
Meskipun saat ini Natalia sudah tak lagi bisa merasakan keberadaan Nina dan Madika melalui teknik pendeteksian milik-nya, tapi ia tetap tidak serta-merta mempercayai situasi itu. ia tidak percaya kalau Madika bisa kalah semudah itu.
Sementara itu, Mindo memiliki pemikiran berbeda. ia kini terlihat makin sombong dan senang karena merasa bahwa diri-nya sudah berhasil balas dendam dan mengalahkan Madika.
"rasakan itu sial@n!!.... hahahaha...... nanti akan ku tanyakan pada-mu bagaimana rasa-nya mati satu kali!" ucap Mindo sambil tertawa jahat.
note: meskipun menggunakan tubuh kedua yang di ciptakan oleh alat Polinjanyawa, bukan berarti dengan tubuh ke dua itu pengguna tak bisa merasakan sakit.
rasa sakit itu tetap di rasakan oleh pengguna meskipun menggunakan tubuh kedua. karena tubuh kedua yang saat ini di gunakan memiliki hakikat yang hampir sama dengan tubuh asli, sehingga rasa sakit bahkan kematian bisa terasa sangat nyata.
"Madika tidak akan mati semudah itu!" ucap Natalia secara tiba-tiba dengan suara yang tegas dan membuat Mindo langsung berhenti tertawa.
"hah?.... kenapa kau se-yakin itu?" tanya Mindo dengan ekspresi terusik.
Natalia hanya diam, ia tak menjawab pertanyaan Mindo.
sesaat kemudian tampak asap yang ada di tempat Madika dan Nina kini perlahan lenyap. mereka melihat kini Madika dan Nina tak ada di tempat itu.
lalu Natalia berjalan mendekati tempat itu dan saat dia berdiri di tempat itu ia tampak seperti sedang mencari sesuatu.
"disini tidak ada gantungan kunci yang tertinggal, itu arti-nya dia memang masih hidup!" ucap Natalia.
"yang benar saja!.... sejak kapan dia melarikan diri?!" ucap Mindo sambil mendekati Natalia.
"sudah ku bilang! kau terlalu meremehkan orang itu!!" bentak Natalia sambil berbalik dan langsung mencekik leher Mindo. "dari awal aku sudah memperingati-mu untuk bertarung serius jika bertemu pria itu!.... tapi kau malah tertawa tidak jelas seolah kau sudah menang!.... apa kau mau mati hah!?" bentak Natalia.
Mindo kesulitan bernafas, cekikan Natalia sangat kuat dan sulit untuk di lepaskan. ia memegang tangan Natalia dengan kedua tangan-nya dan berniat melepaskan tangan Natalia dengan paksa. namun tidak bisa karena perbedaan kekuatan yang mereka miliki.
"apa-apaan gadis ini?..... tenaga-nya sangat tidak masuk akal.... di balik wajah imut-nya tersimpan sisi monster yang mengerikan!!" batin Mindo yang berusaha lepas dari cengkeraman Natalia.
__ADS_1
Saat ini Mindo makin terdesak. ia ingin menyerang Natalia secara tiba-tiba. namun ia sadar pasti Natalia bisa menyadari serangan-nya dan di saat itu lah Natalia bisa saja langsung membunuh-nya.
hingga akhir-nya, Natalia pun kini melepaskan cekikikan-nya dengan sendiri-nya.
ia melepaskan cengkraman-nya dan Mindo pun langsung jatuh tergeletak di atas tanah sambil batuk-batuk dan berusaha mengatur pernapasan-nya.
"ayo pergi dari sini!.... mungkin saja kita masih bisa menemukan mereka." ucap Natalia sambil beranjak dari tempat itu tanpa menunggu tanggapan dari Mindo.
Mindo yang melihat hal itu kini langsung berdiri dan berjalan mengikuti Natalia dari belakang.
Saat ini Natalia berniat untuk mencari Madika dan Nina. ia yakin bahwa mereka pasti masih ada di sekitar tempat ini.
