
Hari ini Madika kembali ke akademi dan memulai hari-nya seperti biasa.
ia mengikuti setiap pelajaran yang di berikan di hari itu dan mempelajari banyak hal dengan baik.
kini jam istirahat telah tiba.
banyak siswa yang keluar dari kelas untuk menikmati jam istirahat.
beberapa dari mereka ada yang langsung ke kantin, dan ada pula yang masih tinggal di kelas karena mereka membawa bekal dari rumah.
Saat ini Madika sedang berjalan hendak keluar dari kelas. namun tangan-nya tiba-tiba di pegang oleh seseorang dari belakang.
Madika menoleh, ia melihat sosok Ariel yang kini sedang memegang tangan-nya dengan ekspresi yang tampak sedikit malu-malu.
"ada apa?" tanya Madika.
"apa kau mau ke kantin?" ucap Ariel yang balik bertanya
"iya.... apa kau mau ikut?" tanya Madika sambil memutar tubuh-nya dan menghadap ke arah Ariel.
"tidak..... ehm...." jawab Ariel sambil pasang ekspresi yang terlihat seolah sedang memikirkan sesuatu. lanjut-nya, "aku hanya ingin mengajak-mu ke suatu tempat, ini tidak akan lama." ucap Ariel sambil memalingkan wajah-nya dari Madika dengan malu-malu.
"baiklah.... aku akan ikut dengan-mu." jawab Madika tanpa berpikir panjang karena tidak mau buang-buang waktu.
Mendengar jawaban Madika, kini Ariel hanya diam dan kemudian mengangguk-kan kepala-nya.
setelah itu ia pun langsung berjalan keluar dari kelas itu.
lalu Madika pun segera mengikuti-nya dari belakang.
kedua-nya kini berjalan menaiki tangga.
"seperti-nya dia mau mengajak-ku ke atas." batin Madika menebak.
Setelah terus berjalan dan menaiki setiap tangga, kini kedua-nya tiba di atap gedung akademi itu.
angin di atas gedung itu berhembus cukup kencang.
rambut panjang Ariel yang terurai itu tampak di terbangkan oleh angin.
Ariel yang merasa rambut-nya akan berantakan karena hembusan angin kini langsung mengikat rambut-nya.
Madika yang melihat penampilan baru Ariel dengan rambut terikat kini tampak sedikit terkagum dengan kecantikan Ariel.
mata-nya seolah tak bisa lepas dari wajah Ariel yang membuat diri-nya terpikat.
__ADS_1
Madika kemudian menggelengkan kepala-nya untuk menyadarkan diri dari hipnotis alami itu.
"apa kau ingin membicarakan sesuatu sampai membawa-ku ke tempat sunyi ini?" tanya Madika.
Ariel tidak langsung menjawab.
ia menengadah ke langit sambil meneduhkan mata-nya dari sinar matahari.
"di sini cukup panas, ayo berteduh terlebih dahulu." ucap Ariel yang kemudian berjalan ke salah satu tempat berteduh di atas gedung itu.
Ariel kemudian duduk di sebuah bangku yang memang ada di tempat yang mempunyai atap untuk berteduh itu.
tempat itu memang sengaja di buat untuk orang-orang yang suka menikmati suasana ketinggian sambil melihat-lihat sekeliling kita dari ketinggian gedung.
"ayo duduk di sini." ucap Ariel sambil menepuk bangku di sebelah-nya.
"baiklah." ucap Madika singkat dan langsung menghampiri Ariel.
ia kemudian duduk di samping Ariel tanpa berkata-kata.
Ariel kini membuka ruang penyimpanan milik-nya.
ia mengambil dua bekal makan siang dari dalam ruang penyimpanan itu.
"ini untuk-mu, aku sengaja membuat dua hari ini." ucap Ariel sambil menyodorkan satu bekal menggunakan kedua tangan-nya seraya memalingkan pandangan-nya dari Madika dengan ekspresi malu-malu.
Madika pun tersenyum manis melihat tingkah Ariel saat ini. ia kemudian langsung meraih kotak bekal itu sambil menyentuh kedua tangan Ariel yang masih memegang bekal itu.
Ariel yang merasakan sentuhan tangan Madika di kedua tangan-nya kini sedikit tersentak, dan wajah-nya sedikit memerah.
