Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Kota Kayau


__ADS_3

Saat ini malam sudah larut, dan di dalam tenda milik Madika kini terlihat ada dua ranjang yang di letak-kan di tempat yang sedikit berjauhan.


Di atas ranjang yang satu tampak Madika yang sedang tertidur pulas. sementara di ranjang yang satu-nya tampak Emi yang juga sedang tidur, namun ia tidak sepenuh-nya tertidur. diri-nya masih terjaga, dan tampak saat ini ia tidur sambil memiringkan tubuh-nya serta membelakangi Madika.


Entah kenapa Emi tampak tidak begitu nyaman tidur.


ia masih merasa sedikit was-was terhadap Madika.


Ia kemudian membuka mata-nya, namun ia tetap tidak berbalik ke arah Madika yang berada di ranjang sebelah.


"tidak ku sangka dia bisa sempat-sempatnya membawa tenda sebesar ini serta dua ranjang di dalam ruang penyimpanan-nya.... apa ruang penyimpanan orang ini benar-benar sangat besar?" batin Emi bertanya-tanya saat memikir-kan tentang tenda dan ranjang itu.


Tak lama setelah itu, Emi pun penasaran, kira-kira Madika saat ini benar-benar sudah tertidur atau belum.


lalu ia pun berpura-pura tetap tidur sambil memutar tubuh-nya dan menghadap ke arah Madika.


Setelah itu Emi pun perlahan membuka kelompok mata-nya untuk memasti-kan keadaan Madika sekarang.


Saat Emi membuka mata-nya, ia melihat Madika saat ini benar-benar tertidur pulas.


"seperti-nya dia benar-benar tertidur pulas." batin Emi. Lanjut-nya, "apa jangan-jangan hanya aku saja yang terlalu berlebihan mewaspadai pria ini?"


Setelah berpikir seperti itu, Emi pun mulai mencoba untuk berpikir positif agar diri-nya bisa tidur nyenyak malam ini.


Namun, baru saja menutup mata-nya, tiba-tiba ia malah teringat akan kematian teman-temannya.


Seketika mata Emi langsung terbuka.


ia benar-benar masih kepikiran tentang kejadian yang menimpa-nya hari ini.


meski-pun teman-teman sekelompok dengan-nya itu bukan-lah teman dekat-nya, namun kejadian itu berhasil membuat Emi terus kepikiran.


>SKIP<


Keesokan pagi-nya, Madika tampak bangun dengan ekspresi wajah yang segar bugar.


sementara Emi malah terlihat seperti orang yang sedang kurang sehat.


dari mata-nya saja bisa terlihat bahwa diri-nya semalam tidak tidur dengan baik.

__ADS_1


Madika yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng-kan kepala-nya sambil tersenyum tipis.


"untuk sekarang sebaik-nya kita sarapan dulu sebelum melakukan perjalanan." ucap Madika sambil mengeluar-kan beberapa peralatan memasak dari ruang penyimpanan-nya.


Emi yang baru keluar dari tenda kini merasa sedikit terkejut melihat berbagai peralatan memasak kini tersusun rapi di depan Madika yang sedang berdiri di dekat pohon.


"hah..... seperti-nya orang ini benar-benar bisa menampung apa saja di dalam ruang penyimpanan-nya." batin Emi dengan ekspresi yang terlihat aneh.


Kemudian Emi pun langsung berjalan mendekati Madika.


Lalu Madika mengeluar-kan beberapa daging serta sayuran yang terlihat masih segar dari dalam ruang penyimpanan-nya.


setelah itu ia pun langsung mulai memasak, dan Emi yang melihat Madika memasak tentu langsung menawar-kan diri untuk memasak.


Kini Madika dan Emi pun memasak bersama.


setelah masakan mereka sudah matang, kini mereka pun langsung sarapan.


Setelah mereka selesai sarapan, kini mereka berdua pun langsung bersiap untuk melakukan perjalanan menuju ke sebuah kota kecil yang berada cukup jauh di ujung hutan ini.


kota itu bernama kota Kayau.


