan-nya itu menembus perut Niverom itu.


hal itu pun membuat Niverom itu makin terkejut hingga ia muntah darah, dan dari perut-nya keluar banyak darah yang kini membasahi tanah tempat Madika berdiri.


Saat Niverom itu terluka parah, ia pun berusaha menggunakan teknik Nara-nya guna untuk melakukan serangan terakhir sebelum ia mati. namun betapa terkejut-nya ia ketika menyadari bahwa saat ini ia tak bisa lagi menggunakan Nara yang ada di tubuh-nya. ia merasa seolah energi Nara-nya saat ini sudah tak bisa di alirkan ke seluruh tubuh-nya.


"ba.... bagaimana bisa Nara-ku terhenti?!" batin Niverom itu dengan ekspresi wajah putus asa. "aku bahkan kini tak bisa menggerak-kan tangan maupun kaki-ku.... apa yang sebenar-nya terjadi?!" batin Niverom itu bertanya-tanya.


Madika yang melihat ekspresi Niverom itu kini langsung berseringai.


Niverom yang melihat seringai itu menjadi kesal dan langsung bertanya dengan siapa tenaga yang ia miliki.

__ADS_1


"apa yang sebenar-nya kau lakukan bocah?!" tanya Niverom itu dengan suara serak sambil batuk-batuk darah.


Mendengar pertanyaan itu, Madika langsung mengibaskan tangan kanan-nya itu dan melempar Niverom itu ke tanah.


"orang yang akan mati tidak perlu tahu." ucap Madika dengan nada dingin.


sesaat setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba perut Niverom yang berlubang tadi itu langsung meledak.


hal itu membuat banyak percikan darah yang terhempas di udara.


percikan darah itu kini bercampur dengan kepulan debu tanah yang di akibatkan oleh ledakan itu.


Melihat kejadian itu, salah satu Niverom yang saat ini masih baik-baik saja langsung melesat ke arah Niverom yang tangan-nya terpotong sebelum-nya.


setelah itu ia langsung menarik teman-nya yang terluka itu untuk menjauh dari Madika.


"aku merasakan aura yang sangat mengerikan dari bocah itu!" ucap Niverom itu pada teman-nya yang terluka.


"apa maksud-mu?" tanya Niverom yang sedang terluka itu.


"aku merasakan ada energi lain di sekitaran tubuh bocah itu.... energi itu bukan Saga ataupun Nara!..... aku curiga, apa mungkin itu adalah...." jawab Niverom itu menggantungkan ucapan-nya.


"apa jangan-jangan itu adalah Arta?!" ucap Niverom yang terluka itu dengan ekspresi terkejut sambil menoleh cepat ke arah Madika. "jangan bilang kalau dia itu adalah pewaris kekuatan raja Arga!" ucap-nya dengan ekspresi yang tampak sedikit gelisah.


"menurut-ku tidak begitu.... anak itu adalah pengguna Saga! namun entah kenapa ia di kelilingi oleh energi Arta." jelas teman Niverom yang terluka itu.


Tak lama setelah itu, Madika pun langsung mengangkat tangan kanan-nya ke atas dengan posisi telapak tangan terbuka, dan seketika muncul-lah peluru angin dengan jumlah yang banyak di atas Madika.


"apa yang bocah itu pikir-kan?.... apa dengan bola angin kecil itu ia pikir bisa menyerang para Niverom itu?.... apa ia bodoh?" ucap Poki dengan ekspresi bingung dan meremehkan teknik peluru angin Madika.

__ADS_1


"aku juga tak mengerti dengan teknik bocah itu.... tapi jika di pikir-pikir, rasa-nya bocah itu pasti punya sesuatu yang ia andalkan sehingga ia sangat percaya diri seperti itu." balas teman Poki.


Niverom yang melihat bola angin Madika kini langsung waspada.


hal itu di karenakan hanya mereka berdua yang menyadari bahwa saat ini ada energi lain yang melindungi Madika.


"jangan meremehkan sekecil apapun teknik bocah itu!" ucap teman Niverom yang tangan-nya terpotong itu dengan tegas.


Setelah itu Madika pun mengayunkan tangan-nya ke arah dua Niverom itu dan membuat seluruh peluru angin milik-nya langsung melesat dengan cepat ke arah dua Niverom itu.


melihat hal itu, kedua Niverom itu pun langsung menggunakan teknik perisai api untuk melindungi diri mereka dari serangan Madika. namun naas, peluru angin milik Madika kini menghantam perisai api itu dan seketika terjadi ledakan yang sangat kuat secara beruntun dan membuat perisai api mereka tak bisa bertahan lama sehingga perisai api itu langsung hancur berkeping-keping.


Hancur-nya perisai angin itu pun membuat kedua Niverom itu terkejut dengan ekspresi yang tampak putus asa dengan apa yang mereka hadapi saat ini.


kini peluru angin Madika langsung menghantam kepala salah satu Niverom hingga kepala Niverom itu meledak. begitu pula dengan satu Niverom yang satu-nya.


Melihat ledakan yang mengerikan itu, kini Poki langsung terperangah dengan ekspresi tidak percaya.


"bagaimana mungkin bola angin sekecil itu bisa menghasilkan ledakan yang sangat kuat?" ucap-nya dengan ekspresi tidak percaya.


Sementara itu, ledakan bertubi-tubi itu kini menarik perhatian para Niverom dan ksatria lain-nya yang bertarung di daerah yang berbeda.


"apa yang terjadi di sana?" batin ksatria lain-nya yang melihat kepulan asap yang sangat pekat dari area pertarungan ksatria tingkat tinggi itu.


Sementara itu, kini Poki dan teman-nya itu langsung menatap Madika dengan ekspresi kagum.


"maaf.... seperti-nya aku salah menilai-mu!" ucap Poki yang mendadak menunduk-kan kepala-nya saat Madika datang menghampiri-nya.


"itu tidak masalah bagi-ku." jawab Madika sambil tersenyum dengan ramah.

__ADS_1


Poki yang melihat senyum ramah Madika kini tampak makin kagum dengan Madika.


"meskipun dia kuat, tapi dia tidak sombong!.... benar-benar anak yang berwibawa!" batin Poki.


__ADS_2