
Ketika Madika sudah menebak teknik itu, kini Madika bersiap untuk melakukan pertarungan jarak dekat dengan Tepaonjo.
Madika segera pasang kuda-kuda bertarung.
Tepaonjo kini berada di atas Madika dan langsung melancarkan tinju-nya.
namun dengan cepat Madika menepis tinju itu ke samping menggunakan teknik yang masih serupa dengan tinju angin.
alhasil sebuah tekanan angin yang sangat kuat terlepas dari tinju tangan kanan Tepaonjo dan berhembus kencang menghantam semak-semak yang ada di sebelah-nya dan membuat banyak daun-daun semak itu berhamburan mengikuti arah tekanan angin dari tinju itu.
Sedetik kemudian kini Tepaonjo sudah mendarat ke tanah. ia dengan segera melancarkan pukulan lagi menggunakan tangan kiri-nya.
Madika memutar tubuh-nya sambil menepis tinju itu, dan di saat yang bersamaan Madika melancarkan tinju yang sama menggunakan tangan yang satu-nya.
Tinju yang berhasil di tepis Madika sekali lagi menciptakan tekanan angin yang kuat, dan kini tinju yang di arahkan Madika ke Tepaonjo juga merupakan teknik yang sama.
Tepaonjo melihat tinju Madika dan dengan cepat menepis-nya sambil mendorong badan-nya sedikit ke samping sehingga tekanan angin dari tinju Madika tidak mengenai diri-nya.
di saat yang hampir bersamaan itu Tepaonjo dengan cepat memutar tubuh-nya dan melancarkan serangan menggunakan siku tangan-nya.
Madika bisa memperkirakan serangan itu dan dengan cepat Madika menahan serangan itu menggunakan telapak tangan-nya.
saat siku dan telapak tangan itu berhantaman, tekanan angin yang di hasilkan oleh teknik mereka pun juga ikut berhantaman dan membuat angin-nya menyebar kemana-mana.
Di sisi lain, saat ini tampak Lili dan Langu sedang berada di atas pohon dan melihat pertarungan Madika dan Tepaonjo dengan serius.
mereka berdua terlihat kagum saat melihat pertarungan jarak dekat yang mereka lakukan.
pertarungan mereka sangat sengit.
angin terus berhembus dan memberi hentakan yang sangat kuat saat tinju mereka saling bertemu dan berhantaman.
saking kuat-nya, sesekali hentakan itu membuat rambut Lili beterbangan seperti orang yang sedang menaiki kendaraan yang melaju cepat.
banyak dauh pohon yang beterbangan dan rontok. apalagi yang berada dekat dengan pertarungan mereka berdua.
__ADS_1
"Mereka itu benar-benar bukan siswa biasa seperti kita.... mereka jauh lebih kuat dari yang kubayangkan." ucap Lili menatap kagum pertarungan yang sengit itu.
"kau benar!.... bahkan aku yang memiliki teknik khusus ini saja merasa iri dengan kemampuan bertarung mereka yang jauh melebihi kemampuan-ku!" ucap Langu membenarkan.
lalu Langu menatap Madika dengan ekspresi serius.
"tapi jujur saja, menurut-ku yang saat ini benar-benar kuat adalah Madika! dia sudah terluka separah itu tapi masih bisa mengimbangi Tepaonjo yang sudah lama di akui oleh orang-orang..... kira-kira bagaimana jadi-nya jika mereka berduel di saat Madika masih berada dalam kondisi yang baik-baik saja?" ucap Langu.
"kau benar.... aku juga tidak tahu akan bagaimana jadi-nya!" balas Lili.
Saat ini, Lili dan Langu tidak maju dan membantu Tepaonjo karena Tepaonjo sudah memberitahukan bahwa ia ingin melawan Madika seorang diri sekaligus mengetes kira-kira sejauh mana kemampuan Madika saat ini.
namun, meskipun Tepaonjo tidak melarang mereka untuk membantu, tetap saja hasil-nya mereka tidak akan sempat ikut campur karena pertarungan jarak dekat antara Tepaonjo dan Madika sulit untuk di ikuti oleh Lili maupun Lingu karena kedua-nya bergerak sangat cepat.
