Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Target Pertama


__ADS_3

Setelah memberitahukan konsekuensi trik itu, kini Madika memberi mereka bertiga kesempatan untuk berpikir dan memutuskan apakah trik itu harus mereka terapkan atau tidak.


Setelah beberapa saat kemudian, kini mereka bertiga membuat keputusan dan memilih untuk menggunakan trik yang di jelaskan oleh Madika itu.


"baiklah, jika kalian setuju maka sekarang kita akan menerapkan trik ini.... tapi sebelum itu kita harus mencari tempat strategis untuk bersembunyi sambil memata-matai siswa lain yang akan datang ke tempat ini.


Niko mengangkat tangan-nya.


"ehm.... jika begitu apa tidak masalah kalau kita menyisir sungai ini?.... siapa tahu di ada tempat yang paling cocok." ucap Niko menyarankan.


"ya.... itu tidak perlu, karena aku sudah menemukan tempat yang cocok..... selain itu, kita juga harus sering berpatroli di sekitar sini agar bisa menemukan siswa lain-nya." jelas Madika.


Tak lama setelah itu, Nina kini mengangkat tangan-nya karena ada yang ia ingin tanya-kan.


"aku ingin tanya, berapa persen kemungkinan kita bisa mendapatkan mangsa di sini?" tanya Nina.


"aku juga se-pikir dengan Nina.... kau tahu kan, jumlah siswa yang berpartisipasi saat ini hanya sedikit, berbeda dengan saat ujian masuk.... di tambah lagi hutan ini luas, dan tentu-nya bisa di pastikan masih banyak sumber air yang bisa di dapati siswa lain-nya di tempat yang berbeda." jelas Fany.


Mendengar pendapat ketiga anggota kelompok-nya itu, kini Madika mulai mempertimbangkan strategi-nya.


"kalian benar, tapi tujuan kita saat ini bukanlah bertarung habis-habisan, inti-nya saat ini kita mulai berkeliling terlebih dahulu di sekitar sini. setelah itu, jika malam sudah tiba, kita akan kembali ke tempat ini dan memulai misi penyergapan di malam hari.... saat sudah pagi, barulah kita mencari kelompok lain-nya dan mulai bertarung habis-habisan." jelas Madika.


"ehmm.... baiklah kalau begitu.... kita coba terapkan rencana-mu ini." ujar Niko menyetujui.


"baiklah, kalau begitu ayo kita berkeliling di sekitar tempat ini.... jangan lupa untuk mengaktifkan teknik pendeteksian kalian." ucap Madika memberi instruksi.


Setelah itu kini mereka berempat langsung bergerak secara bersamaan. mereka melompat dari satu pohon ke pohon lain-nya sambil melakukan pendeteksian.


Setelah cukup lama mereka bergerak, kini Madika berhasil mendeteksi keberadaan kelompok lain di jarak kurang lebih dua kilometer.


Madika langsung berhenti bergerak. ia hinggap di salah satu dahan pohon. ketiga anggota kelompok-nya juga ikut berhenti.


"apa kalian juga merasakan-nya?" tanya Madika sambil menoleh ke belakang tepat ke arah ketiga anggota kelompok-nya.


Mereka bertiga langsung mengangguk bersamaan seolah di beri aba-aba.

__ADS_1


"seperti-nya di sana ada dua kelompok.... mereka pasti sedang bertarung sekarang." ucap Madika menerka.


"apa kita harus ke sana?" tanya Nina memastikan.


"tentu saja..... lagi pula tujuan kita kan menyerang saat musuh sedang kelelahan." balas Fany dengan cepat menyela ucapan Nina.


"ya Fany benar! ayo kita ke sana!" ucap Madika yang kini langsung melesat ke arah kelompok yang sedang bertarung itu.


Melihat Madika yang langsung melesat ke sana, kini mereka bertiga pun langsung mengikuti Madika dari belakang.


Kini mereka sudah berada di jarak kurang lebih satu kilometer dari dua kelompok yang sedang bertarung itu.


Madika langsung berhenti.


ia segera mendarat ke tanah. ketiga anggota kelompok-nya ikut mendarat ke tanah.


"ada apa?" tanya Fany.


"mulai dari sini kita akan menggunakan trik yang ku bicarakan sebelum-nya agar keberadaan kita tidak di sadari oleh mereka." jawab Madika.


