
Saat ini, Emi dan Nia telah tiba di tempat di mana akan di laksana-kan hukum mati terhadap Liga dan para rekan-nya serta ayah Nia yakni Tago Nakawao.
Tempat itu bertepatan di salah satu alun-alun kota yang memang sengaja di jadi-kan tempat khusus untuk melakukan kegiatan hukum di depan umum seperti ini.
Tempat itu memang sengaja di buat untuk menghukum sekaligus memberi peringatan pada orang-orang lain-nya yang memiliki niatan jahat agar mereka segera menghentikan tindakan kejahatan mereka.
itulah tujuan utama dari alun-alun itu di buat.
Setelah beberapa saat berlalu, kini sudah banyak orang yang berkumpul di alun-alun itu untuk melihat saat-saat terakhir bagi Liga dan yang lain-nya.
Karena saat ini waktu sudah menunjuk-kan pukul sepuluh, maka kini Karu yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi mewah yang berada di sebuah panggung yang sudah di siap-kan kini langsung berdiri.
ia mulai berpidato tentang kejahatan yang di lakukan oleh Liga dan para rekan-nya.
ia juga tidak lupa membuat-buat cerita buruk tentang Tago serta seluruh keluarga besar Tago.
Mendengar Karu yang menyebar cerita yang tidak benar tentang keluarga besar Nakawao, Nia pun langsung kesal dan tampak wajah-nya langsung emosi.
rasa-nya ia sangat ingin segera bergerak dan membunuh Karu yang sedang berbicara dengan sangat angkuh di hadapan banyak orang itu.
Kini pidato yang penuh dengan kebohongan itu terus di lontar-kan oleh Karu.
sementara itu, Liga dan yang lain-nya hanya bisa diam.
meski-pun mereka sempat membantah, namun karena saat ini Sigo berada di tempat itu, Sigo pun langsung menendang mereka dan memukuli mereka hingga tak bisa berbicara.
Pemandangan itu terlihat sangat mengeri-kan.
semua orang yang berada di tempat itu diam seribu bahasa.
beberapa dari mereka tidak mempercayai ucapan Karu karena Karu memang selama ini sudah banyak menyimpan kebohongan yang sebenar-nya sudah di ketahui oleh beberapa masyarakat.
Namun kebanyakan masyarakat di kota Kayau tidak berani angkat bicara karena mereka takut akan di hukum dengan alasan tidak masuk akal dari keluarga Nemosu.
"baiklah..... sekarang tanpa basa basi lagi, kita akan segera memberi penghakiman pada para penjahat ini!.... dan kalian semua sebagai saksi, bahwa hukum di kota Kayau akan terus berdiri tegak memberantas kejahatan!!" teriak Karu dengan penuh semangat dan tampak tak tahu diri.
__ADS_1
Orang-orang yang mendengar hal itu banyak yang langsung bertepuk tangan, namun banyak pula yang hanya terpaksa bertepuk tangan karena sebenar-nya mereka juga sudah tahu kebusukan Karu yang sebenar-nya.
Setelah Karu menyatakan penghakiman segera di mulai, kini Sigo pun berjalan ke arah Liga dan para rekan-nya yang saat ini sudah di ikat pada tiang kayu yang ada di tengah-tengah alun-alun itu.
Sementara itu, Jos yang melihat Sigo berjalan dengan santai-nya ke arah mereka kini langsung emosi dan kesal.
"pengkhianat bangs@t!!" bentak Jos dengan ekspresi yang penuh amarah.
"barusan kau bilang apa hah?!!" tanya Sigo sambil mengeluar-kan pedang-nya dan mengarah-kan pedang itu tepat di depan leher Jos.
"langsung saja sial@n!.... tusuk saja langsung!!" bentak Jos lagi sambil memberontak di tiang tersebut.
Sigo yang melihat tingkah Jos itu kini kembali tertawa cekikikan.
"hahahaha kau ini benar-benar orang yang bod0h Jos." ucap Sigo yang kemudian menurun-kan pedang-nya sambil berjalan pelan ke arah Liga.
