
Tiga tetua menyerang Madika.
Madika pun terpaksa menggunakan jurus domain dengan niat untuk melawan mereka menggunakan kekuatan yang lebih besar lagi di dalam domain itu.
Tiga tetua pun masuk dalam wilayah domain milik Madika.
Ketiganya tampak sangat terkejut karena bocah yang mereka remehkan itu ternyata bisa menggunakan jurus yang bahkan tidak bisa mereka gunakan.
"Tchi!... Bocah ini benar-benar bikin iri saja!" Ucap tetua Lingka.
"Kenapa?... Apa kau merasa resah hanya karena domain lemah seperti ini?" Ucap tetua Akina.
"Bukan resah!... Hanya sekedar iri saja!... Kenapa bocah ini bisa memilikinya sedangkan kita sangat sulit mempelajarinya!" Jawab tetua Lingka.
"Itu memang ada benarnya... Aku yakin bocah ini tidak biasa, karena itu ia bisa melakukan hal seperti ini." Sela tetua Rionda sambil mengelus janggutnya serta terlihat seperti sedang berpikir.
"Sudahlah... Jangan terlalu banyak bicara! Kita harus segera menyingkirkan angin yang merepotkan ini!" Balas tetua Lingka.
Setelah itu tetua Lingka pun mulai menyiapkan sebuah jurus.
Ia mengangkat tangan kanannya ke atas, seketika itu pula sebuah bola bercahaya muncul di atas mereka.
Bola itu berukuran setengah bola kaki dan ia memancarkan cahaya di sertai dengan percikan-percikan petir yang cukup banyak.
"Meledak!" Ucap tetua Lingka sambil mengepalkan tangannya.
Seketika itu juga bola bercahaya itu pun langsung meledak.
Ledakannya sangat kuat sehingga seluruh badai angin yang ada di wilayah domain itu terhempas dan berhenti.
"Luar biasa!" Ucap Madika yang saat ini ternyata berada 30 meter di atas mereka.
Mereka bertiga pun langsung menengadah ke atas dan melihat Madika sedang terbang melayang menggunakan sayap angin miliknya itu.
"Hei bocah... Apa kau masih belum sadar juga akan posisi mu hah?" Tanya tetua Lingka dengan angkuhnya.
"Diam kau pak tua!... Justru pertanyaan itu sekarang akan ku kembalikan pada kalian!" Jawab Madika dengan ekspresi datar namun terkesan mengancam.
"Hahaha jangan bercanda!... Kau pikir kekuatan tingkat master seperti itu bisa menandingi seorang yang berasa di tingkat Epic hah?!" Balas tetua Lingka lagi sambil tertawa.
"Mungkin yang kau katakan itu memang benar... Karena itulah aku sekarang berani mengatakan bahwa aku akan mengalahkan kalian dan membuat kalian sadar akan posisi kalian saat ini." Ucap Madika sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.
__ADS_1
Lalu ia pun langsung menjentikkan jarinya.
~CLAKK!!~
Seketika itu juga segel yang menahan kekuatan Saga legendaris Madika pun langsung terbuka.
Di saat yang bersamaan energi saga tingkat legendaris itu pun langsung meluap dari tubuh Madika dan keluar begitu saja.
~BOOMMM!!~
Ledakan energi terjadi dari tubuh Madika, dan ledakan energi itu membuat seluruh energi Saga legendaris langsung tersebar luas ke hingga hampir mencapai jarak lima puluh meter jauhnya.
Para tetua segera terkejut.
Mereka tidak menyangka di tubuh bocah itu ada energi Saga sebesar itu.
Namun yang paling mengejutkan bagi mereka adalah saat mereka bisa merasakan bahwa energi Saga yang meluap-luap di tubuh Madika itu adalah energi Saga tingkat legendaris.
"I... Ini... Bagaimana mungkin seperti ini!?" Ucap tetua Lingka yang kini terlihat terkejut bukan main.
Ia kini seolah merasakan pukulan batin yang membuat dirinya tak bisa menyombongkan kekuatannya lagi di depan Madika.
"Sudah ku duga bocah ini pasti bukan bocah biasa!" Ujar tetua Rionda.
