
Lalu setelah itu ibu Natalia kembali duduk di kursi-nya.
ia kemudian mengusap pelipis kepala-nya karena merasa sakit dan pening.
ia kemudian menatap Natalia dengan tatapan tajam.
"perbaiki kesalahan-mu!! aku tidak mau tahu seperti apa pun cara-nya!! yang jelas kau harus mencari anak laki-laki itu dan mengalahkan-nya!" ucap ibu-nya dengan suara keras membentak Natalia.
Setelah ibu-nya selesai memarahi-nya, kini Natalia keluar dari ruangan pribadi ibu-nya.
tampak di depan pintu ia keluar dan menutup pintu ruangan itu perlahan.
Setelah itu, kini Natalia berjalan menjauh dari ruangan itu. kini diri-nya menuju ke ruangan ayah-nya karena sebelum-nya ia juga di panggil oleh ayah-nya.
Ketika Natalia tiba di depan pintu ruangan pribadi ayah-nya. kini Natalia langsung membuka pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan itu.
Baru saja Natalia tiba di dalam ruangan, tiba-tiba sebuah pedang melesat ke arah wajah Natalia.
Natalia terkejut dan dengan cepat menghindari pedang itu.
"Cepat ke sini!!" bentak ayah Madika dengan suara yang terdengar penuh emosi.
Natalia tersentak karena terkejut.
ia kemudian berjalan mendekati ayah-nya yang sedang duduk di kursi-nya dengan ekspresi yang penuh emosi dan kesal.
Ketika Natalia tiba di depan ayah-nya. seketika itu pula ayah-nya langsung memukul meja di depan-nya dengan kuat.
~BRUAAAKK!!!~
Meja yang di pukul oleh ayah Natalia langsung hancur berkeping-keping dan beterbangan di udara.
suara meja yang hancur itu membuat Natalia sekali lagi terkejut dan tersentak.
ia hanya bisa memejamkan mata-nya karena ketakutan.
__ADS_1
Setelah menghancurkan meja itu, kini ayah Natalia langsung berdiri secara perlahan.
seketika Natalia pun merasakan suasana horor yang menakutkan.
Tak butuh waktu lama, tiba-tiba sebuah cambuk petir melesat cepat dan menghantam bahu kiri Natalia.
"AAARRRGG!!"
Natalia berteriak kesakitan. cambuk petir itu membuat lengan baju-nya sobek serta kulit-nya tampak terluka.
tidak hanya itu, cambuk petir itu juga meninggalkan seberkas arus listrik yang menyetrum tubuh Natalia selama empat detik.
Tidak puas hanya dengan satu cambuk-kan, kini ayah Natalia melancarkan cambukan berikut-nya dan mengenai lengan kanan Natalia.
"AAARRRGG!!!"
Sekali lagi Natalia berteriak kesakitan. karena rasa sakit yang ia rasakan itu, Natalia pun dengan refleks menjatuhkan tubuh-nya dan duduk berjongkok sambil menutupi kepala-nya menggunakan kedua tangan-nya.
sementara itu ayah-nya yang melihat hal itu sama sekali tidak mempedulikan. ia justru terus mencambuki Natalia menggunakan cambuk petir milik-nya.
Sementara itu, Natalia kini terlihat terus melindungi kepala-nya. sementara di bagian punggung-nya terus di hantam oleh cambuk petir dan membuat baju-nya yang di bagian itu menjadi sobek-sobek.
Natalia kini hanya bisa berusaha menahan rasa sakit yang ia derita.
air mata-nya perlahan menetes dan membasahi wajah-nya, namun ia berusaha untuk tidak bersuara sambil menyembunyikan wajah-nya dari ayah-nya agar ayah-nya tidak melihat bahwa ia sedang menangis. karena berdasarkan pengalaman Natalia, saat diri-nya menangis, ayah-nya malah akan semakin keras terhadap-nya. hal itu pun membuat Natalia berusaha menahan suara-nya agar tak menunjuk-kan tangisan di depan ayah-nya.