"untuk sekarang kita pantau saja pertarungan mereka." ujar Langu.
Di sisi lain, saat ini Madika merasa diri-nya mulai terpojok-kan, hal itu di karenakan rasa sakit yang di derita-nya semakin menyiksa saja.
setiap kali ia menepis serangan dari Tepaonjo menggunakan tangan-nya, di saat itu pula darah mengalir dengan cepat keluar dari luka bekas tusukan pedang es milik langu.
"aku benar-benar tidak di untungkan saat ini!" batin Madika sambil melompat ke belakang untuk menghindari tinju tangan kanan Tepaonjo.
"tidak akan ku biarkan dia menjaga jarak dari-ku!" batin Tepaonjo.
Kini Tepaonjo berada di atas Madika. ia dengan cepat mengayun kaki-nya dan menendang kepala Madika.
Madika menghindari tendangan kaki kanan dari Tepaonjo dengan cara menunduk.
namun tak di sangka-sangka Tepaonjo kini memutar tubuh-nya di udara dan langsung melesatkan tendangan menggunakan kaki kiri-nya.
tendangan itu tepat ke arah wajah Madika.
Madika yang sempat melihat hal itu dengan segera menahan tendangan itu dengan cara menyilang-kan kedua tangan-nya di depan wajah-nya.
Tendangan Tepaonjo kini berhantaman dengan tangan Madika dan menghasilkan hentakan angin yang sangat kuat dari hantaman tendangan dan pertahanan Madika.
__ADS_1
sekali lagi rambut Lili di tersibak oleh hentakan angin itu.
Meskipun Madika berhasil memblokir tendangan itu, namun Madika tetap terdorong ke belakang.
kaki-nya saling bergesekan dengan tanah sehingga kini terlihat kepulan abu yang tampak seperti asap memenuhi jalur yang di lalui Madika saat terdorong oleh tendangan Tepaonjo.
"tchi!.... serangan-nya makin kuat saja!" batin Madika yang kini terlihat kesal dengan keadaan.
Kini Tepaonjo sudah mendaratkan kaki-nya di atas tanah. ia tampak sedikit kesal.
hal itu di karenakan Madika yang masih bisa berdiri tegar meskipun diri-nya sudah melancarkan tendangan terkuat-nya.
"yang benar saja!.... dengan luka separah itu dia masih saja bisa menahan serangan-ku?!..... apa dia itu benar-benar manusia?" batin Tepaonjo yang merasa resah dengan pertarungan sengit mereka. "kalau begini sebaik-nya aku lanjut-kan rencana berikut-nya!"
Lalu Tepaonjo pun kini dengan cepat melompat ke arah Madika.
saat masih di udara, Tepaonjo langsung menebas udara kosong dan seketika muncul lengkungan angin yang melesat cepat ke arah Madika. ia kemudian melakukan hal itu secara bertubi-tubi dan membuat lengkungan angin yang benyak menyerang Madika.
Madika yang melihat lengkungan angin itu kini dengan cepat langsung menghindari lengkungan angin itu satu-persatu.
"setelah tak bisa menang di jarak dekat, kini dia mulai menjaga jarak!" batin Madika sambil menghindari serangan itu.
"SEKARANG!!" teriak Tepaonjo memberi kode kepada Lingu dan Lili.
Tak butuh waktu lama, kini Lingu langsung melancarkan serangan es ke arah Madika. serangan itu berupa pedang es yang bisa di kendalikan dengan bebas oleh Lingu.
Kini jumlah pedang itu masih sama, yakni tiga pedang.
pedang itu bergerak cepat saat Madika sedang melompat ke udara untuk menghindari lengkungan angin dari Tepaonjo.
Bukan hanya pedang es saja yang mengincar Madika, ternyata ada beberapa bola api juga sedang melesat ke arah Madika.
Madika membelalak-kan mata-nya karena terkejut.
diri-nya yang terlalu fokus pada Tepaonjo kini lengah dan tidak terlalu memperhatikan pergerakan dari Lili dan Langu.
__ADS_1
Melihat serangan yang mustahil untuk ia hindari saat berada di udara saat itu, kini Madika pun merasa putus asa dan pasrah.
ia menutup kedua mata-nya dan bersiap untuk mati.