Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Duo Bucin Meresahkan


__ADS_3

Saat ini Niso sedang memegang dagu Elsi dan mendekat-kan wajah-nya pada wajah Elsi.


ia bahkan mengancam akan membunuh Dion jika Elsi tak mau mematuhi perkataan-nya.


Elsi kini perhadap-kan dengan pilihan yang sangat berat bagi-nya.


namun pada akhir-nya kini Elsi pun memberi jawaban untuk ancaman yang di berikan oleh Niso pada-nya.


"baiklah.... aku akan melakukan apa yang kau ingin-kan.... tapi sebaik-nya kau benar-benar membiar-kan Dion tetap hidup!" ucap Elsi sambil menahan air mata-nya.


"tidaaaakkk!!" Dion berteriak sambil menatap ke arah Elsi.


"tidak akan ku biar-kan pria itu mempermain-kan mu! Elsi!!" ucap Dion


Lalu Dion pun berusaha berdiri sekuat tenaga meski-pun diri-nya masih dalam pengaruh tekanan aura Saga milik Niso.


"Nisoooo!!!" teriak Dion dengan penuh amarah. "kau tidak akan ku maaf-kan!.... aku pasti akan membunuh-mu dan menyelamat-kan Elsi!!!.... meski-pun harus mati!!.... aku akan tetap melawan sampai titik dara penghabisan!!" ucap Dion dengan suara keras serta ekspresi yang tampak penuh amarah terhadap Niso.


"hah.... kau bilang apa barusan?" tanya Niso sambil berjalan mendekati Dion.


"kau pikir kau bisa melawan-ku hah?!!" bentak Niso sambil menendang wajah Dion hingga Dion pun langsung terlempar dan jatuh tersungkur di atas tanah.


"Diooonnnn!!" teriak Elsi dengan ekspresi panik dan menghawatir-kan Dion.


lalu Elsi pun mencoba untuk berjalan ke arah Dion yang tersungkur di tanah itu.


namun saat hendak melangkah ia malah terjatuh dan tersungkur di tanah karena tekanan dari aura Saga Niso benar-benar sangat membebani tubuh-nya yang sudah terluka itu.


Sementara itu, Niso kini terus menghajar Dion.


ia terus menendang Dion yang masih tersungkur di atas tanah itu sambil terus mencela Dion dengan kata-kata yang tak enak di dengar.

__ADS_1


"dasar ba**!!!! an*****!!!.... kau pikir kau siapa hah?!.... hahahaha ingin melawan-ku?!!!.... jika ingin bermimpi sebaik-nya tidur dulu!!.... atau kau mau aku buat tidur sekarang juga hah?!!... tapi tidur-nya untuk selama-lamanya!!" bentak Niso sambil terus menendang dan menginjak-injak Dion hingga tubuh Dion semakin babak belur dan wajah-nya berlumuran darah.


Setelah itu Niso pun langsung menendang Dion dengan sangat kuat sehingga ia pun terlempar tepat ke arah Elsi.


Kini Dion pun tersungkur di depan Elsi yang saat ini juga masih tersungkur di atas tanah.


Elsi yang melihat hal itu kini langsung menetes-kan air mata-nya dan ia pun berusaha mendekati Dion dengan susah payah.


kendati diri-nya kini harus merangkak untuk mendekati Dion.


"Di.... Dion." ucap Elsi dengan suara lirih sambil berusaha meraih tangan Dion.


Sementara itu, Dion yang melihat Elsi yang berusaha mendekati diri-nya kini langsung melakukan hal yang sama dengan Elsi.


Dion kini merangkak sambil menjulur-kan tangan-nya ke depan untuk meraih tangan Elsi.


"sayang!.... aku tak akan meninggalkan-mu apa pun yang terjadi!" ucap Dion yang masih berusaha merangkak dan meraih tangan Elsi.


"aku tahu itu!... tapi jika begini terus kau akan mati!" balas Elsi sambil menangis.


bahkan saat ini Madika tampak sedang menatap adegan dramatis yang di lakukan oleh Dion dan Elsi itu dengan tatapan bosan dan merasa sedikit resah dengan adegan dramatis yang mereka lakukan.