Setelah beberapa saat kemudian, kini ayah Natalia berhenti mencambuki Natalia. namun tampak cambuk petir yang ia gunakan itu kini masih ada di tangan-nya.
dengan wajah sangar-nya kini ayah Natalia menyuruh Natalia untuk berdiri.
"cepat berdiri!" ucap-nya tegas.
Mendengar perintah ayah-nya, kini Natalia pun langsung berdiri secara perlahan.
wajah-nya masih lembab karena di basahi air mata. bahkan mata-nya saat ini tampak memerah. mau di sembunyikan bagaimana pun tetap saja ia akan ketahuan bahwa ia sedang menangis.
__ADS_1
Namun ayah Natalia yang melihat hal itu tampak tidak peduli.
lalu ayah Natalia membalik-kan tubuh-nya.
"ganti pakaian-mu dan segera temui aku di tempat latihan!.... kau harus berlatih lebih keras lagi agar bisa mengalahkan orang yang sudah mengalahkan-mu itu.... kau harus mengalahkan-nya untuk membersikan penghinaan ini dari keluarga kita!" ucap ayah-nya dengan tegas.
~FLASHBACK OFF~
"begitulah cerita-nya." ucap Natalia mengakhiri cerita-nya saat menghadap kedua orangtua-nya yang merupakan penguasa di kerajaan Taunaroso.
"hmm..... bgtu ya.... lalu kenapa saat upacara penyambutan siswa baru kau malah membeberkan kekalahan-mu melawan Madika? bukankah itu malah akan memperburuk situasi-mu?" tanya Mindo.
"saat itu aku sangat kesal! jadi-nya aku membeberkan semua-nya agar mereka makin malu dan kesal pada-ku!.... rasa-nya aku benar-benar seperti ingin menghilang dari dunia ini gara-gara mereka!" jelas Natalia dengan ekspresi yang tampak kesal. lanjut-nya, "selain itu, sebelum mengikuti upacara penyambutan siswa baru, aku masih saja mengalami neraka yang sangat berat!.... ayah-ku mengajari-ku teknik baru.... teknik itu adalah teknik yang mustahil untuk di kuasai oleh orang yang masih berada di tingkat atas dengan level yang ku miliki sekarang..... tapi ia memaksa-ku untuk tetap berlatih.... setiap kali aku melakukan kesalahan, aku langsung di cambuki menggunakan cambuk petir..... hal itu terus berulang-ulang terjadi selama lima hari. namun di hari ke lima aku pun berhasil menguasai teknik yang kata-nya mustahil itu, dan di saat bersamaan level Saga-ku pun ikut meningkat." jelas Natalia panjang lebar.
"itu benar-benar hari-hari yang mengerikan.... tidak ku sangka orang tua-mu sekeras itu dalam mendidik." ucap Mindo sambil memalingkan wajah-nya dengan ekspresi yang tampak bersimpati.
<----->
Saat ini, di bawah pohon tempat Nina beristirahat sebelum-nya kini terlihat Nina yang sedang duduk sambil bersandar di batang pohon.
tampak di pangkuan Nina saat ini Madika sedang tertidur sambil menyandarkan kepala-nya pada pangkuan itu.
Saat ini Madika sedang setengah telanjang. tampak baju Madika sedang di gantung di sebuah tempat gantungan yang di buat oleh Nina.
tubuh Madika yang terluka kini terlihat sudah di perban, tubuh-nya kini sudah bersih dari bercak-bercak darah.
Sesekali Nina mengusap kepala Madika, dan membelai rambut Madika dengan lembut.
Madika kini merasakan belaian tangan Nina.
perlahan Madika membuka mata-nya.
saat mata-nya terbuka, ia langsung melihat wajah Nina yang tersenyum manis menatap diri-nya.
namun pandangan Madika ke wajah Nina sedikit tertahan karena mata-nya yang dengan refleks melihat ke arah dua gunung kembar milik Nina yang terbungkus oleh baju.
__ADS_1
"hei.... kau melihat ke mana hah?" tanya Nina dengan ekspresi datar namun terkesan marah ketika menyadari pandangan Madika.