"apa ini masakan yang kau buat sendiri?" tanya Madika yang kemudian membawa kotak bekal itu ke hadapan-nya dan meluruskan posisi duduk-nya.
"uhm...." Ariel hanya bisa mengangguk sambil menatap kotak bekal di tangan Madika.
Ariel tampak tidak berani menatap Madika secara langsung. bukan karena takut, hanya saja entah mengapa perasaan-nya tiba-tiba gugup dan dan jika menatap Madika mungkin dia akan jadi salah tingkah. ia berusaha agar hal itu tidak terjadi saat ia di depan Madika.
Kemudian Madika pun membuka bekal yang di siapkan oleh Ariel.
"baiklah, aku akan mencoba-nya." ucap Madika sambil menyendok bekal itu.
Madika pun mulai memakan bekal itu mulai dari nasi, sayur, hingga lauk-nya.
Sementara itu, Ariel yang melihat Madika yang sedang memakan semua itu tampak penasaran kira-kira seperti apa pendapat Madika tentang masakan buatan-nya.
Madika pun menoleh ke arah Ariel sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"masakan-mu enak, kau tidak perlu khawatir dengan pendapat-ku." ucap Madika sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Madika itu, kini Ariel merasa puas.
entah kenapa perasaan gugup itu perlahan menghilang saat Madika mengatakan bahwa masakan buatan-nya itu enak.
ia kini merasa senang dan dengan segera ia meraih satu kotak bekal yang sama dengan kotak bekal yang ia berikan pada Madika.
lalu ia pun membuka kotak bekal itu, dan dengan ekspresi bahagia-nya ia pun langsung menyendok dan memakan bekal buatan-nya itu.
namun wajah bahagia-nya mendadak berubah.
ia terdiam dan langsung berhenti mengunyah makanan yang saat ini sudah ada di dalam mulut-nya.
"ini sangat asin!" batin Ariel yang tiba-tiba terkejut dengan rasa masakan-nya yang ternyata sangat asin itu.
hari ini Ariel sedikit terburu-buru karena terlambat.
hal itu pun membuat-nya tak sempat mencicipi masakan buatan-nya itu.
kini Ariel langsung merasa sedikit tidak enak pada Madika.
ia bahkan langsung terdiam dan tidak tahu harus pasang ekspresi seperti apa untuk menanggapi makanan buatan-nya sendiri.
"kenapa dia membohongi-ku?..... ini jelas-jelas tidak enak!" batin Ariel yang terlihat menyesal karena telah menawarkan makanan yang tidak enak itu pada Madika.
entah mengapa ia merasa sedikit bersalah dan ia merasa bahwa Madika pasti berpikir bahwa diri-nya sama sekali tak bisa memasak.
hal itu pun membuat Ariel seketika menjadi sedih.
Namun tiba-tiba Ariel merasakan sentuhan lembut di kepala-nya.
ia kemudian menoleh ke arah Madika.
ternyata saat ini Madika sedang mengelus kepala Ariel sambil melemparkan senyum manis-nya pada Ariel.
"jika kau baru belajar memasak, maka hal seperti ini bukan-lah masalah.... yang salah itu adalah ketika kau patah semangat hanya karena hal seperti ini." ucap Madika menghibur Ariel.
"tapi itu....." Ariel tak bisa melanjut-kan perkataan-nya. ia kini tidak tahu harus mengatakan apa pada Madika.
diri-nya telah kehabisan kata-kata.
"tidak perlu sungkan seperti itu." ucap Madika sambil menepuk bahu Ariel. "lagi pula sayang sekali jika bekal ini tidak di makan, padahal kau kan sudah berusaha membuat-nya, jadi aku tak mau jika usaha-mu malah di sia-siakan." ucap Madika sambil memakan kembali bekal itu. "tidak ada yang bisa langsung menjadi yang terbaik di dunia ini, semua orang pasti pernah mengalami kesalahan terlebih dahulu sebelum berhasil melakukan sesuatu dengan sempurna." ucap Madika setelah menelan makanan-nya.
Mendengar hal itu, Ariel pun kini hanya bisa mengangguk. lalu ia juga ikut makan bekal itu.
__ADS_1