Sementara itu, para masyarakat sipil yang mengenal siapa Sigo sebelum-nya kini langsung ikut kesal melihat Sigo.
karena sebelum-nya Karu telah menjelas-kan bahwa Sigo-lah yang telah mengungkap semua tentang kejahatan Liga.
Di sisi lain, beberapa orang lain-nya tampak banyak pula yang mempercayai kebohongan Karu dan Sigo.
mereka semua terhasut dan langsung mencela Liga.
padahal jika di pikir-pikir, beberapa dari mereka sebelum-nya juga merupa-kan pendukung Liga dan keluarga Nakawao, namun ketika mendengar fitnah dan kebohongan yang di buat-buat oleh Karu dan Sigo, kini mereka pun langsung membelot dari Liga.
Kini kegaduhan terjadi di tempat itu.
banyak orang yang mengeluar-kan kata-kata masing-masing untuk menunjuk-kan pendapat dan pikiran mereka mengenai masalah ini.
Namun kegaduhan itu pun bisa dengan cepat berhenti karena kini para ksatria penjaga dari keluarga Nemosu langsung turun tangan untuk menghentikan orang-orang yang gaduh itu.
Mereka menghentak-kan senjata mereka ke tanah serta mengeluar-kan aura Saga mereka untuk menekan para masyarakat sehingga kini seluruh masyarakat itu langsung tertunduk dan semua-nya langsung diam.
"tidak baik jika kita saling bertengkar sendiri, jadi aku berharap kalian semua bisa tenang selama eksekusi di depan publik ini di langsung-kan." ucap Karu yang saat ini sedang berdiri di tempat-nya.
__ADS_1
Mendengar hal itu, kini semua pendukung Liga pun terdiam dengan ekspresi kesal, sementara orang-orang yang lain-nya hanya diam dengan ekspresi datar.
Setelah Sigo melihat keadaan sudah tenang, kini Sigo pun langsung mengangkat pedang-nya dan menodong-kan pedang-nya itu ke leher Liga.
"sebelum aku mengeksekusi mati diri-mu, apa kau punya kata-kata terakhir yang ingin kau ucap-kan?" tanya Sigo yang tampak seolah mempermain-kan Liga, mantan atasan-nya itu.
Sementara itu, Liga yang mendengar ucapan Sigo kini hanya bisa menghela nafas dan kemudian menatap Sigo dengan serius.
"suatu saat nanti kau akan menerima balasan dari perbuatan-mu!" ucap Liga dengan tegas.
"balasan?.... hahahaha jangan bercanda!" ucap Sigo sambil tertawa mengejek.
Setelah tertawa, kini Sigo pun langsung kembali melangkah-kan kaki-nya.
"hah..... sia-sia saja menanyakan hal itu pada-mu." ucap Sigo yang kemudian langsung berjalan mendekati Tago, yakni ayah Nia.
"baiklah, kita langsung saja mengeksekusi orang pertama!" ucap Sigo sambil menunjukkan senyum menyeram-kan layak-nya seorang psikopat.
"huh.... ternyata aku target pertama-nya." ucap Tago sambil menghela nafas dengan ekspresi pasrah di wajah-nya.
"baiklah.... aku tidak akan basa-basi dengan-mu!.... jadi sebaik-nya kau langsung mati saja sana!!" bentak Sigo sambil menebas-kan pedang api-nya itu dengan sangat kuat ke arah Tago.
~TCHINGGG!!!~
Sebuah suara pedang yang saling berhantaman pun terdengar dan langsung membuat semua orang terkejut.
hal itu di karena-kan asal dari suara pedang yang saling berhantaman itu berasal dari pedang energi milik Nia yang menghantam pedang api milik Sigo.
"tidak akan ku biar-kan kau membunuh ayah-ku!!" ucap Nia sambil berteriak penuh amarah.
Seketika seluruh orang yang ada di tempat itu langsung terkejut dan mulai gaduh lagi.
Sementara itu, Nia yang berhasil menahan pedang api milik Sigo kini langsung menebas Sigo dengan kuat dengan tujuan agar Sigo menjauh dari ayah-nya.
Hal itu pun memaksa Sigo untuk segera melompat ke belakang dan mulai menjaga jarak dari Nia.
__ADS_1