
Saat ini Madika telah menghilang-kan rasa pesimis-nya. ia pun berpikir untuk tetap maju dan mencoba.
"daripada terlalu banyak mempertimbang-kan, lebih baik aku langsung mencoba saja.... lagi pula dengan ada-nya Bunggu, maka aku bisa mendapat-kan kesempatan untuk melarikan diri jika situasi-nya semakin gawat." batin Madika.
Setelah itu Madika pun langsung mengguna-kan jurus pemanggilan hewan peliharaan itu.
saat ini telapak tangan Madika tampak di penuhi oleh energi Saga yang berwarna biru. kemudian ia menggerak-kan kedua tangan-nya itu dengan beberapa variasi gerakan, hingga akhir-nya ia pun mengangkat tangan kanan-nya lurus ke atas dengan posisi telapak tangan dan jari-jari tangan-nya tampak seperti sedang mencengkram sesuatu.
seketika itu juga tampak di atas Madika terbentuk-lah sebuah lingkaran energi yang cukup besar.
tak lama setelah itu, dari dalam lingkaran energi itu perlahan keluar sosok seekor ular naga.
naga itu adalah Bunggu, yakni hewan peliharaan Madika.
kini naga itu langsung keluar dari lingkaran energi dan dengan cepat terbang kesana-kemari di atas Madika.
Madika yang melihat hal itu kini hanya diam dan terus menatap Bunggu yang sedang bergerak bebas di udara.
Tak lama setelah itu, Bunggu pun langsung melesat ke arah Madika.
saat berada dekat dengan tanah, Bunggu pun langsung mengubah bentuk tubuh-nya menjadi sosok manusia.
"aku sedikit terkejut ketika tiba-tiba berada di ruangan hampa, namun saat melihat sebuah lingkaran energi, aku pun langsung tahu kalau anda sedang memanggil-ku." ucap Bunggu sambil berlutut dan menunduk-kan kepala-nya di depan Madika. "setelah sekian lama tak pernah di panggil mengguna-kan jurus ini, aku jadi sedikit terkejut."
"ehmm.... tidak ku sangka Bunggu yang berada di tempat yang sangat jauh bisa di datang-kan semudah ini." batin Madika yang saat ini tampak sedikit takjub dengan jurus pemanggilan.
"berdiri-lah!.... aku punya tugas untuk-mu." ucap Madika.
"tugas?" tanya Bunggu memastikan.
"ya, dan tugas itu berhubungan dengan tempat ini." jawab Madika.
__ADS_1
Mendengar perkataan Madika, kini Bunggu perlahan berdiri sambil mengedar-kan pandangan-nya ke segala arah dan mengamati area sekitar-nya mengguna-kan mata-nya.
Bunggu tampak sedikit kebingungan dengan tempat tersebut. hal itu di karena-kan Bunggu baru pertama kali melihat tempat itu.
Saat ini Bunggu tampak sedikit terpesona dengan keindahan tempat itu. karena di tempat itu terdapat banyak tumbuhan yang memancar-kan berbagai cahaya.
meski-pun berada di bawah gunung, namun tempat itu masih di tumbuhi oleh tanaman-tanaman yang tahan terhadap hawa panas yang di pancarkan oleh lahar di tempat itu.
"tuan, tempat apa ini?" tanya Bunggu setelah mengamati wilayah sekitar tempat itu.
"ini adalah dunia bawah tanah, tempat ini sangat jauh dari permukaan tanah yang kita tempati." ucap Madika memberi jawaban.
"bagaimana anda bisa sampai datang ke tempat ini?" tanya Bunggu lagi.
"cerita-nya sangat panjang, ini semua berawal dari perburuan yang ku lakukan bersama teman-ku, namun karena ada satu hewan monster yang tak bisa kami atasi, akhir-nya kami pun jatuh ke tempat ini dan terjebak di sini kira-kira selama setahun." ucap Madika memberi jawaban.
"apa?!" ucap Bunggu dengan ekspresi terkejut. lanjut-nya. "terjebak? sudah selama itu?.... kenapa anda tidak segera memberitahu-ku agar aku bisa langsung membantu anda keluar dari tempat ini." ucap Bunggu yang terlihat khawatir pada keadaan Madika.
"misi?" tanya Bunggu memastikan.
Setelah Bunggu bertanya seperti itu, Madika pun akhir-nya langsung mencerita-kan semua kejadian yang ia alami, dan ia juga langsung mencerita-kan tentang tuan Mawata.
Setelah mencerita-kan semua-nya pada Bunggu, kini Bunggu pun langsung mengerti apa yang menjadi tujuan Madika.
"meski-pun beresiko, namun ini adalah kesempatan yang bagus agar anda bisa segera naik tingkat dengan cepat." ucap Bunggu setelah mendengar cerita dari Madika.
"ya itu memang benar, tapi aku tetap tidak ingin membuang nyawa-ku begitu saja, jadi, jika nanti-nya kura-kura raksasa itu ternyata lebih kuat dari kita, maka lebih baik kita kabur saja dan melarikan diri dari tempat ini." balas Madika.
"uhmm." gumam Bunggu sambil mengangguk sekali. "kalau begitu langsung saja kita datangi kura-kura raksasa itu." ucap Bunggu.
Setelah Bunggu berkata seperti itu, kini Madika pun langsung mengeluar-kan enam bola energi yang ia miliki, dan setelah itu ia langsung memberi-kan tiga bola energi pada Bunggu.
__ADS_1
"simpan ini, jangan sampai jatuh, selama bola energi ini ada di dekat-mu, maka kau bisa mengguna-kan energi Nosa." jelas Madika pada Bunggu.
Setelah itu Bunggu pun menerima bola energi itu dari Madika.
setelah itu ia menyimpan ketiga bola energi itu ke dalam ruang penyimpanan milik-nya.
"ayo kita berangkat sekarang!" ucap Madika mengajak Bunggu.
Setelah berkata seperti itu, Madika dan Bunggu pun langsung bergerak dengan cepat.
mereka berdua bergerak di sebuah terowongan jalan Madika masuk sebelum-nya.
terowongan itu kini sudah terbuka lebar sehingga mereka bisa lewat di tempat itu.
Saat ini Madika dan Bunggu telah keluar dari bawah gunung, dan kini mereka berdua langsung melompat dari satu pohon ke pohon lain-nya dengan cepat.
kedua-nya tampak sedang bergegas, hal itu terlihat dari pergerakan mereka yang sangat cepat.
"tuan, apa-kah teman-mu yang bernama Natalia itu akan baik-baik saja?.... apa anda tidak berniat singgah sebentar untuk memberitahu-kan hal ini pada-nya?" tanya Bunggu sambil menoleh ke arah Madika.
"tidak perlu, kita langsung saja ke tempat kura-kura raksasa itu, dan tentang Natalia, aku yakin dia pasti baik-baik saja meski-pun aku sudah pergi sangat lama dari-nya." jawab Madika menjelas-kan.
Mendengar jawaban dari Madika, kini Bunggu pun hanya diam dan patuh.
setelah itu kedua-nya pun kembali fokus untuk terus bergerak maju.
hingga akhir-nya mereka berdua pun keluar dari hutan dan kini berada di sebuah pantai.
lalu Madika dan Bunggu pun langsung mendarat ke pasir yang ada di pinggiran air laut itu.
"air yang ada di tempat ini sangat tenang." ucap Bunggu sambil mengedar-kan pandangan-nya dan melihat-lihat sekeliling-nya.
__ADS_1
"di sini memang jarang terjadi ombak karena tidak ada angin di tempat ini." ucap Madika menanggapi perkataan Bunggu.