Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Kemarahan Madika (2)


__ADS_3

Saat ini, madia yang di penuhi dengan emosi pun telah memutus-kan untuk menghabisi para Niverom itu seorang diri tanpa bantuan dari Askila atau-pun mengguna-kan benda pusaka.


namun kali ini Madika memutus-kan untuk melepas-kan segel milik-nya.


lagi pula saat ini Madika juga sudah memberitahu Askila untuk membuat perisai yang bisa menghalangi kemampuan pendeteksian dari orang-orang yang ada di dalam perisai itu.


Kini Madika langsung membuka segel tingkat legendaris milik-nya.


saat segel itu terbuka, seketika tubuh Madika di kelilingi oleh luapan energi Saga yang sangat banyak.


tidak hanya itu saja, bahkan kini angin di seluruh hutan itu langsung berhembus kencang.


badai angin yang menakut-kan pun langsung tercipta dalam waktu yang hanya sekejap.


Para Niverom yang melihat hal itu makin terkejut.


bulu kuduk mereka pun langsung berdiri. rasa takut langsung memuncak begitu saja.


hal itu di sebab-kan oleh tingkatan Madika yang tiba-tiba langsung naik ke tingkat legendaris.


Seketika para Niverom yang mengetahui hal itu langsung ketakutan setengah mati.


"ba.... bagaimana bisa ini terjadi?!"


"siapa sebenar-nya anak ini?"


"bagaimana mungkin bocah ini berada di tingkat legendaris?"


Kini berbagai pertanyaan muncul di benak para Niverom.


mereka seketika terlihat seperti orang yang putus asa.


"mana bisa kita mengalah-kan bocah ini!" pikir mereka.


Sementara itu, Natalia dan kawan-kawan yang melihat kejadian itu kini hanya bisa menatap Madika dengan ekspresi terkejut dan mulut yang menganga.


banyak pertanyaan timbul di pikiran mereka, apa yang sebenar-nya terjadi? mengapa energi Madika tampak begitu banyak dan jumlah-nya seperti tidak terbatas.


di tambah lagi kejadian di mana badai angin yang begitu dahsyat kini menghantam tempat itu dan mengobrak-abrik segala yang ada di sekitar-nya.


Di sisi lain, para Niverom yang sudah mengetahui tingkatan Madika yang kini berada di tingkat legendaris tentu-nya langsung paham situasi.

__ADS_1


mereka tahu bahwa mereka tak akan bisa menang melawan Madika.


"ayo kabur dari sini!" ucap Niverom tingkat Aono memerintah seluruh Niverom lain-nya.


Mendengar hal itu, kini para Niverom langsung mematuhi ucapan Niverom tingkat Aono itu.


kini mereka semua pun berniat untuk kabur.


namun, baru saja mereka memutar tubuh dan hendak melompat, tiba-tiba tubuh mereka terasa sangat berat dan mereka pun langsung kesulitan untuk bergerak.


perlahan tubuh mereka membungkuk dan ada pula yang langsung jatuh ke tanah.


Sementara itu, tanah di sekitar para Niverom itu langsung turun hingga dua meter dalam-nya dengan panjang diameter lingkaran-nya hingga empat meter.


Para Niverom saat ini di tekan mengguna-kan aura Saga tingkat legendaris milik Madika.


kini para Niverom pun tak bisa bergerak lagi dan kini mereka semua langsung tergeletak di atas tanah dengan keadaan yang masih di tekan oleh aura Madika.


Madika pun mulai berjalan perlahan mendekati para Niverom itu sambil terus memperkuat tekanan aura milik-nya dan membuat para Niverom itu langsung menjerit kesakitan.


tampak dari mata, hidung, serta mulut para Niverom langsung mengeluar-kan darah yang cukup banyak.


seketika itu juga tangan Niverom itu langsung terputar dan membuat tulang lengan-nya putus namun tangan-nya masih tersambung oleh kulit dan daging.


hal itu pun membuat si Niverom itu langsung berteriak kesakitan dan membuat suara-nya makin keras.


