
Saat ini Simpo dan Lompu yang sebelumnya membicarakan hal buruk dan jelek tentang Madika kini di kejutkan oleh sosok Madika yang terbang dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari mereka berdua.
Tidak hanya kecepatan Madika saja yang membuat mereka terkejut, bahkan sayap angin yang di gunakan oleh Madika itu juga kini membuat mereka sangat terkejut.
Hal itu di karenakan jurus sayap yang di gunakan untuk terbang seperti itu adalah jurus yang langka dan sulit untuk di pelajari.
Mengingat tingkat kelangkaan jurus tersebut, kini pandangan Simpo dan Lompu terhadap Madika jadi sedikit goyah.
Mereka yang tadinya benar-benar sangat meremehkan Madika dan ragu akan kemampuan Madika kini jadi sedikit bertanya-tanya tentang kemampuan Madika dan siapa dia yang sebenarnya sampai-sampai ia bisa memiliki jurus yang seperti itu.
"Bocah ini, apa jangan-jangan dia benar-benar memiliki kapasitas sebagai seorang ksatria Saga?" Ucap Lompu.
"Hahaha... Jangan cepat mengambil keputusan!... Hanya karena dia bisa menggunakan jurus langka seperti itu bukan berarti dia memang memiliki kemampuan!... Aku saat ini justru masih berpikir bahwa kemungkinan bocah itu adalah cucu dari sesepuh Wilasopu!... Jika tidak begitu, mana mungkin ia bisa menjadi seorang ketua sekte hanya dengan mengandalkan kekuatan Saga tingkat master miliknya." Ucap Simpo memberi komentar yang berbeda dari pikirannya yang sebenarnya.
Karena meskipun Simpo berkata seperti itu, namun ia juga sedikit mengakui bahwa ia merasa iri dengan jurus yang di miliki oleh Madika itu.
Sementara itu, kini Madika telah tiba di samping sesepuh Wilasopu yang melesat jauh lebih cepat dari Simpo dan Lompu.
Sesepuh sekte yang melihat kedatangan Madika di sampingnya itu kini langsung menoleh ke arah Madika dan memperhatikan sayap angin milik Madika itu.
"Seperti yang di harapkan dari jurus sayap yang langka... Kecepatannya benar-benar melebihi kecepatan kecepatan lesatan pedang!" Ucap Wilasopu.
"Uhm." gumam Madika sambil menganggukkan kepalanya sekali.
Tak lama setelah itu, kini Wilasopu dan Madika pun tiba di tempat pertarungan para Niverom dan anggota sekte Balumba itu.
Kemudian mereka pun segera mengedarkan pandangannya ke berbagai arah dan melihat pertarungan yang sedang berlangsung.
Tampak saat ini anggota sekte Balumba banyak yang terluka akibat serangan brutal dari para Niverom yang terus melancarkan jurus-jurusnya.
Banyak anggota sekte kini terpukul mundur akibat serangan tersebut, meskipun banyak dari mereka mencoba melawan dengan segenap kekuatan yang di miliki, namun apalah daya tenaga mereka tak cukup lagi karena sudah banyak terkuras di pertarungan sebelumnya saat melawan Madika.
"Orang-orang sekte kita saat ini benar-benar sudah terpukul mundur!" Ucap Madika.
"Sebaiknya kita segera turun tangan sekarang!" Sela Wilasopu yang kemudian mencoba maju ke Medan pertempuran itu.
Namun tiba-tiba Wilasopu langsung menghentikan pergerakannya karena kini tangan Madika tampak sedang menghalanginya.
"Ada apa tuan Madika?" Tanya Wilasopu sambil menoleh ke arah Madika.
"Biar aku saja yang menghadapi mereka." Ucap Madika dengan ekspresi tenang.
Baru saja Madika berkata seperti itu, kini Simpo dan Lompu pun tiba di samping mereka berdua.
__ADS_1
"Parah sekali!" Ucap Lompu.
"Sudah ku duga akan jadi seperti ini!... Bahkan sekte terkuat di kerajaan ini pun bisa kewalahan menghadapi mereka semua!" Ucap Simpo saat melihat anggota sekte Balumba terdesak akibat serangan para Niverom.
Mendengar kata-kata dari Simpo, Wilasopu pun langsung menoleh ke arah Simpo sambil memunculkan aura membunuh dari tubuhnya.
Seketika itu juga bulu kuduk Simpo dan Lompu pun langsung berdiri.
"Ma... Maaf, aku tak bermaksud meremehkan kalian!" Ucap Simpo dengan refleks saat merasakan aura membunuh itu.
Madika yang melihat hal itu kini hanya menggelengkan kepalanya.
Lalu ia maju sedikit ke depan karena saat ini ia sudah memutuskan untuk menghadapi semua Niverom itu seorang diri.
"Untuk saat ini, sebaiknya kalian tidak perlu ikut campur... Simpan saja tenaga kalian untuk pertarungan yang lainnya di luar sana... Kali ini biar aku sendiri yang mengatasi semua Niverom itu!" Ucap Madika tanpa menoleh ke arah mereka bertiga yang ada di belakangnya.
Mendengar kata-kata Madika barusan, Simpo pun langsung terlihat sedikit kesal pada Madika.
Ia kini menatap Madika dengan tatapan sinis dan tampak tak suka dengan sikap Madika.
"Hah?... Hei bocah!... Sombong sekali diri-mu!... Apa kau pikir para Niverom itu sama seperti monster kecil di luar sana hah?... Dasar bocah sok jago!" Ucap Simpo dengan nada meremehkan Madika.
