
Di sisi lain, saat ini tampak beberapa budak bayangan lain-nya yang berada di tingkat Epic atau setara dengan tingkat Sasio kini membantu budak bayangan tingkat Sasio untuk melawan para Niverom musuh tingkat Sasio.
Lingka saat ini tampak memuncul-kan seekor kobra halilintar.
monster dengan wujud ular kobra berukuran raksasa itu langsung melesat menghampiri salah satu Niverom tingkat Sasio yang sedang berusaha menahan serangan dari Niverom yang sudah menjadi budak bayangan milik Madika.
DUAAARRRR!!
Monster kobra itu pun menghantam tubuh si Niverom hingga Niverom itu terhempas cukup jauh.
Tidak cukup sampai di situ saja, kini Lingka pun langsung mengayun-kan tangan-nya ke arah Niverom yang terhempas itu dan di saat itu juga Niverom tersebut langsung di incar lagi oleh monster kobra itu.
Monster kobra itu pun langsung melilit Niverom tersebut lalu dengan segera monster kobra itu menyembur-kan petir yang sangat kuat dari mulut-nya.
Tampak kini dari mulut si kobra petir itu menyambar petir yang sangat kuat dan hal itu membuat si Niverom tak bisa memberi perlawanan hingga akhir-nya Niverom itu pun tewas begitu saja.
Di sisi lain, tampak Akina dan Rionda juga membantu sesama budak Bayangan yang berada di tingkat yang setara dengan mereka karena lawan mereka saat ini berada di tingkatan yang sama dengan mereka yakni tingkat Epic dan Sasio.
Meski-pun pertarungan mereka di awal cukup sengit, namun bisa terlihat kini Akina dan Rionda serta dua budak bayangan bernama Sero dan Pamanggi kini berhasil membuat dua Niverom tumbang dengan cara menyerang secara bertubi-tubi.
Tampak Akina menghajar satu Niverom dengan tinju dan tendangan petir milik-nya, dan setelah itu ia memutar tubuh-nya dan kemudian menendang Niverom itu dengan sangat kuat dan membuat Niverom itu terhempas dengan keadaan mulut yang penuh darah dan tampak mulai memuntah-kan darah.
Baru saja Niverom itu hendak melakukan serangan balik dengan cara membentuk sebuah jurus melalui pergerakan tangan-nya, namun sayang-nya gerakan itu terhenti karena kini Sero langsung melancar-kan satu pukulan yang di sebut pukulan ular api karena saat ini di kepalan tangan kanan dan kiri si Sero tampak sebuah kobaran api membentuk kepala ular.
Pukulan itu pun di hantam-kan ke tubuh si Niverom secara bertubi-tubi dan terus membuat si Niverom terdorong lebih tinggi lagi ke udara.
Dan setelah berada di ketinggian tertentu, Sero pun segera melesat ke atas Niverom itu dan sambil memutar tubuh-nya kini Sero langsung melakukan tendangan yang sangat keras ke arah bawah untuk menjatuh-kan Niverom itu ke tanah.
DUAAARRRR!!
Seketika tendangan itu menghasil-kan ledakan api saat menghantam tubuh Niverom tersebut karena saat menendang tampak kaki Sero di penuhi oleh kobaran api yang menyala-nyala.
Kini Niverom yang di tendang itu pun langsung jatuh dengan sangat cepat dan menghantam tanah hingga tanah tersebut jadi ikutan hancur saat tubuh Niverom itu menghantam tanah tersebut.
Hal itu pun kini berhasil membuat Niverom itu tewas seketika.
Sementara itu, saat ini Pamanggi dan Rionda tampak sedang menyerang Niverom yang ada di depan mereka secara bergantian.
Dengan mengandal-kan tebasan petir dan tebasan api di sertai beberapa kombinasi gerakan dan lesatan yang cepat kini mereka berdua pun berhasil membuat lawan mereka jadi kerepotan dan akhir-nya jadi salah mengambil langkah.
__ADS_1
Sementara itu, Rionda dan Pamanggi yang melihat cela dari pergerakan si Niverom itu pun kini langsung memanfaat-kan cela itu untuk menghabisi si Niverom tersebut.
Rionda kini menebas-kan pedang-nya dan seketika itu juga muncul-lah seekor lipan petir yang sangat besar dan lipan petir itu pun langsung bergerak cepat ke arah Niverom itu.
Si Niverom berusaha menghindar dan ia berhasil menghindari-nya, namun di sisi lain ia yang sudah lengah itu ternyata tidak menyadari bahwa serangan lipan itu hanya-lah sebuah pengalihan saja karena serangan yang asli adalah serangan yang di lesat-kan oleh Pamanggi dari belakang.
Baru saja si Niverom berhasil menghindar tiba-tiba dada-nya langsung di tembus oleh sebuah pedang api yang cukup besar.
"Uhuk!!"
Niverom itu pun terbatuk dan mengeluar-kan darah dari dalam mulut-nya.
Baru saja memuntah-kan sedikit darah, tiba-tiba tubuh-nya tertusuk lagi oleh lima pedang api yang datang dan menyerang-nya dengan tempo yang hampir bersamaan.