Di sisi lain. saat ini di sebuah semak-semak tinggi yang berada si sebuah batu besar tampak Nina dan Madika yang sedang bersembunyi dari Natalia dan Mindo.
dari balik semak-semak itu tampak Madika sedang mengintip situasi di luar. ia berusaha untuk memastikan bahwa tempat persembunyian mereka itu aman.
sementara Nina saat ini tengah berdiri di belakang Madika. terlihat ekspresi wajah Nina saat ini tampak murung. ia sedang memikirkan apa yang terjadi barusan. ia merasa tidak terima dengan perbuatan Madika yang seenak-nya mencium bibir-nya.
hingga akhir-nya ia tak tahan lagi dan mulai membuka mulut-nya untuk berbicara.
"hei.... bisakah kita bicara sebentar?" tanya Nina dengan suara lirih.
"apa yang ingin kau katakan?" tanya Madika dengan acuh dan tidak menoleh sedikit-pun.
"apa kau sadar apa yang kau lakukan pada-ku tadi?" tanya Nina dengan wajah yang tampak makin memerah.
"maksud-mu tentang ciuman tadi?" tanya Madika memastikan yang masih acuh.
Nina yang melihat Madika yang menjawab se-enteng itu kini mulai kesal. ia merasa bahwa Madika seperti meremehkan tindakan-nya yang mencium bibir-nya se-enak jidat.
__ADS_1
"ku tanyakan sekali lagi, apa kau sadar akan perbuatan-mu itu?" tanya Nina lagi.
"ya." jawab Madika singkat.
Mendengar jawaban itu, kini Nina sudah tidak tahan lagi. kekesalan-nya sudah meluap dan dengan cepat ia menarik Madika. lalu di pegang-nya kerah baju Madika menggunakan dua tangan-nya.
"kenapa kau meremehkan tindakan-mu itu!!? itu tadi ciuman pertama-ku dan kau sudah merebut-nya se-enak jidat!.... apa kau tidak merasa bersalah akan hal itu hah?!" bentak Nina dengan wajah yang memerah karena sebenar-nya ia sedikit malu mengungkit kejadian tadi.
"dasar bodoh.... yang ku cium itu tubuh kedua-mu, bukan tubuh asli-mu.... dengan kata lain itu tidak termasuk sebagai ciuman pertama, dan itu arti-nya aku sama sekali tidak merebut ciuman pertama-mu." jelas Madika dengan ekspresi malas.
"itu tidak benar!!..... meskipun ini cuma tubuh kedua, tapi tetap saja yang barusan itu adalah momen ciuman pertama! pengalaman pertama! harusnya kau mengerti hal itu!" bentak Nina lagi.
"hah....." Madika menghela nafas sambil memijat kepala-nya. "kau ini lebay sekali." ujar Madika yang masih mengabaikan perbuatan-nya.
"lebay kata-mu hah?!.... dasar breng$ek! kau sama sekali tak mengerti perasaan seorang wanita." ucap Nina memarahi Madika.
"maaf..... aku bukan wanita, jadi aku memang tidak mengerti." balas Madika.
"apa kat...." ucapan Nina terhenti.
Madika dengan cepat mendorong tubuh Nina hingga Nina bersandar pada batu. Madika menutup mulut Nina menggunakan tangan kanan-nya.
"aku minta maaf soal itu..... tapi bisakah untuk saat ini kau diam dulu?.... firasat-ku mengatakan bahwa mereka ada di sekitar sini." ucap Madika memberi tanda.
Meskipun merasa kesal, namun kali ini Nina tetap patuh pada perkataan Madika. kini ia diam dan berhenti merengek tentang masalah ciuman itu.
Setelah Nina diam, Madika pun melepaskan tangan-nya dari mulut Nina.
"aku benar-benar minta maaf.... tapi ku mohon, untuk saat ini tetaplah seperti biasa-nya.... aku janji, setelah latihan ini selesai, kau boleh memberi-ku hukuman.... apa-pun itu akan ku lakukan!" ucap Madika dengan ekspresi yang tampak serius dan tulus.
__ADS_1
Nina menatap Madika dengan serius. ia bisa merasakan bahwa Madika benar-benar tulus meminta maaf.
"uhmm...." gumam Nina sambil mengangguk sekali kemudian membuang pandangan-nya dari Madika.