Sekali lagi kini Wilasopu pun langsung menatap Simpo dengan tajam dan memancarkan aura membunuh dari tubuhnya.
"Hahaha... Tidak ku sangka sekte Balumba ternyata sudah menjadi selemah ini!... Bahkan sang sesepuh yang dulunya sangat di segani kini malah tunduk di hadapan bocah yang bahkan masih berada di tingkat master.... Hahaha benar-benar konyol!" Ucap Simpo dengan nada mengejek.
Wilasopu yang mendengar ucapan Simpo itu pun kini langsung naik pitam dan benar-benar ingin menghajar Simpo.
Namun karena Madika segera menghubungi Wilasopu melalui telepati-nya, kini Wilasopu pun hanya bisa diam karena Madika menyuruhnya untuk tidak perlu menanggapi mereka berdua.
Sesudah itu, Wilasopu pun kini hanya diam dan ia menghentikan kembali aura-nya agar tidak merembes keluar.
Sementara itu, Lompu kini langsung menegur Simpo karena sikapnya terkesan terlalu berlebihan.
Lompu saat ini sebenarnya takut pada kemampuan sesepuh Wilasopu karena ia tahu bahwa Wilasopu memang sangatlah kuat.
"Hoi!... Jangan terlalu berlebihan!' Ucap Lompu menegur Simpo.
"Hei kalian berdua..." Ucap Madika tanpa menoleh ke arah Simpo dan Lompu yang berada di belakangnya. Lanjutnya, "Sebelumnya biar ku beritahukan pada kalian satu hal... Aku yakin kalian berdua akan terkejut mendengar hal ini... Sebenarnya aku-lah buronan yang kalian cari-cari... Aku-lah orang yang telah menyerang klan petir hingga klan itu hancur!... Selain itu, hari ini aku baru saja menyelesaikan pertarungan dengan sekte Balumba... Kehancuran tempat ini semuanya adalah ulahku... Jadi jika kalian merasa lebih kuat dariku, maka cobalah untuk menghadapi setidaknya mantan ketua sekte saja... Jika kalian bisa menang maka aku akan mengakui bahwa kalian lebih kuat dariku!" Ucap Madika.
Mendengar perkataan Madika barusan, kini Simpo dan Lompu pun langsung terkejut dengan mata yang terbelalak.
Keduanya kini langsung kehabisan kata-kata.
__ADS_1
Satu-satunya yang terlintas di pikiran mereka adalah sebuah kemustahilan dan mereka masih belum bisa menerima kenyataan dan tak mau percaya dengan ucapan Madika.
"Yang benar saja!"
"Hahaha... Kau sedang bermimpi ya?... Tidur saja sama jika kau ingin bermimpi!" ucap Simpo dengan nada mengejek dan menatap Madika dengan tatapan sinis.
Mendengar perkataan Simpo itu, kini Madika pun langsung memutar tubuhnya dan sedikit menghadap ke arah Simpo dan Lompu.
Dengan santainya kini Madika mengangkat tangan kanannya ke arah Simpo dan tampak di ujung jari telunjuk Madika kini muncul sebuah peluru angin.
Simpo yang melihat hal itu malah semakin meremehkan Madika karena Madika malah membuat sebuah bola angin yang sangat kecil.
"Hahahaha... Kenapa? Apa kau marah dan ingin menyerang-ku dengan bola angin kecil itu?... Nih... Ini dadaku!... Serang kalau kau bisa!" Ucap Simpo sambil menepuk dadanya dan menatap Madika dengan tatapan meremehkan.
Melihat kesombongan Simpo itu, kini Madika pun jadi tidak ragu-ragu untuk melakukan serangan tersebut.
Kini Madika pun langsung menembakkan peluru angin-nya itu tepat di bahu kanan Simpo.
Simpo tak menghindar sama sekali sehingga kini peluru angin itu langsung menembus dagingnya dan masuk ke sekitaran bahu kanannya yang berada dekat dengan leher.
"Hahaha.... Cuma segini saja hah?... Tidak terasa sakit sama sekali!" Ucap Simpo dengan suara membentak.
"Hahaha... Jadi apa ini kekuatan yang membuat klan petir ketar-ketir?... Apa ini kekuatan yang membuat sekte Balumba di porak-porandakan?... Hahaha... benar-benar sangat menggelikan!!" Ucapnya dengan suara membentak-bentak.
Sementara itu, Lompu kini hanya bisa diam, ia sama sekali tidak mau ikut campur dengan apa yang di lakukan oleh Simpo.
Di sisi lain, sesepuh Wilasopu kini semakin kesal, ia kemudian menatap Madika.
"Ketua sekte!... Aku benar-benar sudah muak dengan orang ini!" Ucap Wilasopu yang kini tampak semakin kesal.
Madika mengabaikan ucapan sang sesepuh, namun kini ia langsung bertanya pada Simpo.
"Apa kau sudah puas tertawa?" Tanya Madika sambil mengangkat tangan kanannya di depan wajahnya.
"Hahahaha... Masih belum!!" Jawab Simpo yang malah makin menjadi-jadi.
Madika pun kini langsung mengangkat tangan kanannya itu ke atas dan kemudian langsung menjentikkan jarinya.
CKLEK!!
DUAAARRRR!!
Seketika itu juga tubuh Simpo pun langsung meledak dan ledakan yang sangat kuat itu membuat tubuh Simpo langsung hancur berkeping-keping, sementara efek ledakan itu kini membuat Lompu terhempas jauh akibat tekanan dari efek ledakan tersebut.
__ADS_1