"dasar duo bucin yang sangat meresah-kan.... apa kalian ingin membuat pria jomblo seperti-ku jadi iri dengan hubungan dramatis kalian?" ucap Madika dengan ekspresi malas.


Saat mendengar suara Madika berkata seperti itu, kini Elsi dan Dion pun langsung berhenti bergerak dan mereka pun langsung menoleh ke arah Madika dan Aurel.


tidak hanya mereka berdua saja, bahkan Niso dan delapan pria lain-nya kini juga ikut terkejut dan sesaat mereka langsung terdiam.


Tak butuh waktu lama, kini Niso pun langsung menatap Madika dengan tatapan tajam mengintimidasi.


"siapa kau?!" tanya Niso sambil memuncul-kan pedang halilintar di tangan kanan-nya.

__ADS_1


Sementara itu, Madika yang melihat pedang halilintar di tangan kanan Niso kini langsung mencurigai Niso.


"apa kau yang menyerang mengguna-kan laser petir sebelum-nya?" tanya Madika dengan ekspresi datar serta nada suara yang terdengar dingin.


"diam kau.... jawab pertanyaan-ku atau kau akan ku bunuh!" bentak Niso dengan suara keras sambil mengangkat pedang-nya dan mengarah-kan pedang-nya itu pada Madika.


"hmm.... kau sendiri bahkan tak menjawab pertanyaan-ku, lantas untuk apa aku menjawab pertanyaan-mu?" balas Madika dengan penuh ketenangan.


Kini Madika pun langsung berjalan mendekati Niso, sementara itu Aurel yang melihat hal itu kini hanya bisa diam di belakang karena ia tahu bahwa diri-nya tidak mungkin bisa berbuat apa-apa jika berhadapan dengan orang-orang yang sudah berada di tingkat Elite itu.


"heh.... berani sekali kau bocah!.... tidak ku sangka anak-anak remaja jaman sekarang semua-nya sangat tidak sopan pada orang dewasa.... kau mau cari mati ya hah?!" ucap Niso sambil menatap Madika dengan penuh intimidasi.


Madika yang mendengar ucapan Niso kini hanya diam dan tidak mempeduli-kan hal itu.


Kini Madika pun berjalan melewati Dion dan Elsi, sementara itu, Dion dan Elsi yang melihat Madika kini berada di depan mereka langsung mencoba membujuk Madika untuk segera kabur dari tempat itu.


"hei kau!.... aku tak tahu siapa kau!... tapi sebaik-nya jangan buat masalah dengan orang itu!... jika kau bermasalah dengan-nya, bisa-bisa kau akan menjadi buronan mereka sampai mati!" ucap Dion memperingati Madika.


"itu benar!.... sebaik-nya kau tidak berbuat macam-macam dengan mereka jika kau tak ingin berakhir seperti kami!" timpal Elsi dengan ekspresi peduli.


"ehh?.... itu terdengar sangat mengeri-kan!." ucap Aurel yang kini mulai terlihat panik.


Lalu Aurel pun langsung berlari ke arah Madika dan dengan segera ia memegang tangan Madika dan membuat Madika menghenti-kan langkah-nya.


"Madika, sebaik-nya jangan gegabah!" ucap Aurel sambil memegangi tangan Madika mengguna-kan kedua tangan-nya.


Madika yang mendengar-kan ucapan Aurel kini hanya diam dan tidak berkata apa-apa.


ia hanya terus menatap ke arah Niso dengan tatapan tajam.


Sementara itu, Dion yang merasa kesal dengan tatapan Madika itu kini langsung kehilangan kesabaran.

__ADS_1


"bocah sial@n!.... berani sekali menatap-ku seperti itu!.... melihat wajah-mu itu benar-benar membuat-ku kesal!.... sekarang sudah terlambat jika kau ingin minta maaf!!" bentak Niso.


"sekarang rasa-kan aura Saga-ku yang sangat luar biasa ini!!" bentak Niso lagi sambil menghentak-kan tubuh-nya.


__ADS_2