Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Mengetahui Kebenaran Masa Lalu


__ADS_3

Saat ini Madika dan seorang pelayan tampak berdiri di depan sebuah pintu yang sangat besar.


lalu di pelayan mempersilahkan Madika untuk masuk ke ruangan itu dan menemui tuan Samon.


Madika pun membuka pintu ruangan itu.


ia kemudian masuk ke dalam ruangan itu. ia menutup kembali pintu. setelah itu ia langsung membalik-kan badan-nya dan tampak di ruangan itu tuan Samon sedang duduk di kursi khusus-nya, yakni kursi yang berhiaskan emas di seluruh badan kursi.


Sementara itu, di depan tuan Samon terdapat sebuah meja dan beberapa kursi yang mengelilingi-nya.


Sementara itu, tuan Samon yang saat ini melihat kedatangan Madika kini langsung berdiri dengan santai-nya.


"akhir-nya kau datang juga, Madika Rosompodapala..... tidak, mungkin harus ku panggil mantan putra mahkota kerajaan Tambolo." ucap tuan Samon yang tampak basa-basi langsung membahas tentang identitas Madika.


"apa maksud ucapan anda?" ucap Madika yang berputar-putar tidak tahu karena saat ini diri-nya memang harus menyembunyikan identitas asli-nya dari semua orang.


"tidak perlu berpura-pura bod0h seperti itu.... aku tahu itu kau.... kau tidak akan bisa mengelak setelah aku merasakan aura Saga yang sangat mirip dengan ayah-mu." ucap tuan Samon sambil berjalan mendekati Madika.


Madika yang mendengar pernyataan itu pun kini hanya bisa tersenyum tipis.


"seperti-nya aku sama sekali tak bisa menipu anda tuan Samon.... atau mungkin lebih baik ku panggil kakek Sam?" ucap Madika membalas cara bicara tuan Samon sebelum-nya.


Mendengar ucapan Madika yang kini mengakui identitas-nya, tuan Samon pun langsung tertawa terbahak-bahak dan langsung menepuk bahu Madika.


"hahahaha.... tidak ku sangka akhir-nya bisa melihat-mu lagi!" ucap tuan Samon yang tampak bahagia.

__ADS_1


"ku pikir kau benar-benar sudah mati dalam kecelakaan yang menimpa keluarga-mu.... tapi syukurlah kau ternyata baik-baik saja." ucap tuan Samon.


"kakek Sam, mengenai kecelakaan itu...." Madika menggantungkan perkataan-nya karena saat ini ia ingin membicarakan tentang masalah dalam keluarga kerajaan-nya, akan tetapi ia masih ragu untuk menjelaskan karena itu masih berkaitan dengan diri-nya yang saat ini telah bereinkarnasi.


"tidak perlu menjelaskan apa-apa." ucap tuan Samon sambil menepuk bahu Madika dengan pelan seraya menunjuk-kan ekspresi yang mengatakan bahwa ia memahami situasi Madika saat ini.


"sebenar-nya beberapa waktu sebelum mengadakan pertandingan untuk mencari sosok yang akan di jadikan pengawal pribadi Natalia, aku sudah mengetahui tentang diri-mu.... bahkan pertandingan ini pun sebenar-nya ku buat karena diri-mu..... aku ingin kau menjadi pengawal pribadi cucu-ku.... selain itu, aku juga ingin kau kembali memiliki hubungan baik dengan kekaisaran, sama seperti yang ayah-mu lakukan dulu." ucap tuan Samon dengan suara yang penuh harap.


"sejujur-nya aku tidak ingin menolak permintaan kakek Sam, hanya saja, jika aku melakukan-nya, maka tidak menutup kemungkinan keberadaan-ku akan ketahuan, dan akhir-nya aku akan di buru oleh paman-ku." batin Madika.


Saat ini Madika sedang memikirkan situasi-nya sendiri.


ia tampak berusaha berpikir. hingga akhir-nya tuan Samon langsung menepuk bahu-nya dan membuat ia tersentak.


"kau tidak perlu khawatir, sejujur-nya dari tindakan-mu saat ini aku yakin kau pasti punya masalah dengan paman-mu yang memerintah saat ini, yakni raja Kiono." ucap tuan Samon.