Kini mereka berempat langsung menghentikan peredaran Saga di dalam tubuh mereka. awal-nya Fany, Nina, dan Niko kesulitan untuk melakukan-nya. namun ketika melakukan beberapa percobaan kini mereka berhasil melakukan-nya.


"baiklah, apa kalian sudah siap?" tanya Madika memastikan.


lalu ketiga anggota kelompok-nya itu langsung mengangguk tanpa berkata-kata.


Setelah itu mereka berempat pun langsung beranjak dari tempat itu dan segera mendatangi tempat pertarungan itu.


Setelah cukup lama mereka berlari, kini mereka tiba di tempat pertarungan kelompok lain itu.


saat ini mereka berempat berada di atas tebing. sementara dua kelompok yang bertarung itu berada di bawah mereka.


Saat Madika sedang melihat-lihat sekeliling tempat itu untuk memastikan situasi pertarungan, kini tiga anggota kelompok-nya tiba dan berdiri di belakang-nya sambil ngos-ngosan.


"kau cepat sekali!" ucap Niko yang saat ini sedang membungkuk-kan tubuh-nya sambil terengah-engah.

__ADS_1


"ya.... benar! aku tak bisa mengejar-mu jika terus seperti ini." sela Nina yang saat ini juga terlihat terengah-engah.


"seperti-nya kau sudah terbiasa berlari tanpa mengandalkan Saga.... kau terlihat sama sekali tidak kelelahan." ucap Fany sambil ngos-ngosan sambil menepuk bahu Madika.


"atur pernapasan kalian dengan benar, dengan begitu kalian bisa bertahan lebih lama lagi saat berlari tanpa menggunakan Saga." jelas Madika yang tampak mengabaikan kodisi teman-nya dan malah serius memperhatikan pertarungan yang terjadi.


Di balik semak-semak yang ada di atas tebing itu Madika terus memperhatikan pertarungan dua kelompok itu.


salah satu kelompok yang bertarung itu sudah kehilangan satu anggota-nya, sementara satu-nya lagi sudah kehilangan dua anggota.


tampak dua kelompok itu beradu teknik Saga mereka.


beberapa dari mereka juga saling beradu teknik senjata.


berbagai jurus di lancarkan. banyak tanah yang hancur. pepohonan di sekitar juga tampak tumbang dan terbakar.


sisa-sisa debu masih beterbangan. dan kepulan asap menyelimuti tempat itu.


Ketika Fany mulai mengintip pertarungan dua kelompok itu dari balik semak-semak. Fany pun langsung terkejut dan dengan refleks ia mundur selangkah ke belakang seolah sedang melihat sesuatu yang menakutkan.


"ada apa Fany?" tanya Nina yang melihat Fany yang tiba-tiba terkejut.


"salah satu orang di kelompok itu sangatlah berbahaya!" ujar Fany sambil menoleh ke arah Nina. "dia adalah orang yang terkuat di kelas petir.... nama-nya Rega Akila.... dia adalah salah satu siswa yang di akui selain Natalia." jelas Fany.


Mendengar penjelasan Fany, Madika pun langsung menoleh ke arah Fany.


"apa kau takut berhadapan dengan-nya?" tanya Madika dengan ekspresi serius.


Fany yang mendapati pertanyaan itu hanya diam, karena memang benar diri-nya ragu bahkan takut berhadapan dengan Rega.


"Madika, apa sebaik-nya kita urungkan niat kita untuk melawan mereka?... seperti yang di katakan Fany, orang itu memang di akui oleh akademi ini, bahkan aku juga sudah mendengar banyak kabar bahwa dia bisa imbang melawan Natalia." jelas Niko memberi saran.


"begitu ya.... jika kalian memang takut pada-nya...." Madika menggantungkan ucapan-nya. ia perlahan berdiri. lalu di cabut-nya pedang-nya dari sarung-nya. ia mengarahkan pedang-nya itu ke wajah Niko.


Niko terkejut. ekspresi wajah-nya langsung berubah dan terlihat waspada. ia menelan ludah-nya dengan kasar. ada rasa takut di benak-nya, dan keringat-nya mulai bercucuran. sesaat kemudian ia mengangkat tangan-nya seperti orang yang sedang menyerah.

__ADS_1


__ADS_2