Setelah cukup lama Emi dan Madika berjalan, kini mereka berdua pun tiba di sebuah gerbang masuk menuju ke kota Kayau tersebut.


Setelah Madika dan Emi berurusan dengan penjaga gerbang mengenai pajak keluar masuk kota, kini Madika dan Emi pun langsung masuk ke tempat tersebut.


Setelah masuk ke kota kecil itu, Madika melihat bahwa kita kecil itu cukup ramai.


terlebih lagi saat diri-nya memasuki wilayah pusat perbelanjaan.


di sana Madika bisa melihat bahwa kota itu cukup teratur dengan baik dan masyarakat-nya juga terlihat cukup ramah.


Setelah kedua-nya cukup lama berjalan, kini mereka tiba di sebuah asosiasi ksatria Saga. yakni tempat Emi menerima sebuah pesanan dari klien mereka.


"seperti-nya kita berpisah di sini." ucap Emi sambil tersenyum tipis.


"ehm...." gumam Madika sambil mengangguk sekali dan kemudian langsung menengok ke berbagai arah seolah sedang mencari-cari sesuatu.


Sementara itu, Emi saat ini tampak masih berdiri di depan Madika.

__ADS_1


ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu pada Madika namun diri-nya masih sedikit ragu.


"Madika! aku minta maaf." ucap Emi sambil menunduk-kan kepala-nya di depan Madika.


Madika langsung menoleh ke arah Emi yang masih menunduk-kan kepala-nya.


"kau minta maaf untuk apa?" tanya Madika dengan ekspresi datar.


"aku minta maaf karena sudah mencurigai-mu yang tidak-tidak, bahkan sampai pagi tadi aku masih terus mencurigai-mu, tapi sekarang aku berpikir seperti-nya kau bukan orang jahat." ucap Emi yang masih menunduk-kan kepala-nya.


Madika hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Emi barusan.


lalu Madika pun mengangkat tangan kanan-nya dan meletakan tangan kanan-nya ke kepala Emi.


"tidak usah terlalu di pikir-kan." ucap Madika sambil tersenyum ramah serta mengelus kepala Emi hingga rambut-nya jadi sedikit berantakan.


Emi pun langsung mengangkat kepala-nya perlahan dan menatap Madika.


"wajar saja jika kau berpikir seperti itu, justru jika seandai-nya aku punya seorang gadis yang sangat berhati-hati terhadap orang lain maka sudah pasti aku akan bangga memiliki gadis seperti itu." ucap Madika ceplas-ceplos sambil tersenyum manis pada Emi.


Seketika wajah Emi langsung berubah memerah saat mendengar ucapan Madika itu.


ia merasa bahwa ucapan Madika itu menunjuk-kan bahwa seolah-olah diri-nya adalah tipe gadis idaman Madika.


Hal itu membuat Emi sedikit tersipu saat mendengar-nya.


namun Emi tidak mau Madika melihat ekspresi tersipu malu-nya itu, sehingga dengan segera Emi pun memaling-kan wajah-nya dan langsung memutar tubuh-nya membelakangi Madika.


"a.... aku mau melapor dulu." ucap Emi tergagap-gagap.


"ya.... sampai jumpa Emi." ucap Madika sambil tersenyum ramah pada Emi.


Setelah mendengar ucapan Madika itu, kini Emi pun langsung melangkah ke depan.


Baru beberapa langkah Emi berjalan, tiba-tiba Emi langsung berbalik karena diri-nya ingin mengatakan sesuatu pada Madika.


Namun saat diri-nya berbalik, ia sudah tidak melihat keberadaan Madika di tempat ia berdiri sebelum-nya.


"dia cepat sekali pergi-nya." ucap Emi dalam hati saat diri-nya hanya melihat sekumpulan orang yang berlalu lalang di tempat itu.

__ADS_1


"hah...." Emi menghela nafas dengan ekspresi yang terlihat sedikit menyimpan rasa sesal.


"kenapa sih aku tiba-tiba merasa ingin bertemu lagi dengan-nya?" batin Emi bertanya-tanya.


__ADS_2