"Hoeeekkk!!"
Kini Niverom itu pun langsung mengeluar-kan lebih banyak darah lagi dari mulut-nya.
Tampak enam pedang api yang cukup besar itu menancap dan menembus tubuh-nya dan hal itu membuat diri-nya susah pasti tak akan ada harapan lagi untuk bisa hidup.
Akhir-nya Niverom itu pun kini langsung jatuh dan pedang yang ia guna-kan untuk terbang di udara kini langsung menghilang begitu saja.
Di sisi lain, pertarungan para Niverom lain-nya dengan para pasukan kera bayangan dan pasukan monster semut milik Madika kini juga sudah menunjuk-kan perkembangan.
Tak butuh waktu yang terlalu lama, kini para pasukan milik Madika telah berhasil memenang-kan pertarungan itu dan semua Niverom yang ada sudah berhasil di takluk-kan.
Saat pertarungan itu susah selesai, kini Madika pun langsung terbang ke langit hingga ketinggian yang cukup tinggi menurut-nya.
Ia kemudian melambai-kan tangan-nya ke samping dan di saat itu juga kini seluruh pasukan milik Madika itu pun lenyap bagai-kan abu yang di terbang-kan oleh angin.
"Baik-lah, sekarang waktu-nya untuk menambah pasukan!" Ucap Madika dalam hati.
Sementara itu, Para ksatria lain-nya yang melihat Madika yang terbang ke langit kini hanya bisa bertanya-tanya karena mereka tak tahu apa yang akan Madika lakukan sekarang.
"Apa yang ingin dia lakukan?" Tanya salah satu ksatria Saga yang berjaga di area evakuasi.
"Entah-lah, kata-nya dia mau menambah pasukan-nya." Jawab salah satu ksatria Saga lain-nya yang ada di tempat itu.
"Menambah pasukan?"
__ADS_1
Kini meraka semua bertanya-tanya dalam hati mereka. Namun saat mereka melihat sosok bayangan hitam yang perlahan menggumpal di atas mayat Niverom mau-pun mayat beberapa ksatria Saga kini membuat para ksatria Saga jadi makin penasaran dan mulai menebak-nebak.
Namun hal yang mereka tak duga pun terjadi dan hal itu membuat mereka terkejut karena mereka melihat gumpalan bayangan itu kini berubah menjadi sosok dari mayat yang ada di bawah bayangan itu.
Semua ksatria Saga bahkan para masyarakat sipil yang ada di area evakuasi yang melihat kejadian kini hanya bisa membuka mata-nya lebar-lebar karena terkejut dan baru kali ini melihat hal yang seperti itu.
Sementara itu, Madika yang sudah menyelesai-kan jurus-nya itu kini langsung mengibas-kan tangan kanan-nya ke samping dan di saat itu juga semua budak bayangan yang baru itu langsung lenyap.
Setelah itu Madika pun langsung menoleh ke arah para ksatria Saga yang ada di tempat evakuasi itu.
"Sisa-nya ku serah-kan pada kalian!... Saat ini kami sedang terburu-buru jadi ku harap kalian bisa memaklumi-nya." Ucap Madika yang kemudian langsung terbang ke arah Natalia yang berada di singgasana harimau api.
Semua orang hanya plonga-plongo menatap Madika.
Mereka semua seperti sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi apa yang sudah Madika tunjuk-kan pada mereka semua.
"Maaf membuat kalian menunggu lama." Ucap Madika sambil menoleh pada seluruh siswa dan guru pemandu yang ada di atas tubuh Bunggu saat ini.
"Tenang saja tuan!... Anda tak perlu meminta maaf." Ucap Bunggu.
"Hehehe oke." balas Madika sambil menggaruk belakang kepala-nya yang tidak gatal.
"Apa aku membuat-mu menunggu lama?" Tanya Madika yang kini langsung menatap Natalia yang ada di depan-nya saat ini.
"Tidak, kau justru bertindak sangat cepat sampai-sampai aku jadi sangat kagum dengan kecepatan-mu membantai semua musuh." Ucap Natalia yang langsung berdiri dari duduk-nya dan langsung berjalan mendekati Madika.
Setelah itu Natalia pun memuncul-kan sebuah pedang dan kemudian menaiki pedang tersebut.
Madika yang mendengar ucapan Natalia itu kini sudah tak punya kata-kata lagi untuk membalas ucapan Natalia.
Alhasil Madika pun kini hanya bisa segera menghilang-kan singgasana harimau api milik-nya itu dan kemudian dengan segera Madika pun langsung mendekati Natalia serta langsung menggendong Natalia sama seperti sebelum-nya.
"ayo pergi dari sini." Ucap Madika dengan senyum manis ke arah Natalia.
"uhm...." Natalia pun hanya bergumam sambil mengangguk-kan kepala-nya sekali.
Setelah itu ia pun langsung merangkul leher Madika dan kemudian merapat-kan wajah-nya ke dada Madika.
Setelah itu kini mereka pun langsung pergi dari tempat itu, dan saat Madika dan Natalia sudah melesat, kini Bunggu pun langsung mengekori Madika dari belakang.
__ADS_1
Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...