
Si raja kera kini mengata-kan bahwa Madika adalah orang yang tepat untuk mengendali-kan bayangan yang ia miliki.
ia menganggap Madika sebagai seorang yang mampu mewarisi kemampuan pengendali bayangan yang ia miliki, karena itu lah ia membawa jiwa Madika ke tempat ini dengan niatan untuk menguji apakah Madika benar-benar pantas mendapat-kan kekuatan itu atau tidak.
"sudah sangat lama aku tinggal di dalam pusaka ini.... sebelum aku benar-benar terbunuh, aku masih sempat menyimpan jiwa-ku ke dalam pusaka ini sambil menunggu orang berikut-nya yang bisa mewarisi kekuatan-ku saat ini." ucap si raja kera bayangan itu menjelas-kan.
"selama masa kejayaan kaisar Bugara, yakni kaisar yang telah membunuh-ku...."
Mendengar nama Bugara Madika langsung membelalak-kan mata-nya karena kini ia sudah tahu pasti bahwa memang benar bahwa murid-nya lah yang telah membunuh si raja kera bayangan itu karena Bugara adalah nama dari murid satu-satunya yang pernah Madika miliki.
"setelah Bugara membunuh-ku, aku selalu membenci diri-nya dan terus menolak keberadaan diri-nya, hal itu pun membuat ia tak bisa mengguna-kan kekuatan dari pusaka yang ku miliki ini.... hingga akhir-nya, kaisar Bugara pun mencoba memberi-kan pusaka ini pada beberapa petinggi-petinggi kekaisaran, ia bahkan sudah mencoba memberi-kan mahkota ini untuk di uji coba pada semua raja yang ada di kekaisaran, namun hasil-nya mereka semua bahkan tak bisa mengguna-kan kekuatan ini hingga lebih dari 50%.... mereka semua mentok di 50% tersebut.... hal itu di karena-kan mereka sama sekali tidak memiliki kecocokan yang baik untuk mengguna-kan pusaka milik-ku.... namun, setelah kau memakai pusaka itu, kau langsung menerima semua ingatan tentang jurus-jurus yang bisa di guna-kan dari pusaka itu, dan kau telah memiliki 95% kecocokan dengan pusaka itu.... dengan kecocokan 95% itu, maka kau sudah ku anggap sebagai orang yang tepat untuk menerima warisan dari-ku." ucap si raja kera itu memberi penjelasan panjang lebar.
Mendengar penjelasan panjang lebar dari si raja kera itu, kini Madika pun mulai memahami tujuan dari si raja kera itu.
ia kini mulai berpikir bahwa ada kemungkinan raja kera itu akan mewaris-kan kekuatan-nya pada Madika.
"baiklah, bocah, sekarang aku bertanya pada-mu.... apa kau tertarik untuk memiliki kekuatan pengendali bayangan yang seutuh-nya?" tanya si raja kera sambil menunjuk Madika lagi.
Madika kini mulai berpikir dan kemudian mencoba membalas ucapan si raja kera itu.
__ADS_1
"apa maksud mu dengan kekuatan pengendali bayangan seutuh-nya?..... apa maksud-mu tentang kekuatan asli-mu itu?" tanya Madika.
"tentu saja." jawab si raja kera.
"tapi ku rasa itu tidak akan bisa karena pada dasar-nya kekuatan Saga hanya bisa di guna-kan untuk mengendali-kan empat elemen saja, yakni petir, angin, api, dan es... untuk elemen lain-nya kebanyak-kan hanya bisa di guna-kan oleh hewan monster pengguna energi Nosa saja." ucap Madika memberi bantahan.
"hahahaha.... itu memang benar bocah, tapi aku ingin bertanya pada-mu.... apa kau pernah mendengar pernah mendengar penyatuan pusaka dengan tubuh seorang manusia?" tanya si raja kera tersebut sambil mendekati Madika dan langsung berdiri di depan Madika.
"ya aku tahu itu." ucap si raja kera itu.
"hahaha kalau begitu harus-nya kau tahu apa saja efek yang bisa di hasil-kan ketika pusaka tersebut menyatu dengan tubuh!" ucap si raja kera itu lagi.
Mendengar ucapan si raja kera barusan, kini Madika pun langsung membelalak-kan mata-nya karena ia kini menyadari apa yang di maksud oleh raja kera itu.
"bisa membuat seorang pemilik pusaka bisa mengguna-kan elemen yang ada dalam pusaka itu dengan bebas layak-nya pengendali yang asli. namun syarat-nya adalah kau harus menerima warisan dari si pemilik pusaka tersebut.... karena pada dasar-nya, pusaka itu sendiri merupakan sebagian dari jiwa si pemilik pusaka, jadi jika kau ingin memiliki kekuatan penuh dari pusaka itu, maka kau harus mendapat pengakuan dari jiwa pusaka itu serta mendapat-kan warisan dari-nya." ucap si raja kera memberi penjelasan.
"hmm.... begitu ya." ucap Madika sambil memegang dagu-nya seolah sedang berpikir.
Setelah itu Madika kembali menoleh ke arah raja kera itu.
__ADS_1
"apa kau benar-benar yakin akan memberi-ku warisan itu?" tanya Madika.
"sejujur-nya aku agak sedikit ragu, karena kecocokan-mu hanya 95% saja." ucap si raja kera dengan wajah datar.
"hoi... hoi... itu kan hanya kuran 5% saja.... benar-benar orang yang pelit." balas Madika sambil menatap malas si raja kera itu.
"tentu saja harus di perhitung-kan, 5% itu juga sudah terbilang berharga.... aku tidak ingin menyesal memberi-kan warisan pada orang lain yang kurang 5% seperti-mu jadi karena itu-lah aku sudah menyiap-kan ujian untuk-mu!.... jika kau bisa lolos, maka aku akan memberi-kan warisan itu pada-mu!" ucap si raja kera itu yang kembali menunjuk-nunjuk wajah Madika.
Madika pun kini hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan si raja kera itu.
"hah.... baik-lah.... aku akan mengikuti semua ujian yang kau siap-kan itu, jadi apa yang harus ku lakukan terlebih dahulu?" tanya Madika.
Mendengar pertanyaan itu, kini si raja kera pun langsung tersenyum tipis.
"baik-lah, ujian pertama adalah, kau harus menunduk-kan 500 prajurit kera yang ku miliki, jika kau bisa menunduk-kan mereka, maka kau akan mendapat-kan pasukan kera dalam jumlah kelipatan-nya, yakni 1000 pasukan kera!" ucap si raja kera tersebut.
Lalu tanpa basa basi si raja kera itu pun langsung memuncul-kan 500 pasukan kera milik-nya.
500 pasukan kera itu adalah 50% dari kekuatan yang ada di dalam pusaka yang bisa di kendali-kan oleh orang-orang sebelum-nya, sementara 500-nya lagi hanya bisa di dapat-kan jika sudah menerima warisan dari si raja kera tersebut.
__ADS_1
Madika yang melihat 500 pasukan kera itu kini langsung menganga karena ia tidak menyangka akan di perintah-kan untuk melawan 500 pasukan kera yang memiliki kemampuan yang setara dengan tingkat master level pertengahan dan level puncak.
"sialan!... apa raja kera ini berniat membunuh-ku?!.... mana tongkat kaisar rotan api yang jadi andalan-ku kini sudah tak ada!.... lantas apa yang harus ku lakukan sekarang?!.... sial!" ucap Madika dalam hati.