"itu karena kau mengubah penampilan wajah-mu.... dari hal ini aku menyimpulkan bahwa kau sedang berusaha menghindari mereka.... dan berdasarkan firasat-ku saat ini, alasan kau menghindari mereka itu ada hubungan-nya dengan kematian kedua orangtua-mu..... sejujur-nya aku juga masih menyimpan rasa curiga mengenai kematian ayah dan ibu-mu.... namun setiap kali aku menyelidiki-nya, aku sama sekali tak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan yang berkaitan dengan kematian mereka." ucap tuan Samon panjang lebar.


Mendengar penjelasan tuan Samon itu, kini Madika sedikit melebarkan mata-nya karena tidak menyangka kalau tuan Samon bisa mengira-ngira apa yang sedang terjadi pada Madika saat ini.


"kakek Sam, aku ingin membuka sebuah rahasia tentang kematian kedua orangtua-ku." ucap.madika yang kini langsung menatap tuan Samon dengan ekspresi serius.


Madika kini sudah membulat-kan tekad-nya untuk memberitahu tentang kematian orangtua-nya pada Madika.


"sejujur-nya sebelum-nya aku ragu mengatakan hal ini pada kakek karena sejak dulu kakek sangat baik pada ayah-ku, tapi saat ini ayah-ku telah tak ada, jadi ku pikir kakek tidak akan memperhatikan-ku lagi.... tapi karena saat ini kakek masih menaruh perhatian pada-ku, maka aku akan memberitahu-kan tentang kematian ayah-ku pada kakek." ucap Madika menjelaskan isi pikiran-nya tentang tuan Samon.

__ADS_1


Sementara itu, tuan Samon yang mendengar ucapan Madika kini hanya bisa menatap Madika dengan ekspresi berbelas kasihan karena diri-nya tidak menyangka kalau Madika saat ini merasa sedikit segan pada diri-nya hanya karena ayah-nya telah tiada.


"Madika, kau tak boleh berpikir seperti itu, biar bagaimana-pun, ayah-mu itu sudah ku anggap sebagai anak-ku sendiri, itu arti-nya kau juga sudah ku anggap sebagai salah satu cucu-ku.... jadi mulai sekarang kau tak perlu segan dengan-ku." ucap tuan Samon.


Madika yang mendengar hal itu kini hanya bisa mengangguk pelan.


"kakek, mengenai kematian ayah dan ibu-ku.... sebenar-nya mereka di bunuh oleh paman Kiono, bukan karena kecelakaan!" ucap Madika secara tiba-tiba dan membuat tuan Samon sedikit tersentak mendengar hal itu.


"Kiono?!.... jadi begitu rupa-nya!.... ternyata selama ini firasat-ku memang benar!" ucap tuan Samon yang tiba-tiba terlihat emosi sampai-sampai aura membunuh-nya lepas kendali dan merembes keluar dari tubuh-nya.


Madika yang merasakan aura itu kini langsung merinding. bukan hanya itu saja, aura membunuh yang sangat kuat itu membuat tubuh Madika seolah di tekan oleh sebuah gravitasi yang sangat kuat.


Bukan hanya Madika saja yang merasakan efek dari aura membunuh itu. aura itu juga memberi efek pada beberapa gelas kaca di atas meja itu dan membuat gelas itu hancur berkeping-keping.


bahkan beberapa pot bunga di sekitar ruangan itu juga ikut hancur.


"kakek..... kendalikan diri-mu." ucap Madika sambil berusaha menahan tekanan aura membunuh tuan Samon.


Mendengar suara Madika yang berusaha menenangkan diri-nya, tuan Samon pun langsung tersadar bahwa saat ini aura membunuh-nya lepas kendali.


lalu tuan Samon pun segera menarik kembali aura membunuh-nya itu.


"aura membunuh yang di hasilkan oleh energi Saga kakek Sam benar-benar sangat kuat!.... aku belum pernah melihat ia semarah ini sebelum-nya!" batin Madika.


Sementara itu, tuan Samon kini langsung memegang tangan Madika yang saat ini hampir jatuh.

__ADS_1


"maaf, aku tidak sadar saat aura membunuh-ku lepas kendali." ucap tuan Samon sambil membantu Madika untuk berdiri dengan tegak.


__ADS_2