
Saat ini si Udin yang menghantam dinding koridor kini tampak jatuh ke lantai.
ia kemudian berusaha berdiri sambil menopang-kan tangan-nya ke dinding yang ada di sebelah-nya.
"uhuk-uhuk!"
Seketika si Udin pun langsung terbatuk-batuk dan tampak dari dalam mulut-nya keluar darah.
ia kemudian menggosok darah yang ada di bibir-nya mengguna-kan tangan kiri-nya.
"sial.... ternyata jurus tingkat dewa memang tidak bisa ku tangani!" ucap Udin dalam hati.
Setelah itu si Udin pun langsung melirik ke arah Madika yang saat ini berada di dalam ruangan itu.
Saat ini Madika tampak berjalan keluar dari ruangan itu sambil memancar-kan aura Saga milik-nya.
Aura membunuh yang di pancar-kan oleh Saga Madika itu kini membuat Udin sedikit merinding, dan saat Madika keluar dari ruangan itu serta berdiri di hadapan Udin, kini Kinto dan para bawahan-nya itu jadi sedikit takut dan tampak mereka mulai ragu jika harus berhadapan dengan Madika, apa lagi saat ini di antara semua orang yang masuk hanya tersisa Udin seorang yang masih bisa keluar.
hal itu pun membuat Kinto dan yang lain-nya berkesimpulan bahwa seluruh bawahan si Udin pasti sudah mati lebih dulu.
Saat Madika tiba di koridor itu, kini Madika pun langsung menoleh ke arah Kinto dan para bawahan-nya dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Seketika itu juga Kinto pun merasakan tekanan dari aura Saga milik Madika.
tekanan aura Saga itu memang tidak memberikan beban yang terlalu berat bagi-nya karena tingkatan-nya lebih tinggi dari Madika, namun karena aura Saga itu mengandung aura membunuh yang sangat mengerikan kini membuat tubuh Kinto jadi sedikit gemetar ketakutan.
Di sisi lain, para bawahan Kinto yang tingkatan-nya tidak jauh berbeda dengan Madika kini menerima tekanan yang lebih kuat, hal itu pun membuat mereka semua langsung tertunduk dan berlutut di atas lantai.
Madika yang melihat hal itu kini hanya diam sambil terus menatap mereka dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Tak lama setelah itu, si Udin yang saat ini mengalami luka dalam langsung melompat menjauh dari Madika.
ia kini tampak berusaha menjaga jarak dari Madika.
__ADS_1
"kalau tahu begini maka sebaik-nya aku langsung lawan saja kau dengan kekuatan penuh-ku sejak tadi!!" teriak Udin dengan ekspresi yang tampak emosi.
Memang benar, sejak tadi Udin tidak-lah mengguna-kan seluruh kekuatan-nya untuk melawan Madika.
hal itu di karena-kan keangkuhan dan arogansi-nya yang menganggap bahwa Madika tidak-lah layak untuk melihat kemampuan sejati milik-nya.
ia memandang rendah Madika, namun kini ia pun mengakui Madika karena saat ini diri-nya memang sudah terpojok-kan, terutama saat ini di depan para anggota klan petir.
hal itu tentu membuat ia merasa malu dan merasa seolah-olah hal yang telah menjadi kebanggaan-nya kini sudah di kotori oleh Madika.
"aku mengakui-mu bocah!!.... kali ini aku benar-benar akan melawan-mu dengan kekuatan penuh-ku!!.... bangga-lah akan hal itu!" ucap Udin dengan nada membentak.
Setelah itu si Udin pun langsung menghentak-kan tubuh-nya.
seketika itu juga tubuh Udin langsung memancar-kan cahaya biru yang cukup terang dan tubuh-nya kini terbungkus oleh aura berwarna biru tersebut.
Selain terbungkus oleh aura berwarna biru, tampak di sekitar aura biru yang mengelilingi tubuh Udin muncul percikan-percikan petir yang cukup besar dan bergerak mengelilingi tubuh si Udin.
Melihat hal itu kini Madika pun langsung bersiaga dan tampak waspada terhadap Udin yang saat ini.
hal itu di karena-kan saat ini Madika merasa-kan bahwa aura yang menyelimuti seluruh tubuh si Udin itu sangat-lah kuat.
"apa yang sebenar-nya dia lakukan barusan?" ucap Madika dalam hati.
Baru saja Madika berkata seperti itu kini si Udin pun langsung melesat ke arah Madika.
Kecepatan lesatan Udin kini sangat cepat, sampai-sampai lantai yang di pijaki-nya sebelum-nya kini langsung hancur, dan bersamaan dengan itu tampak si Udin tengah melesat cepat ke arah Madika hingga wujud tubuh-nya kini hanya terlihat seperti sebuah cahaya yang sedang bergerak cepat.
Kurang dari sedetik, kini si Udin langsung berdiri tepat di belakang Madika sambil mengambil ancang-ancang untuk melancar-kan serangan tinju ke arah Madika.
Madika yang sempat menyadari hal itu kini langsung menoleh ke belakang sambil mengangkat pedang besar milik-nya itu untuk memblokir tinju si Udin.
Kini si Udin pun melesat-kan tinju-nya ke wajah Madika, namun tampak saat ini Madika memblokir tinju si Udin mengguna-kan pedang besar sehingga kini tinju di udin menghantam pedang tersebut.
__ADS_1
Hantaman pedang dan tinju si Udin kini menghasil-kan ledakan energi yang cukup kuat.
tampak gelombang energi berwarna kebiru-biruan langsung membentuk gelombang angin yang bergerak meluas.
Sementara itu, pukulan si Udin itu ternyata sangat kuat sampai-sampai Madika tak dapat bertahan lama.
tinju itu kini membuat Madika terdorong sangat jauh ke belakang, namun ia masih bisa mempertahan-kan posisi berdiri-nya.
Tidak cukup sampai di situ saja, kini si Udin langsung melesat lagi ke arah Madika dengan sangat cepat, dan saat ia berada di belakang Madika, ia pun langsung menendang Madika.
Namun Madika masih bisa menghindari serangan-nya yang sangat cepat itu.
Kini si Udin pun langsung menyerang Madika di jarak yang dekat.
Udin memang tidak ahli dalam pertarungan jarak dekat, namun dengan mode yang ia gunakan sekarang ia sangat yakin bahwa diri-nya pasti bisa menang meski-pun diri-nya tak sepenuh-nya ahli dalam.pertarungan jarak dekat
Kini si Udin terus menyerang dengan kecepatan yang luar biasa.
serangan-nya hampir tidak terlihat oleh Madika.
namun karena Madika memiliki insting yang cukup tajam jadi Madika pun bisa menebak-nebak ke mana arah serangan si Udin selanjut-nya.
Udin kini bergerak dengan cepat mengelilingi Madika sambil melancar-kan serangan dari berbagai arah.
sementara Madika kini terlihat terus mencoba menghindari serangan si Udin.
"sejak tadi orang ini terus menyerang dengan cara maju mundur, apa ia takut jika aku bisa mengimbangi diri-nya jika ia maju tanpa mundur?" batin Madika.
Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba si Udin pun muncul dari belakang Madika, dan dengan cepat si Udin langsung melancar-kan tinju ke arah Madika.
Madika yang menyadari hal itu kini langsung menunduk untuk menghindari tinju si Udin.
sambil menunduk Madika tampak menebas-kan pedang-nya ke arah si Udin yang ada di belakang-nya.
__ADS_1