
Saat ini Madika berhasil menghancur-kan perisai petir milik Udin dan membuat perisai itu hancur berkeping-keping serta menghasil-kan sebuah ledakan energi sesaat setelah perisai petir itu hancur.
Kini Udin dan Madika terhempas jauh ke belakang. namun kedua-nya tampak berusaha untuk tidak terguling di lantai.
Saat Madika terhempas jauh ke belakang, Madika segera menancap-kan pedang-nya ke lantai sehingga kini ia terdorong ke belakang dengan posisi pedang menggores lantai sepanjang 20 meter.
begitu pula dengan Udin. ia yang gagal menyiap-kan jurus-nya itu kini langsung menancap-kan pedang-nya ke tanah untuk menghenti-kan efek dari hempasan ledakan energi itu.
"sial!... dia berhasil menghancurkan-nya!.... bocah ini benar-benar tak boleh di remeh-kan.... aku harus mengakhiri pertaruhan ini secepat-nya!" batin Udin.
Kini Udin pun langsung berdiri dengan tenang, lalu ia pun segera mengalir-kan Saga-nya ke pedang yang ada di tangan-nya itu.
Madika yang melihat hal itu kini berpikir bahwa Udin hendak menyiap-kan jurus yang kuat lagi.
Lalu dengan cepat Madika pun melesat ke arah Udin sambil memuncul-kan beberapa pisau angin di depan tubuh-nya, dan kemudian ia pun langsung menembak-kan semua pisau angin itu ke arah Udin.
Pisau angin yang muncul di depan Madika itu tidak ada habis-nya sehingga setiap kali pisau angin itu melesat ke arah Udin, maka akan muncul pisau angin lain-nya dan pisau angin itu pun juga ikut melesat ke arah Udin.
hal itu pun membuat Madika bisa melakukan serangan beruntun ke arah si Udin.
Kini pedang Udin yang telah di aliri energi Saga itu langsung memuncul-kan percikan-percikan petir yang cukup besar dan banyak.
percikan-percikan petir itu bahkan kini mengubah bentuk pedang milik Udin dan membuat pedang Udin kini jadi sedikit lebih besar dari sebelum-nya.
bahkan kini punggung pedang Udin yang sebelum-nya polos kini tampak bergerigi layak-nya sebuah mata gergaji.
Sementara itu, pisau angin Madika yang melesat ke arah Udin kini susah berada di hadapan Udin.
namun Udin yang melihat hal itu dengan santai-nya menghentak-kan ujung runcing dari pedang-nya itu ke lantai.
__ADS_1
Seketika itu juga dari lantai yang ada di sekitar Udin langsung muncul empat ular petir yang langsung bergerak mengelilingi Udin dan melindungi Udin dari serangan pisau angin itu.
Hal itu pun membuat pisau angin Madika kini hanya menghantam tubuh para ular petir itu.
Ukuran ular petir itu tidak begitu besar, kira-kira hanya sebesar p@ha orang dewasa, namun ketahanan tubuh-nya sangat kuat sehingga pisau angin milik Madika sama sekali tak bisa melukai-nya.
Tak lama setelah itu, kini Madika pun telah tiba di hadapan Udin, dan dengan cepat Madika langsung melompat ke udara sambil melancar-kan serangan tebasan angin ke arah Udin.
Namun tetap saja, tebasan angin milik Madika itu tetap tak bisa melukai ular petir milik Udin.
"serangan-mu itu sia-sia bocah!" ucap Udin dengan ekspresi angkuh sambil tersenyum.
Lalu Udin pun langsung mengangkat tangan kanan-nya ke udara tepat ke arah Madika.
Seketika itu juga kini ke empat ular petir itu langsung melesat ke arah Madika.
tampak ke empat ular itu kini bergerak ke arah Madika dengan pergerakan yang acak.
Di kepala ular petir itu tampak ada dua tanduk runcing yang menjulang ke atas dan kini dari tanduk itu muncul percikan-percikan petir kecil.
Tak butuh waktu lama, kini ular-ular itu pun telah berada di udara tepat di tempat Madika yang saat ini masih belum mendarat ke lantai.
Madika yang melihat hal itu kini langsung menebas keempat ular itu mengguna-kan pedang ganda milik-nya.
ia melakukan berbagai variasi tebasan bahkan ia sampai-sampai memutar tubuh-nya dan menebas-kan pedang-nya dengan gerakan memutar itu.
Madika pun kini langsung mendarat ke tanah. namun baru saja ia mendarat-kan kaki-nya ke tanah, kini empat ular petir itu langsung menyerang Madika mengguna-kan petir yang muncul dari kedua tanduk di kepala mereka.
Tampak saat ini petir yang cukup besar langsung menyambar dari ujung tanduk si ular petir itu.
__ADS_1
keempat ular petir itu menyambar-kan petir-nya ke arah Madika.
Madika yang melihat hal itu langsung membuat sebuah perisai angin untuk melindungi diri, sehingga kini Sambaran petir itu hanya menghantam perisai angin milik Madika.
Sementara itu, kini Madika pun langsung menyiap-kan jurus-nya dengan cepat.
ia mengangkat kedua pedang-nya di atas kepala-nya dan seketika di atas Madika muncul seekor kerbau angin yang sangat besar.
Udin yang melihat hal itu kini langsung tersenyum tipis.
ia kemudian mencabut pedang-nya dari lantai dan dengan segera ia pun menyiap-kan jurus yang kuat untuk melawan jurus Madika.
"oke..... jadi sekarang kau mau adu mekanik dengan-ku hah?!!.... kalau begitu mari kita lihat seberapa kuat diri-mu!" ucap Udin sambil mengangkat pedang-nya dan mulau mengalir-kan Saga-nya ke pedang itu.
Seketika itu juga, kini empat ular petir milik Udin pun kini langsung menyatu dan tubuh ular petir itu pun kini bertambah besar dan panjang.
tampak gigi-gigi bergerigi ular itu sangat tajam dan di bawah hidung-nya tampak ada kumis layak-nya seekor naga.
Tatapan mata ular raksasa itu tampak sangat tajam dan menakut-kan, sementara tanduk-nya kini juga semakin memanjang dan tampak bercabang-cabang layak-nya tanduk rusa.
Setelah kedua jurus milik mereka telah siap, kini mereka berdua pun langsung melesat-kan jurus-nya masing-masing.
Kini ular petir milik Udin langsung melesat ke arah Madika, dan begitu pula sebalik-nya dengan kerbau angin milik Madika yang kini melesat ke arah Udin.
Namun saat kedua jurus itu hampir bertabrak-kan, tiba-tiba ular petir milik Udin langsung berbelok arah dan dengan cepat ular itu melilit kerbau angin Madika.
Ular itu terus mengenas-kan lilitan-nya, dan membuat kerbau angin itu tak bisa bergerak dengan bebas hingga akhir-nya kerbau angin itu pun langsung meledak begitu saja.
Madika yang melihat hal itu kini hanya bisa menatap malas ke arah kerbau angin milik-nya itu.
__ADS_1
"sudah ku duga ini tidak akan berhasil." ucap Madika dengan tatapan malas. "lagian mana bisa kerbau melawan ular raksasa.... sudah jelas ular lebih gesit dan licik.... sementara kerbau kerja-nya hanya menabrak lawan pakai tanduk.... mana bisa menabrak ular pakai tanduk!" batin Madika.