Semakin keras para Niverom itu menjerit, Madika pun semakin keras memberi-kan serangan yang sama.


ia membuat tulang tangan dan tulang kaki para Niverom itu patah tanpa membuat-nya putus dari kulit dan daging.


ia menyiksa para Niverom itu dan ia juga menembak-kan peluru angin hingga menembus tangan dan kaki para Niverom itu.


ia melukai para Niverom itu namun tidak langsung membunuh-nya.


Namun itu semua tidak bisa berlangsung lama karena kini efek dari energi Saga tingkat legendaris membuat tubuh Madika terbebani.


dari mata Madika perlahan mengalir darah, begitu pula dari mulut dan hidung.


Namum Madika tidak mau berhenti begitu saja, ia terus melanjut-kan penyiksaan terhadap para Niverom meski-pun itu juga akan membuat diri-nya sendiri harus menerima rasa sakit akibat dari kekuatan-nya sendiri.


meski-pun menyadari hal itu, ia tetap memaksa-kan diri untuk terus mengguna-kan kekuatan tingkat legendaris itu.

__ADS_1


Sementara itu, Natalia yang melihat keadaan Madika saat ini tampak sedikit mengerti. dari keadaan Madika saat ini, Natalia langsung memiliki firasat buruk terhadap kekuatan Madika.


"Madika!.... hentikan sekarang juga!.... jangan melukai diri-mu sendiri!" teriak Natalia yang terlihat semakin khawatir dengan keadaan Madika.


Namun Madika tidak mau mendengar-kan hal itu, ia terus melancar-kan serangan pada Niverom itu.


Madika terus menyiksa para Niverom.


Madika mengibas-kan tangan-nya ke samping dan seketika para Niverom tampak bergerak memutar tubuh secara paksa dan mereka semua pun langsung memutar tubuh mereka sehingga kini mereka semua menghadap ke langit.


Setelah itu Madika pun langsung mengangkat tangan-nya di udara, tak lama setelah itu kini di atas kepala Madika muncul ribuan jarum yang panjang-nya mencapai 20 cm kini melayang di atas Madika.


Sesudah itu Madika pun langsung menurun-kan tangan-nya dan mengibas-kan tangan-nya ke arah para Niverom itu.


seketika ribuan jarum itu langsung melesat ke arah para Niverom itu dan langsung menusuk seluruh tubuh Niverom itu hingga menembus tanah.


Tangan dan kaki Niverom kini tertancap jarum angin yang melekat di tanah.


darah para Niverom bermuncratan keluar dari tubuh mereka, di tambah tekanan aura Madika yang masih belum menghilang kini membuat para Niverom semakin tersiksa.


bahkan untuk bernafas saja para Niverom harus berusaha sekuat tenaga agar tetap bisa menarik nafas.


Para siswa yang melihat aksi Madika yang kini menyiksa para Niverom habis-habisan kini tampak terkejut dengan ekspresi tidak percaya.


mereka semua kini menatap Madika dengan sedikit rasa takut.


mereka tidak menyangka Madika bisa bertindak semengeri-kan itu saat ia sedang marah besar.


Penyiksaan Madika tidak cukup sampai di situ saja.


para Niverom yang saat ini tampak terbaring terlentang menghadap ke langit kini semakin ketakutan.


terutama Niverom tingkat Aono yang kini sedang di datangi oleh Madika.


Madika berjalan perlahan mendekati Niverom tingkat Aono itu.


si Niverom yang bisa merasa-kan Madika yang sedang berjalan ke arah-nya kini hanya bisa perlahan memutar kepala-nya dan menatap Madika dengan rasa takut.


Saat Madika tiba di hadapan Niverom itu, kini Niverom itu pun langsung memohon kepada Madika agar Madika tidak lagi menyiksa-nya.


ia kini memilih untuk segera di bunuh saja ketimbang harus mengalami penyiksaan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2