
Saat ini Madika sedang berjalan di salah satu tempat yang cukup ramai di kota itu.
tujuan Madika saat ini adalah mendeteksi keberadaan pecahan tongkat kaisar rotan api yang ada di kota itu.
"sejak masuk ke tempat ini aku merasa-kan keberadaan salah satu pecahan tongkat kaisar rotan api." ucap Madika sambil terus berjalan dan memperhati-kan sekitar-nya.
Saat ini di jalanan yang di lalui oleh Madika tampak cukup banyak orang yang berlalu-lalang.
beberapa dari mereka mengguna-kan kendaraan yang di operasi-kan mengguna-kan Saga, dan ada pula beberapa yang tampak sedang menunggu kendaraan umum yang di operasi-kan mengguna-kan Saga yang tersimpan di alat penampung Saga.
Setelah beberapa lama Madika berjalan, kini ia tiba di salah satu tempat penjualan senjata energi yang terkenal di kota Kayau itu.
pasal-nya tempat itu masih memiliki hubungan dengan perusahaan Elang Hitam.
Tempat itu memiliki bangunan yang sangat besar, dan tampak di dalam gedung itu banyak orang-orang dari kalangan atas yang sedang berlalu lalang mencari senjata-senjata yang mereka butuh-kan.
"aku merasa-kan keberadaan salah satu pecahan tongkat kaisar rotan api itu ada di sini." batin Madika. "sebaik-nya langsung ku cari saja."
Madika pun langsung berjalan masuk ke dalam gedung itu.
Meski-pun di dalam gedung itu di penuhi oleh orang-orang berada dan di depan pintu masuk ada dua penjaga, namun dua penjaga itu tampak diam saja dan membiar-kan Madika masuk.
Madika yang melihat hal itu sedikit mengkerut-kan alis-nya.
awal-nya ia berpikir mungkin saja dia penjaga itu akan mempersulit diri-nya, namun ternyata dua penjaga itu malah tenang-tenang saja dan membiar-kan Madika masuk.
Saat Madika sudah masuk ke dalam gedung itu, kini Madika tampak sedikit terpesona dengan penataan ruangan yang ada di tempat itu.
Tempat itu sangat luas, bersih dan di tata rapi.
selai itu, tempat itu juga di beri beberapa aksesoris mahal untuk menambah keindahan ruangan itu.
Selain ruangan lantai satu yang luas, Madika juga kini bisa melihat ada sebuah tangga menuju ke lantai dua, dan mungkin bukan hanya lantai dua saja. mungkin saja di saat sana masih ada lantai selanjut-nya.
Madika pun langsung berjalan memasuki tempat itu sambil melihat-lihat ke sekeliling-nya.
__ADS_1
Di sisi lain, Madika yang tampak celingak-celinguk itu kini menjadi perhatian salah seorang pria kaya yang sombong.
Pria itu menatap Madika dengan tatapan yang tidak enak di pandang.
ia merasa Madika pasti baru kali ini datang ke tempat ini. ia bahkan juga berpikir kalau Madika pasti berasal dari kalangan bawah karena pakaian yang di kenakan Madika saat ini memiliki kesan yang tampak biasa-biasa saja.
"hei, lihat orang kampungan itu!" ucap pria itu sambil menatap sinis ke arah Madika. "mau apa dia di tempat ini?... apa dia pikir dia bisa membeli sesuatu di sini?" ucap pria itu dengan nada merendah-kan Madika.
Sontak seluruh teman-teman pria itu langsung menertawai Madika yang saat ini lewat di depan mereka.
Madika pun tentu tidak tuli.
ia bisa mendengar semua ucapan pria itu karena pria itu memang sengaja mengeras-kan suara-nya agar Madika mendengar ejekan-nya.
Namun Madika hanya diam saja.
ia memilih untuk tidak membuat keributan dengan orang-orang seperti pria itu karena itu tidak akan ada guna-nya.
"hanya buang-buang waktu saja jika aku mengurusi orang seperti itu." pikir Madika yang terus berjalan dan mengabai-kan pria itu serta para kawan-nya yang sedang menertawai Madika.
hal itu-lah yang membuat banyak orang-orang dari kalangan bawah jarang mengunjungi tempat ini.
Sementara itu, saat Madika kini tiba di depan tangga menuju lantai dua, ia berhenti sejenak.
"seperti-nya di bawah sini tidak ada." ucap Madika sambil mengedar-kan pandangan-nya.
"mungkin saja pecahan tongkat itu ada di atas sana." batin Madika sambil melihat ke atas.
Lalu Madika pun kini langsung berjalan ke lantai dua.
setiba-nya di lantai dua, Madika pun melihat tempat itu juga ramai.
Di tempat itu terdapat begitu banyak senjata energi, dan rata-rata semua senjata itu berada di tingkat enam dan tujuh.
Madika yang melihat hal itu jadi sedikit terpukau.
__ADS_1
namun saat melihat harga yang terpasang di sana, ia pun malah langsung kehilangan selera karena senjata energi itu di jual dengan harga yang sangat mahal.
Setelah itu Madika pun mulai berkeliling di lantai dua itu sambil melihat-lihat senjata energi yang ada.
Setiap kali Madika bertemu dengan orang-orang di tempat itu, tampak orang-orang itu menatap Madika dengan tatapan sinis dan merendah-kan.
"tchi!..... kenapa ada orang tak tau diri di tempat ini?"
"harus-nya bocah itu sadar diri sedikit! memang-nya dia bisa beli apa di sini?"
"tchi.... apa bocah bod0h itu tidak tahu tempat ini ya.... seharus-nya dia berhenti di lantai pertama saja!.... memang-nya dia pikir dia bisa membeli sesuatu di lantai ini?"
"yang di lantai satu saja pasti sudah tidak bisa, apa lagi di sini?"
Berbagai ocehan keluar dari mulut para pengunjung kelas atas.
mereka semua tampak tidak menyukai keberadaan Madika di lantai dua itu.
mereka semua yang melihat Madika dari penampilan-nya saja kini terus merendah-kan Madika serta mencibir-nya dari belakang.
Namun tetap seperti sebelum-nya, Madika tetap bisa mendengar-kan cibiran mereka semua. namun Madika tetap berusaha tenang dan tidak mau berurusan dengan mereka.
"dasar orang-orang bod0h.... tidak tahu saja mereka kalau aku ini punya banyak emas di dalam gua yang di jaga oleh Bunggu." batin Madika sambil tersenyum simpul.
Setelah Madika berkeliling cukup lama, kini Madika pun memutus-kan untuk naik ke lantai tiga karena ia tidak menemu-kan pecahan tongkat itu di lantai dua ini.
Saat Madika hendak menaiki anak tangga ke lantai tiga, tiba-tiba pundak Madika di remas oleh seseorang dari belakang.
"hoi.... mau ke mana kau hah?" tanya pria yang sebelum-nya mencibir Madika saat berada di lantai satu tadi.
Pria itu beserta enam teman-nya tampak sengaja mengikuti Madika hingga ke lantai dua.
mereka bertujuh memang sudah cukup di terkenal karena sifat mereka yang paling angkuh di tempat itu.
mereka bertujuh adalah orang yang paling tidak terima dengan keberadaan orang-orang kalangan bawah di tempat tersebut.
__ADS_1
Kalau memang boleh, maka mereka bertujuh pasti hanya akan membiar-kan orang itu berada di lantai satu, dan jika mereka naik ke lantai dua, tentu saja mereka akan langsung mengusik orang itu hingga mental orang itu jatuh di hadapan mereka.