"Kau benar!... Melihat hal ini aku jadi terpikirkan sesuatu... Apa jangan-jangan bocah ini adalah...." Tetua Akina menggantungkan perkataannya. Namun tetua Rionda langsung mengangguk seolah paham ke arah mana ucapan tetua Akina selanjutnya.
"Meskipun sudah seperti ini, bukan berarti sekarang kita bisa mundur lagi bukan?!... Apa lagi sekarang kita sudah berada di wilayah domain bocah ini, Jadi jika ingin mati maka matilah dengan perjuangan!" Ucap tetua Lingka menyela pembicaraan tetua Akina dan tetua Rionda.
"Begitu ya." Ucap Madika dengan suara datar dan langsung muncul di belakang tetua Lingka.
~JLEBB~
Sebuah pedang angin kini menembus jantung tetua Lingka.
Madika pun hanya menatap tetua Lingka dengan tenang.
"Tetua Lingka!" Ucap tetua Rionda dan tetua Akina yang langsung terkejut melihat kemunculan Madika.
"Dasar bocah!... Tidak akan ku biarkan kau!!" Bentak tetua Akina sambil memunculkan pedangnya dan melesat ke arah Madika.
Namun Madika sekali lagi tiba-tiba menghilang dari sana. Namun ia masih meninggalkan pedangnya itu di tubuh tetua Lingka.
__ADS_1
Kini Madika yang menghilang tiba-tiba itu langsung muncul tepat di belakang tetua Rionda sambil menebaskan pedangnya ke arah tetua Rionda.
Tetua Rionda yang sempat menyadari hal itu kini langsung Membentuk sebuah pedang di tangannya.
Lalu ia pun mencoba menangkis pedang Madika menggunakan pedang miliknya.
Namun sayangnya karena pedang itu di buat secara terburu-buru.
Maka pedang itu tidak sempat di perkuat sepenuhnya oleh tetua Rionda sehingga hal itu membuat pedang milik tetua Rionda itu langsung hancur seketika dan dengan cepat Madika pun memutar mata pedangnya lalu menebaskan lagi pedangnya telat ke kepala tetua Rionda.
Kepala tetua Rionda pun di tebas dan langsung terbelah dua.
Tetua Akina yang melihat hal itu kini langsung berhenti tepat di dekat tetua Lingka yang masih berusaha mengatur nafasnya meskipun jantungnya sudah tertusuk.
Madika yang melihat tetua Lingka masih hidup kini langsung mengangkat tangan kanannya dengan posisi telapak tangan terbuka.
"Apa lagi yang kau rencanakan bocah!" Bentak tetua Akina yang tampak sangat marah.
Tetua Akina segera mengangkat pedangnya di udara dan menyiapkan satu jurus terkuatnya.
Tampak pedang tetua itu langsung menyala-nyala dan memancarkan cahaya di sertai Sambaran petir yang menjalar hingga ke langit.
Namun Madika dengan tenangnya langsung mengepalkan tangannya dan seketika itu juga pedang yang ada di dada tetua Lingka langsung meledak, dan ledakannya itu membuat tubuh tetua Lingka langsung terbagi dua dan terlempar begitu saja di atas gurun pasir itu.
Kini hanya tersisa tetua Akina saja.
Ia sedang menyiapkan jurus yang kuat untuk menyerang Madika.
Namun Madika terlihat tetap tenang. Tidak ada rasa gelisah sama sekali.
"Sejauh ini aku bisa bertahan dengan kekuatan legendaris hanya selama lima menit, jadi sebaiknya aku tak buang-buang waktu lagi!" Ucap Madika dalam hati.
Setelah itu Madika pun langsung menjentikkan jarinya.
Seketika itu pula sebuah badai angin kembali melanda tempat itu dan debu kembali beterbangan di mana-mana.
Lalu tetua Akina yang sedang menyiapkan jurusnya barusan tiba-tiba di hantam oleh angin yang sangat tajam.
Wajah tetua Akina langsung tergores dan mengeluarkan banyak darah.
Tidak hanya itu saja, kini tangan, kaki, serta seluruh bagian tubuh tetua Akina langsung tergores dengan luka yang cukup dalam akibat serangan badai angin yang tidak biasa itu.
__ADS_1